
Stella dari tadi tidak berkembang dari tempatnya karena Terkadang ia sendiri saja merasa muak dengan kehidupannya saat ini, terkekang dalam Sangkar Emas yang tidak pernah diharapkannya sama sekali bahkan bisa dibilang hidupnya itu seperti bukan miliknya.
Marcell tetap saja berlutut berharap agar mendapatkan Maaf Dari Stella, karena Percuma saja dia sudah menyembunyikan wanita itu bertahun-tahun jika akhirnya menyerahkannya kembali kepada Leonardo.
"Stella, aku bakalan melakukan apapun Bila perlu memberikan semua yang aku punya asal kamu mau berbicara denganku sekarang! " desak Marcel membuat Sheila merasa jengah.
Stella kini menatap ke arah pria yang sedang berlutut di hadapan yaitu dengan memasang tatapan membunuhnya, menurutnya pria itu selama ini sudah terlalu banyak memberikan janji omong kosong yang tidak pernah sedikitpun ada yang menjadi kenyataan.
kalau hanya sekali dua kali Ya tidak masalah tetapi ini sudah sampai bertahun-tahun dan bahkan dirinya saja sudah capek menghitung ketika permohonannya untuk bertemu dengan keluarganya sepertinya hanya mengambang di udara dan hilang begitu saja, Setidaknya kalau memang Marcel punya inisiatif pasti pria itu sudah berusaha dan mungkin mengajak dirinya untuk berkeliling mencari keberadaan putri dan juga suaminya tetapi apa buktinya sampai sekarang tidak ada sama sekali.
Bersyukur karena dirinya waktu itu sempat ngotot ingin kembali ke Indonesia dan Marcel mengindahkannya, tetapi ya seperti begitu tetap saja tidak membuahkan hasil karena ruang gerak Stella itu selalu dibatasi dia hanya boleh pergi ke mall dan dia jago oleh para bodyguard-nya Lalu setelah itu pulang ke rumah dan tidak bergaul dengan siapapun.
padahal permintaannya sebenarnya tidak banyak hanya ingin bertemu dengan anak-anaknya dan juga suaminya karena memang dirinya bukan wanita bebas, dan ia selalu menyarankan kepada Marcel agar mencari istri agar anaknya Angkasa itu tidak terlalu bergantung pada dirinya karena memang mereka tidak punya hubungan apapun.
"Sudah berkali-kali aku bilang kalau Namaku itu bukan Stella melainkan Bintang, Bintang Sky itulah nama yang aku punya dan kamu pasti tahu karena aku sudah mengatakannya beribu-ribuan kali?"sergah Stella kasar karena memang ia tidak ingin diubah apapun baik dalam statusnya dalam namanya dan juga segala macam tentang dirinya.
Marcel selalu berakhir dengan Diam tidak membantah apalagi menyanggah apapun yang dikatakan karena nanti akhirnya pasti Stella mogok makan dan tidak mau berbicara dengannya selama berminggu-minggu, dan jika sampai hal itu terjadi ia benar-benar Terpukul dan juga merasa seperti seorang pria yang tidak berguna Percuma saja kerja siang malam jika akhirnya wanitanya itu tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan layak..
"Aku tahu kamu marah dan aku tahu kamu pasti sekarang sedang mengutukku di dalam hati kamu, tidak masalah lakukan saja semua yang kamu inginkan tetapi aku mohon jangan pernah berpikiran untuk pergi dariku!"lirih Marcel dan pergi dari situ lalu menutup pintu secara perlahan tetapi sebelum itu ia melihat dulu arah Stella yang dari tadi selalu saja membuang muka ke tempat lain tidak ada niatan untuk menatap ke arahnya.
Stella tergugu di bawah lantai dan menangis karena tidak percaya jika Lagi dan lagi ia harus berakhir di tempat ini, Entah sudah berapa kali Purnama Entah sudah berapa kali musim hujan berganti tetapi tetap saja dirinya ada di sini.
Untung saja pertahanan tubuhnya begitu kuat tidak mudah lemah dan juga tidak mudah yang namanya stres kalau tidak sudah dipastikan dirinya pasti bakalan depresi, Bayangkan saja Ia yang terbiasa menikmati kehidupan bebas karena suaminya tidak pernah membatasi ruang geraknya dan juga selalu saja mendengar canda tawa putrinya kini lenyap pergi menghilang begitu saja.
ya manusia normal mana Tentu saja tidak terima dengan apa yang terjadi secara dadakan, apalagi seingatnya sebelum dirinya terdampar di dekatnya Marcel terjadi penyerangan di kediamannya dan itu sudah ia ketahui dari awal namun kalau terpisah dari mereka semuanya rasa-rasanya susah untuk dimengerti.
__ADS_1
kalau sekarang dirinya sudah meninggal ya Mungkin ia tidak bakalan terbebani seperti ini, atau mungkin misalnya suami dan anaknya tidak selamat saat penyerangan itu Ya setidaknya tunjukkan saja pusara mereka mungkin dengan itu dirinya bakalan sedikit lega.
Akan tetapi apa yang didapat yang ada hanya kebohongan berlapis kebohongan, Entah kapan semua kebohongan ini bakalan terbongkar dan dirinya bisa bernafas lega serta bisa bersama dengan orang-orang sekelilingnya.
Marcel kini memasuki ruang pribadinya yang tidak ada satupun orang yang bisa memasuki tempat itu kecuali asisten rumah tangga kepercayaannya, Tuan Stefano adalah pengurus rumah tangga di tempat itu yang sudah berpuluhan tahun mengikuti Marcel sehingga dirinya yang lebih tahu seluk-beluk dan juga keinginan pria itu.
Marcel Mengunci pintu setelah dirinya masuk ke dalam ruangan rahasia miliknya tersebut, dirinya memindai seluruh bingkai foto besar di dinding yang hampir setiap sudutnya gambar orang yang sangat ia cintai itu.
Tes,,tes,,tes
pria yang biasanya dikenal sangat Arogan dan juga bengis ketika sedang bekerja serta menghabisi semua lawan yang berani mengganggu pekerjaannya, kini menangis bahkan air matanya itu menetes begitu saja tanpa permisi seolah ingin menunjukkan kepada angin yang bergoyang kepada bingkai wajah yang sedang tersenyum ke arah kamera tersebut bahwa dirinya benar-benar terluka saat ini.
Jika ia sedang bertengkar ataupun berdebat dengan Stella maka tempat inilah menjadi tujuannya satu-satunya, sebab hanya melihat wajahnya tersenyum rasanya hati Marcel begitu nyaman dan juga Teduh serta tidak ada beban pikiran lagi
"kita bertengkar lagi kan dan itu membuat kamu terluka, Padahal aku juga sama bukan hanya kamu sendiri? kamu marah denganku lagi kan karena aku selalu berbohong untuk tidak mempertemukan kamu dengan suamimu, aku tidak mampu jika akhirnya kamu harus pergi dari hadapanku Aku tidak sanggup jika akhirnya kamu lebih memilih orang-orang di masa lalumu! "lirih Marcel yang begitu Terpukul dengan semua yang terjadi ini.
"15 tahun itu bukan waktu yang sedikit untuk membuat kamu menerimaku dalam kehidupan kamu, tetapi sepertinya sulit Entah aku harus melakukan dengan cara apa gerak Kamu paham kalau sebenarnya aku tidak bisa hidup tanpa kamu! Aku sudah membesarkan anak yang dulu Sudah kamu tolong dan kamu titipkan di Panti Asuhan, bahkan sekarang anak itu memanggil kamu dengan sebutan Mami dan dia tidak tahu sama sekali Kalau Sebenarnya kamu itu adalah orang yang pernah menolongnya ketika hendak dibunuh oleh kedua orang tuanya! "Marcel merasa sedikit puas ketika sudah mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di dalam dirinya tidak masalah jika objek yang sedang ia jadikan lawan bicaranya itu adalah benda mati dan tidak akan pernah merespon apapun yang ia katakan.
Stefano yang dari tadi berdiri di sudut ruangan hanya bisa memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat tuannya begitu Terpukul seperti itu, padahal selama ini Marcel itu dikenal sebagai pribadi yang tegas dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah main-main dan juga tidak suka jika ada yang membantah apapun yang ia katakan.
Stella adalah orang satu-satunya di dunia ini yang berani membantah apapun yang ia katakan dan juga selalu saja tidak suka diatur oleh Marcel, dan Marcel hanyalah dengan segala saja ia bisa mengalah dan menurunkan egonya yang begitu tinggi.
"Tuan, jika memang Nyonya Stella tidak ingin berada di tempat ini dan ingin kembali kepada keluarganya bukankah lebih baik anda mengizinkan saja? Karena mungkin itulah harapan yang terbaik yang diinginkan oleh nyonya, dan juga ini mungkin demi kebaikan kita semua daripada Tuan harus tiap hari mengalami hal yang menyedihkan seperti ini! "saran Stefano ya Meskipun Terdengar sangat jauh dari harapannya Marcel tetapi tidak ada salahnya kan kalau memberikan saran seperti itu hanya demi melihat kebaikan majikannya sendiri.
Marcel yang mendengar kata-kata seperti begitu ya jelas otomatis tidak terima, ketika dirinya sedang berjuang agar bisa mendapatkan hatinya Stella Kenapa orang-orang sekitarnya sudah terlihat menyerah seperti itu?
__ADS_1
"Jadi ceritanya kamu menyuruhku untuk menyerah dan tidak usah lagi memohon dan meminta agar setelah menerimaku, Jadi kamu mau agar Aku menyerahkan dia kembali kepada suaminya itu dan dengan begitu kami tidak bisa bertemu lagi? "Hardik Marcel begitu kasar tetapi Stefano sudah biasa menghadapi perubahan sikap pria itu.
Stefano adalah orang tua yang otomatis selalu ingin mengayomi anak-anaknya yang ketika sedang mengambil langkah yang salah dalam hidupnya, ya Meskipun Marcel adalah majikannya dan dirinya hidup bergantung dari pemberian pria itu tetapi tidak ada salahnya juga kan kalau memberikan saran disaat yang tepat seperti saat ini.
"saya tahu pasti anda akan memberikan jawaban seperti ini hanya saja tidak ada salahnya juga kan kalau mencoba, karena Biar bagaimanapun Nyonya Stella itu Berhak Bahagia dan dia punya kehidupan yang lain sebelum bertemu dengan anda! "cicit Stefano yang tidak mau kalah karena kalau misalnya Marcel salah mengambil langkah Ya sudah tidak ada salahnya juga kan kalau ia memberikan jalan yang lurus.
"Dia bahagia kalau bersama denganku hanya sekarang dia belum menyadari kebahagiaan itu, tapi Tenang saja pokoknya aku bakalan berusaha membuat dia tetap bergantung padaku dengan begitu ia tidak akan mungkin bisa jauh dariku lagi!"kekeh Marcel tetap ada pendiriannya karena menurutnya orang lain tidak akan merasakan apa yang ia rasakan sebab yang menjalaninya dirinya maka dari itu untuk apa mendengar cibiran ataupun saran-saran yang tidak bermutu.
"Terserah dari Anda saja Tuan Saya tidak bisa lagi untuk menambahkan apalagi mengurangi, yang penting intinya Jika anda sudah merasa tidak nyaman dan juga sudah merasa tidak sanggup silakan dilepaskan saja! "putus Stefano lalu memilih untuk pergi dari situ karena sepertinya sifat Marcel itu memang keras kepala dan juga susah sekali untuk diatur jadi mau berbicara dengan gaya apapun dengan nada yang Berapa oktaf pun sekali tidak didengarkan ya akan seperti begitu.
Marcel sendiri saat ini di ruangan itu sambil melihat ke arah sekeliling dan tersenyum, jika dibilang stress ya sebenarnya ia sedang stress bukan karena depresi melainkan karena patah hati saat sedang sayang-sayangnya.
ketika perasaan itu hanya dirasakan sebelah pihak Percayalah rasanya itu seperti ada jarum yang menembus di dalam hati tetapi luka dan tak berdarah, dan ketika orang yang kita sayang dan kita anggap bahwa bisa menemani kita sampai menua nanti malah tiap hari mengingat orang lain itu rasanya sangat menyakitkan.
Diajak berbicara secara baik tidak pernah direspon kemudian diberikan perhatian agar orang tersebut merasa nyaman malah disalah artikan, pokoknya posisi Marcel itu selalu serba salah tidak ada yang benar sedikitpun di matanya Stella mungkin karena memang wanita itu merasa bahwa dirinya berpisah dengan Leonardo dan juga anak-anaknya akibat sikap Marcel yang terlalu bertele-tele.
"Aku suka kalau kamu tersenyum seperti saat ini dan aku suka ketika kamu menatapku dengan tatapan penuh cinta, bukan dengan tatapan penuh kebencian bukan dengan Tatapan yang sangat tidak menyukaiku seolah-olah Aku ini adalah penjahat!"batin Marcel yang benar-benar frustasi.
sebenarnya Marcel itu Tengah menyembunyikan sebuah hal yang penting yang entah misalnya nanti jika diketahui oleh Stella suatu saat nanti, bagaimana respon wanita itu Marcel belum bisa membayangkannya bahkan memikirkannya saja rasa-rasanya sudah sangat tidak sanggup karena kalau bisa dibilang kesalahan yang sangat fatal dan tidak akan pernah termaafkan.
Angkasa yang merasa perasaannya tidak enak memilih untuk menghubungi Stella karena dirinya tahu setiap kali Papinya memanggil Maminya itu untuk berbicara, pasti hasil akhirnya mereka berdua bakalan bertengkar dan setelah itu saling diam-diaman selama berminggu-minggu lamanya sampai-sampai ia bingung sendiri.
"Apa Lebih baik aku telepon Mami saja soalnya takut jangan sampai mereka Bertengkar Lagi, Ah aku jadi bingung hidup di bagian mana sih sampai-sampai orang tuaku tidak ada yang bisa akur Walau Hanya Satu Jam Saja? "tanya Angkasa kepada dirinya sendiri yang meskipun akhirnya tidak akan pernah mendapatkan jawaban setidaknya bisa berpikir itu lebih baik.
Rembulan dari tadi menatap ke arah Angkasa yang ingin sekali didekati dan mengajak pria itu berbicara, Bukan karena apa tetapi kalau misalnya mereka diam-diaman seperti ini dan rembulan hanya memendam perasaannya Takutnya nanti Angkasa bakalan diambil orang.
__ADS_1
"Pokoknya aku harus bergerak sekarang sebelum terlambat dan takutnya nanti Senja yang akan menang dan mendapatkan hatinya Angkasa, sedangkan selama ini aku sudah berjuang mati-matian agar tetap dekat dengan pria itu jadi tidak ingin ada orang lain yang bakalan mengambilnya dariku!"gumam Rembulan Dan akhirnya memilih untuk mendekati Angkasa yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya sepertinya Tengah menelpon seseorang tetapi Rembulan tidak peduli Yang penting intinya maksud dan tujuannya harus tercapai.