
Nizam menundukkan wajahnya menatap rumput hijau di atas tanah yang ia pijak. Sejenak ia meresapi apa yang diucapkan Kakek Mukti. Mungkin selama ini, dirinya memang sudah sangat jauh melupakan sang maha Kuasa, hingga kesengsaraan jiwa hidup terus-menerus menjeratnya.
"Kakek, Benar. Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Mungkin, Nizam harus lebih belajar lagi, arti dari sebuah kesabaran. Agar Nizam bisa mendapatkan sesuatu yang memang ditakdirkan untuk Nizam." Nizam menatap Kakek Mukti yang pandangannya tertuju ke depan. Lalu Nizam menyandarkan tubuhnya yang tiba-tiba merasa lelah.
"Sabar itu maknanya luas. Kita tidak bisa bergantung pada kesabaran untuk mendapatkan sesuatu. Dan, tidak mudah bagi kita untuk menerima kenyataan jika suatu saat nanti buah dari kesabaran itu sendiri tidak sesuai dengan ekspektasi. Tapi, jangan pernah lelah untuk menjadi orang yang sabar. Satu hal yang harus kau tau, selain menjadi orang yang sabar, kau harus mendidik hatimu supaya menjadi manusia yang ikhlas, karena ikhlas adalah yang terpenting."
"Sesungguhnya, iklhas dan sabar itu sangat berbeda, Cu. Orang sabar belum tentu iklhas. Tapi, orang yang ikhlas pasti dia adalah manusia yang memiliki kesabaran yang sangat luas,"
"Kebanyakan manusia memilih bersabar karena di balik itu mereka masih memiliki sebuah harapan. Dan mereka akan merasa jauh lebih sakit dan terluka akibat dari kesabaran yang selama ini mereka lakukan tidak sesuai harapan. Dan sebenarnya merekalah manusia yang tidak ikhlas akan sebuah kenyataan."
"Beda dengan keikhlasan, apa pun yang akan terjadi di kemudian hari, orang yang cenderung merasa ikhlas tidak akan merasa tersakiti oleh kesabarannya yang mungkin tidak sesuai harapan tersebut. Karena hati mereka sudah dipupuk oleh rasa ikhlas atas semua kenyataan yang terjadi, sekalipun mereka harus kehilangan."
Kata-kata Kakek Mukti di siang itu serasa menampar Nizam secara tidak langsung. Ternyata, perjuangannya menjadi manusia yang berlapang dada masih belum sempurna. Ia masih tidak bisa memiliki hati yang besar untuk benar-benar mengikhlaskan seseorang yang masih ia harapkan.
****
Waktu terus berjalan, hari terus berganti. Dan tak terasa waktu untuk fitting baju pengantin itu tiba. Nina dengan perasaan yang tidak yakin mencoba menaiki motor maticnya untuk pergi ke boutique yang sudah diberitahukan oleh Bu Zainiyah lewat pesan di ponselnya.
Sebenarnya Bu Zainiyah berniat menjemput Nina untuk sekalian pergi ke sana. Namun karena suatu alasan Nina menolak ajakan mertuanya tersebut. Nina lebih memilih menaiki motor maticnya ketimbang menaiki mobil mewah milik keluarga suaminya itu.
Nina masih belum terbiasa dengan keadaan yang berubah drastis. Masih butuh penyesuaian untuk Nina beradaptasi, mengingat ia adalah seorang gadis biasa yang bersahaja, dan sekarang dirinya akan menjadi menantu orang yang kaya raya yang setiap hari akan menjalani kehidupan yang serba ada.
__ADS_1
Bu Zainiyah yang sampai duluan ke boutique langganannya, memilih untuk menemui pemilik boutique tersebut yang kebetulan adalah orang yang sangat ia kenal akrab. Boutique yang terlihat sangat mewah itu memiliki tempat yang begitu luas, dan suasananya begitu nyaman.
"Hai, Jeng? Lama aku tidak ke sini, ternyata boutique ini banyak berubah," sapa Bu Zainiyah kepada Aggun-pemilik dari boutique ternama tersebut. Anggun saat itu terlihat sibuk membetulkan gaun rancangannya yang ia pajang pada patung manekin di dalam sana.
"Halo, Jeng Zainiyah!" sahut Anggun antusias menyambut kedatangan pelanggan yang sudah sangat akrab tersebut.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Jeng? Sudah lama sekali kita tak bertemu ya. Maaf, beberapa bulan ini aku sibuk mengurus boutiqueku yang ada di kota B, dan baru sekarang aku sempat ke Jakarta. Kebetulan, di sini juga sangat memerlukanku,"
Anggun bertanya kabar dan juga menjelaskan kepada Bu Zainiyah setelah mereka berpelukan melepas rasa rindu yang selama ini jarang bertemu. "Tidak apa-apa, aku memakluminya, desainer ternama sepertimu memang akan sulit ditemui."
Keduanya tertawa renyah serta mengobrol ringan. Mereka berdua bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Dan Bu Zainiyah sangat antusias menceritakan putranya yang sebentar lagi akan menikah. Hal itu membuat Anggun merasa ikut bahagia karena Anggun tau jika Bu Zainiyah yang memang dari dulu ingin memiliki seorang menantu agar cepat menimang cucu.
Bu Zainiyah menjelaskan soal Nina yang berasal dari keluarga sederhana. Dan Bu Zainiyah memaklumi Nina yang sepertinya belum terbiasa untuk langsung bisa berbaur dengan kehidupannya yang bagi Nina jauh berbeda.
Anggun mengerti maksud dari rekannya tersebut dan juga memakluminya. Tak lama kemudian, pegawai boutique itu mengatakan bahwa ada seorang gadis yang mengaku sudah memiliki janji dengan Bu Zainiyah, tamu dari boss mereka.
Bu Zainiyah dengan sangat senang menuju ke luar untuk menyambut sang menantu, karena Wanita paruh baya itu yakin jika yang di luar sana adalah Nina. Benar saja, gadis cantik bermata bulat dengan lesung pipit itu sudah duduk di sofa tunggu yang tersedia di luar.
"Hai sayang?" sapa Bu Zainiyah lalu memeluk Nina serta mencium pipi kanan dan pipi kiri menantunya. Anggun yang sejak tadi mengikuti langkah Bu Zainiyah dibuat tak berkedip menatap wajah polos yang menjadi calon menantu dari pelanggannya itu.
"Bagaimana, Jeng? Cantik kan calon menantuku?" tanya Bu Zainiyah merasa bangga akan pilihannya.
__ADS_1
"Sangat, sangat cantik. Belum didandani saja dia secantik ini, apalagi nanti jika memakai makeup serta baju pengantin, pasti akan sangat terlihat seperti bidadari, Jeng. Jarang sekali gadis jaman sekarang yang cantik alami seperti ini, kebanyakan kecantikan mereka semua sudah terkontaminasi oleh banyaknya makeup yang sekarang semakin merajalela. Apalagi di ibukota seperti Jakarta ini,"
Anggun merasa Bu Zainiyah sangat beruntung mendapatkan menantu yang cantik natural serta pembawaannya yang kalem. Anggun jadi ingin memiliki menantu juga jika seandainya calonnya seperti yang ada di depannya saat ini. Anggun jadi gemas sendiri melihat Nina yang terlihat salah tingkah saat kedua paruh baya itu tak henti-hentinya memuji dirinya.
"Kenalkan, Tante, namaku Nina." Nina memperkenalkan diri seraya menjulurkan tangannya pada Anggun, sang pemilik boutique yang baginya super mewah tersebut.
"Nama yang sangat manis sekali," cetus Anggun menyambut tangan Nina serta memeluknya erat.
"Kau begitu cantik, seandainya kau bukan calon menantunya Zainiyah, Tante pasti akan menjodohkanmu dengan putra Tante yang sebentar lagi menjadi perjaka tua." ada raut kecewa di wajah Anggun saat menyebut tentang putranya tersebut.
Setelah sedikit lama berbasa-basi, mereka bertiga menuju ruangan yang berbeda dari sebelumnya. Nina sempat terpukau melihat begitu banyaknya gaun pengantin yang semuanya terlihat sangat bagus dan mewah. Nina sampai tidak bisa membayangkan berapa kisaran harga dari satu helai baju yang terpasang cantik di setiap manekin tersebut.
"Jeng, apakah putramu juga akan datang ke mari?" tanya Anggun sembari mengajak Nina dan Zainiyah berkeliling ruangan yang penuh dengan bermacam model gaun pengantin.
"Tadi sudah aku telepon, Jeng. Mungkin masih terjebak macet di jalan. Kita tunggu saja." jawab Bu Zainiyah yang sebenarnya juga gelisah karena Nizam tak kunjung datang.
Satu jam sudah Nina dan Bu Zainiyah berada di boutiquenya Anggun. Namun, tidak ada tanda-tanda akan kedatangan Nizam ke sana. Bu Zainiyah mencoba berulangkali menghubungi nomor Nizam lagi, tapi sepertinya nomor yang ia tuju tidak dapat menerima panggilannya.
"Nina, maaf ya sayang. Kau jadi lama menunggu. Calon suamimu sepertinya tidak bisa dihubungi, entah apa yang terjadi padanya hingga nomornya tidak bisa mama hubungi." dengan sangat menyesal Bu Zainiyah berkata akan kegelisahannya menunggu kedatangan putranya. Wajah Bu Zainiyah terlihat kecewa dan tak enak hati karena untuk kesekian kalinya Nizam lagi-lagi tidak menepati janjinya.
"Tidak apa-apa, Ma. Nina hari ini memang izin libur kerja, jadi menunggu beberapa waktu lagi bukan masalah buat Nina. Mama santai saja." jawab Nina sedikit kelu mengucapkan kata mama. Mau bagaimana lagi, karena Bu Zainiyah yang memang memaksanya untuk memanggilnya dengan sebutan mama.
__ADS_1