
Setelah rombongan itu dipersilahkan masuk, semua tamu duduk di bawah karena memang rumah Nina tidak terlalu besar dan tidak mungkin muat. Lantai yang sudah di lapisi karpet permadani itu cukup membuat nyaman keluarga Al-gazali yang tidak mempermasalahkan kondisi tersebut.
Kedua keluarga itu berbincang-bincang dan membahas tanggal pernikahan yang ditentukan dua bulan dari sekarang. Pak Alkaf yang saat itu sebagai orang tua dari pihak laki-laki mengutarakan kedatanganya secara terbuka.
Pak Alkaf yang sebelumnya sudah meminta maaf kepada keluarga Pak Anwar atas ketidakhadiran putranya dikarenakan sebuah pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke luar negeri.
Dan semua itu bukanlah sebuah masalah bagi Pak Anwar. Acara inti yang menyematkan sebuah cincin kepada calon perempuan dilakukan oleh Bu Zainiyah sebagai wakil dari putranya yang berhambatan datang.
Kedua paruh baya itu sangat meminta maaf karena di dalam acara yang begitu penting anaknya tidak bisa hadir. Karena yang datang adalah keluarga inti dari Pak Alkaf maka mereka bisa memaklumi. Dan Pak Anwar yang memang tidak punya sanak-saudara itu pun memakluminya.
Acara itu berjalan dengan khidmat dan lancar. Semua tamu yang ikut hadir sudah dijamu dengan sedemikian rupa, setelah dirasa acaranya selesai, beberapa orang itu berpamitan pulang terlebih dahulu dan meninggalkan Pak Alkaf dan Bu Zainiyah di sana.
Nina yang saat ini duduk bersimpuh di atas permadani di temani oleh orang tuanya serta calon mertuanya itu dibuat kikuk dan canggung. Karena sebelumnya Nina merasa Pak Alkaf dan Bu Zainiyah seperti Om dan Tantenya sendiri.
Bu Zainiyah yang memang duduk paling dekat dengan Nina itu lebih mudah untuk berinteraksi dengan Nina. "Sayang, terima kasih ya. Kau sudah mau membantu untuk memecahkan masalah terbesar dalam keluarga kami. Terima juga karena kau mau berlapang dada menerima anak kami yang tidak sempurna."
Bu Zainiyah yang memang sebelumnya tidak sempat berterimakasih secara pribadi kepada Nina karena semuanya serba dadakan. Bu Zainyah tidak mampu lagi menahan perasaan haru yang bercampur bahagia itu. Begitu pun dengan Pak Akkaf yang ada di sampingnya.
Air mata kebahagiaan itu tumpah dengan tubuh paruh baya tersebut memeluk erat tubuh Nina dengan penuh perasaan. Nina dibuat larut dalam suasana itu dan juga ikut meneteskan air mata. Entah kenapa hatinya jadi perasa, apa karena mereka sama-sama seorang wanita?
Pak Alkaf menyerahkan kotak kecil berwarna merah kepada Bu Zainiyah untuk diberikannya kepada calon menantunya tersebut. "Ma, jangan menangis terus. Ini, pasangkan pada calon menantu kita." pinta Pak Alkaf.
Jika sebelumnya ia sudah memasangkan cincin di jari tengah Nina sebagai simbol di depan semua orang, kini Bu Zainiyah memberikan cincin lain sebagai ucapan dan harapan yang tulus dari hatinya yang terdalam untuk menjadikan Nina sebagai anak menantunya.
Bu Zainiyah tersenyum malu saat wajahnya sudah penuh air mata, namun bibirnya tetap tersenyum bahagia. "Maafkan Mama, ya. Saking senangnya Mama jadi menangis."
Bu Zainiyah berkata seraya mengambil benda yang diberikan sang suami serta membukanya. Cincin emas berhiaskan intan permata itu menyembul indah mengeluarkan kilau cahayanya. Jangan ditanya lagi berapa harga dan nominalnya. Yang pastinya akan membuat orang seperti Icha yang saat ini sedang mengintip di balik pintu kamar Nina menjadi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
Icha yang sejak tadi memang berpamitan pergi setelah Nina duduk di ruang tamu itu beranjak pergi dan menyaksikan acara tersebut dari sebalik pintu kamar Nina.
Icha hanya merasa tidak enak jika harus berkumpul bersama orang-orang kaya itu. Dan Icha memilih menyaksikan kebahagiaan Temannya itu secara sembunyi-sembunyi.
Bu Zainiyah menyematkan cincin tersebut di jari manis Nina yang ternyata sangat pas serta sangat terlihat cantik sekali. Bu Zainiyah merasa sangat lega telah mengikat Nina dengan sebuah pertunangan tersebut.
"Nak, setelah anak mama nanti pulang dari luar negeri. Mama akan menyuruhnya untuk segera menemuimu." tutur Bu Zainiyah.
"Baik, Tante." singkat Nina yang langsung mendapatkan protes dari Bu Zainiyah ynag mendengar panggilan Nina yang tetap seperti semula.
"Kenapa manggilnya masih dengan sebutan, Tante? Kau sudah aku anggap anak Mama sebelum dan sesudah menjadi tunangan anak Mama. Jadi panggil kami dengan sebutan Mama dan Papa seperti putra kami memanggilnya." titah Bu Zainiyah.
"Iya, Nina. Mulai sekarang biasakan memanggil kami dengan sebutan yang sudah dikatakan istriku itu." timpal Pak Alkaf yang memang tidak banyak bicara.
"Turuti saja permintaan mereka, Nak." sambung Pak Anwar menimpali percakapan tersebut. "Baik, Ayah!" Nina menganggukkan kepalanya.
"Mari dimakan, jangan karena keasyikan mengobrol nanti kita semua kelaparan." Bu aminah berusaha mengubah suasana serius menjadi santai dengan menyodorkan makanan yang sudah dibuatnya.
Waktu semakin berjalan tak terasa. Dan keluarga Pak Alkaf akhirnya berpamitan pulang. Bu Zainiyah berpesan pada Nina bahwa besok setelah putranya datang, ia akan mengatur untuk putranya menemui Nina.
Sebenarnya Pak Alkaf ingin menyuruh anaknya untuk datang langsung ke rumah Pak anwar. Tapi waktu yang dimiliki Nina tidak memungkinkannya untuk ada di rumah karena malam nanti ia masuk jam kuliah.
Ya, Nina sekarang sudah bisa kuliah karena Bu Zainiyah yang waktu itu memaksanya untuk segera mendaftarkan dirinya ke universitas. Nina yang waktu itu tidak bisa menolak apa yang diinginkan Bu Zainiyah.
Nina yang sekarang sudah menjadi karyawan tetap di kafe Santuy itu sangat merasa lega karena jam kerjanya sudah pasti dan tidak berganti sip seperti karyawan yang baru. Nina sekarang bekerja di siang hari dan kuliah di sore hari sampai malam.
Dan alasan itulah yang tidak memungkinkan Nina bertemu dengan calon tunangannya jika berkunjung di malam hari. Bu Zainiyah yang tak kehabisan ide berencana menyuruh putranya untuk datang pas jam istirahat di tempat Nina bekerja. Dan Nina juga menyetujuinya.
__ADS_1
Sebelum Pak Alkaf dan Bu Zainiyah pergi dari kediaman besannya itu, tak lupa mereka memberikan nomor ponsel anaknya pada Nina. Nina yang menerimanya langsung menyimpan kertas yang sempat diberikan olen Bu Zainiyah itu.
Setelah kepergian keluarga dari calon suaminya itu, Nina pergi menuju ke kamarnya setelah berpamitan kepada sang ayah dan Ibu yang terlihat masih sibuk membereskan sisa-sisa makann yang sebelumnya sudah dibantu oleh tetangga yang datang ke sana.
"Nina, aku sangat salut pada keluarga calon suamimu itu. Mereka terlihat sangat baik sekali. Meskipun mereka berasal dari orang yang kaya raya tapi mereka tidak sombong bahkan bersikap sangat rendah diri."
Icha yang tiba-tiba bersuara dan mengejutkan Nina itu membuatnya spontan memegang dadanya karena kaget. "Ah, Kakak bikin kaget saja. Kenapa tadi nggak mau nemenin aku di luar?"
Tanya Nina sembari melangkah menuju ke depan cermin dan duduk di sana untuk membersihkan make up yp yang menempel di wajahnya. Jujur ia sangat dibuat risih dengan polesan yang sebenarnya tidak begitu tebal itu.
"Aku nggak mau menjadi patung di sana, yang tudak mungkin juga dihiraukan oleh semua orang. Kan pemeran utamanya sangat cantik." Icha berpura-pura memasang wajah yang sedih di depan Nina.
Nina dibuat tertawa oleh sikap Icha yang mampu membuatnya terhibur. "Kakak tadi dengar, 'kan, kalau dia besok akan datang ke kafe untuk menemui ku? tanya Nina yang sudah membasahi kapas di tangannya dengan cairan pembersih dan mengaplikasikan pada wajahnya.
"Iya, aku dengar. Aku juga penasaran, seperti apa wajah yang akan menjadi calon suamimu. Kalau dilihat dari orang tuanya, pasti dia sangat tampan sekali. Kau lihat saja ayah dari calon suamimu itu sangat gagah dan tampan meskipun sudah berumur. Wajahnya sangat berbeda dengan orang Asia seperti kita. Apa dia memang berasal dari Timur Tengah?
Tanya Icha yang penasaran dengan wajah Pak Alkaf yang memang terlihat mencolok di antara orang yang ada di acara tadi. "Kata ayah, sih iya. Om Alkaf memang keturunan dari keluarga yang berasal dari Timur Tengah."
Jawab Nina yang sedikit mendengar cerita mengenai keluarga Al-gazali dari sang ayah. "Pantas saja, beliau terlihat sangat berbeda. Aku jadi penasaran. Bagaimana wajah anaknnya yang dijodohkan dengan mu, Nin?"
Icha merebahkan tubuhnya di atas ranjang serta menerawang wajah yang mungkin akan lebih keren dari ekspektasinya. Nina yang bertunangan, kenapa dia yang heboh? Icha jadi geli sendiri membayangkan kekonyolannya. Padahal Nina yang seharusnya berpikiran seperti itu.
Kedua sahabat itu bercerita dan bercengkrama samapi sore tiba. Setelah merasa sudah waktunya pulang. Icha berpamitan pada Nina dan juga orang tua Nina yang sangat menerimanya dengan sangat baik.
Nina melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, setelah sebelumnya ia sempat mengantarkan Icha ke luar rumah. Nina meraih hape yang ia letakkan sembarangan di atas kasur. Ada satu notif yang masuk melalui pesan WhatsApp nya, dan itu membuat dahinya bertaut dalam penuh tanda tanya, karena nomor itu asing dan ia tidak mengenalnya.
.
__ADS_1
. BERSAMBUNG
AKU UP SATU BAB. TAPI INI ISINYA SUDAH LEBIH DARI SERIBU KATA YA. MALAH SUDAH SATU BAB SETENGAH TAPI AKU JADIIN SATU. SEMOGA BISA MEMBUAT KALIAN SENANG.🤗