Sembuhnya Sang Pendosa

Sembuhnya Sang Pendosa
Bimbang


__ADS_3

Nina memastikan nomor tak asing itu. Dan ia benar-benar tidak mengenalnya. Nina membuka sebuah pesan yang bertuliskan beberapa kata yang berulang kali ia baca.


Mama menyuruhku untuk menemuimu besok. Aku berharap kau tidak terlambat, karena aku sibuk dan masih banyak pekerjaan yang harus kulakukan.


Nina mengernyit bingung. Ia masih mencerna kata-kata dalam pesan tersebut. Setelah sedikit bisa memprediksi siapa gerangan pengiriman itu, Nina bergegas mengambil kertas yang ia terima dari Bu Zainiyah.


Nina menyambar kertas yang tadi ia letakkan di meja rias secara sembarangan. Lalu, Nina mencocokkan nomor yang telah mengirimkan pesan padanya dengan kertas yang ia pengang sekarang.


Benar saja, nomor itu cocok! Berarti yang telah mengirim pesan itu adalah tunangannya? Nina berulangkali membaca pesan itu, seakan yang menulis itu sepertinya tidak suka dengan pertemuan yang telah diatur oleh Bu Zainiyah.


Nina bingung mau nenjawab apa, tangannya masing memegang hapenya dengan layar yang masih tidak keluar dari aplikasi WhatsApp. Sedangkan di seberang sana masih menunjukkan bahwa si pengirim itu masih online dan sepertinya menunggu balasan dari pesannya.


Demi menghormati orang yang sekarang sudah resmi menjadi tunangannya, Nina menuliskan jawaban yang hanya berkata 'Baik' .


Nina mengembalikan hapenya setelah pesan yang barusan terkirim sudah dibaca oleh sang empunya. Nina merebahkan tubuhnya yang lelah setelah sebelumnya ia sudah membersihkan tubuh dan selesai melaksanakan shalat isyak.


Pagi itu, Nizam sudah siap dengan setelan jas yang membungkus tubuhnya yang atletis. Ia merapikan rambutnya yang gondrong dan mengikatnya ke belakang. Minyak rambut yang ia aplikaskan di bagian depan itu membuat rambut itu tertata rapi dan terlihat semakin tampan.


Nizam yang pagi ini ingin menemui sahabatnya yang masih ada di rumah sakit itu cepat-cepat untuk segera pergi. Karena Arif yang mengabarkan bahwa dia akan segera pergi ke suatu tempat di jam 12 nanti.


Nizam yang sudah rapi turun dari tangga dan langsung berpamitan kepada kedua orang tuanya yang sudah ada di meja makan bersama sang adik. "Cie, cie. Yang sudah punya tunangan, pagi-pagi sudah mau berangkat ajah, nih."


Goda Zizi pada sang kakak yang meresponnya hanya dengan lirikan mata yang penuh kekesalan. Nizam yang baru datang itu meraih susu dalam gelas yang memang sudah disiapkan oleh Bu Zainiyah untuknya.


"Zam, jangan lupa nanti jam 12. Ibu sudah bilang kemarin kalau kau akan ke sana menemuinya," ucap ibunya dengan tangan yang msih mengoleskan selai roti untuk Pak Alkaf.

__ADS_1


"Tadi malam Nizam sudah kirim pesan padanya, Ma. Nanti sebelum jam 12 Nizam pastikan sudah ada di sana." tutur Nizam sembari membetulkan kembali jam tangan yang ia kenakan.


Sedangkan Zizi yang ada di meja makan sedari tadi tak henti-hentinya menggoda Nizam dengan suaranya yang membuat Nizam tak sabar untuk segera berangkat karena keusilan adiknya tersebut.


"Karenina. Namanya Karenina, ingat itu!" Bu Zainiyah menjelaskan nama lengkap tunangan dari anaknya itu. Nizam yang saat itu sudah melangkah dan siap menuju ke luar itu terpaksa membalikkan badannya lagi untuk menatap ke arah sang mama.


Nizam masih sangat jelas nama yang disebut oleh ibunya itu adalah Karenina. Kenapa pikirannya langsung tertuju pada Nina? Apa karena nama belakang mereka yang memang sama? Akhir-akhir ini pikirannya memang selalu dihantui oleh bayang-bayang gadis itu, tapi Nizam tidak bisa berbuat apa-apa setelah menyerah dan merasa kalah oleh takdir dan kenyataan.


Zizi yang masih memerhatikan sikap kakanya itu membuat dia tidak bisa untuk diam. "Kenapa, Kak? Namanya sangat indah ya? Sampai-sampai Kakak terpaku saat mendengar namanya," tidak akan ia membiarkan kakaknya itu bebas dari godaannya sebelum ia merasa puas.


Zizi tertawa senang setelah melihat kakaknya itu terlihat kesal dengan apa yang ia katakan. Bu Zainiyah yang tidak menyadari bahwa perkataannya barusan mampu membuat Nizam bertanya-tanya dan masih mematung di depan pintu.


Perkataan yang dilontarkannya Zizi kepada Nizam membuat Bu Zainiyah yang sebelumnya fokus akan roti di tangannya melihat ke arah putranya yang masih diam dengan memandangi dirinya.


"Nizam, ada apa? Apa kau mau sarapan? Katanya terburu-buru mau langsung ketemu, Arif?" Bu Zainiyah heran memandang Nizam yang sepertinya ingin menghampirinya.


"Oh, nama tunangan mu? Nama panjangnya Karenina Wijaya! Pasti kau akan terpesona melihatnya. Mama saja langsung jatuh hati pada pertama kali bertemu." dengan masih berkutat sama benda di tangannya, Bu Zainiyah menjelaskan sosok tunangan Nizam secara menggebu-gebu.


"Zizi jadi penasaran, Ma! Kalau kemarin aku nggak ada ospek, pasti Zizi juga tau calon Kakak seperti apa," dengan menyuapkan roti ke dalam mulutnya, Zizi merajuk pada sang ibu.


"Kan masih banyak waktu. Biar Kakakmu dulu yang bertemu calon istrinya. Kamu sama mama aja nanti. Iya, 'kan. Pa?" Bu Zainiyah meminta pendapat suaminya yang sedang meneguk air putih.


"Iya, terserah Mama, saja." jawab Pak Alkaf dan beranjak dari duduknya untuk melangkah menuju Nizam yang berdiri tak jauh dari meja makan.


"Bersikaplah yang baik kepadanya. Karena Papa sangat menghormati Anwar dan juga calon istrimu. Papa sangat berterima kasih padanya, karena kebaikan hatinya yang mau menerima kekuranganmu. Papa tidak mau kau mengecewakan Papa kali ini."

__ADS_1


Pak Alkaf menepuk bahu Nizam seraya mengucapkan kata-kata tersebut. Nizam hanya mengangguk untuk mengiakan titah dari papanya itu.


Nizam menuju garasi dan masuk ke dalam mobil pribadinya. Ia harus cepat-cepat sampai ke rumah sakit karena Arif pasti akan lama menunggunya. Nizam baru saja menyalakan mesin, namun dering ponselnya membuat ia harus melihat benda pipih tersebut.


Nizam mengangkat telepon yang berasal dari Arif. Arif yang saat itu sedang ada pasien darurat terpaksa harus membatalkan janjinya dengan dirinya dan itu sangat ia sesalkan. Mau bagaimana lagi, beginilah jika harus memiliki janji dengan seorang dokter, selalu pasiennya yang lebih utama. Pantas saja si Arif sampai sekarang tidak punya kekasih, ternyata pekerjaannya telah menyita semua waktunya. Batin Nizam.


Nizam terpaksa menuju kantor di waktu yang masih sangat pagi sekali. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dulu biar dia tenang saat bertemu dengan tunangannya.


Pagi itu begitu cepat berlalu dan siang pun sudah mulai terasa menyengat. Nina yang baru saja beristirahat duduk di bangku para karyawan di belakang kafe. Tangannya sedari tadi memegangi handphone nya dan sesekali melihat ke layar yang masih saja sama tidak ada perubahan.


Mau menghubungi duluan sungkan. Tapi, hatinya merasa gelisah jika tidak menanyakan pada seseorang yang tadi malam sudah membuat janji bertemu dengannya. Hati Nina jadi bimbang, antara menghubungi atau tidak. Dan Nina hlmemilih untuk memberikan kabar bahwa dirinya sudah ada di kafe Santuy.


Sedangkan Nizam yang saat itu terkena macet karena adanya sebuah kecelakaan didepan sana membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia meraih hape yang berdenting keras tanda ada notif pesan yang masuk.


Nizam membaca pesan itu dan mengembalikan benda pipih itu ke tempatnya setelah membacanya tanpa membalas pesan dari sang pengirim di seberang sana. Melihat pergerakan mobil yang sudah bergerak lamban Nizam juga melajukan mobilnya perlahan.


Satu jam sudah Nina menunggu, dan sekarang sudah waktunya masuk kerja. Nina memasukkan handphone nya ke dalam tas yang ia simpan di loker. Nina berpikir bahwa tunangannya itu tidak benar-benar ingin menemuinya, karena telah mengabaikan pesannya.


Nina kembali bekerja karena jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Nina merapikan dirinya sebelum ia keluar untuk menyambut para tamu yang datang. Karena sekarang Nina sudah menjadi pekerja tetap, Nina ditugaskan oleh Aldo untuk berjaga di depan, dekat dengan pintu masuk.


Nina membukakan pintu kaca kepada seorang pengunjung yang berjalan dengan tergesa-gesa. Pria yang berpakaian rapi itu terlihat terburu-buru masuk hingga tidak menyadari Nina yang membantunya membuka pintu.


"Kak Nizam?" sapa Nina yang mengenali sosok yang baru saja masuk tersebut.


.

__ADS_1


. BERSAMBUNG.


MAAF YA, JIKA ADA YANG NGGAK SABAR NUNGGU NINA DAN NIZAM BERTEMU DENGAN STATUS YANG MEREKA SAMA² MENGETAHUINYA. AUTHOR MASIH MENULISKAN ALUR YANG MEMANG SEHARUSNYA. SEMOGA SABAR MENUNGGU YA. HEHEE


__ADS_2