
Stella mengambil bungkusan yang diberikan oleh Angkasa untuknya dengan memasang wajah yang biasa saja tidak terlalu bersyukur, sebab menurutnya perhatian dan juga kasih sayangnya ia curahkan kepada anak itu sebenarnya sudah lebih dari cukup dan sekarang giliran Angkasa yang melakukan timbal balik.
"Mami sama papi Kenapa sih Lagi berantem atau lagi diam-diaman seperti biasanya, apa tidak capek seperti begitu terus setiap saat dan juga tidak malu sama umur jika kami yang muda ini melihatnya? "tanya Angkasa penasaran.
"kalau kamu mau ikutan diam-diaman Ya silakan saja jangan mempengaruhi pikiran orang lain dengan opini tidak jelas Kamu itu dong, Lagian kami berdua bukan anak kecil ya Otomatis paham mana yang tidak dan juga mana yang boleh dilakukan! "omel Stella tidak terima ketika Angkasa menasehatinya.
"Bukan seperti itu juga tetapi kayaknya terlalu berlebihan setiap ada masalah Pasti ujungnya seperti ini, memangnya Mami maunya apa biar aku bisa bantu ngomong sama papi? "tanya Angkasa pura-pura penasaran dengan keinginannya Stella Padahal selama ini ia sudah tahu keinginan wanita itu ya itu berkumpul kembali dengan keluarganya yang dulu.
"kamu pasti tahu dong Apa keinginannya Mami, jadi mau dijelaskan Bagaimana rupa pun sepertinya pembahasannya bakalan tetap satu itu saja?"jelas Stella dengan wajahnya yang sebenarnya tidak bersahabat dari tadi tetapi Angkasa memilih untuk tidak ambil pusing sebab menurutnya tidak masalah jika Stella berekspresi yang penting intinya wanita itu tidak pergi ke manapun.
"Mami di sini pun sudah kami anggap sebagai keluarga jadi daripada memilih untuk berkumpul dengan keluarga yang jelas-jelas masih ada atau tidak kita pun tidak tahu sama sekali, lebih baik tinggallah di sini dan menetaplah tidak usah berpikiran untuk kembali karena sejatinya jika mereka merindukan Mami pasti mereka sudah mencari dari dulu? "tukas Angkasa berharap agar Stella paham tetapi sepertinya menurut Stella kalau Angkasa itu terlalu tahu dan juga bersikap paling benar di antara semuanya.
"kalau kamu punya pemikiran sama seperti Papi kamu lebih baik kamu keluar terus sampai bicara sama sekali, Mami itu capek ketika berbicara tetapi satupun tidak ada yang menghargai sama sekali! hidup dengan kalian itu rasa-rasanya seperti terpaksa karena semuanya pada punya pemikiran masing-masing, padahal yang manis pikirkan itu sebenarnya suatu hal yang lumrah karena mereka merupakan keluarga jadi otomatis tidak boleh dilupakan?"tolak Stella ketika angkasa selalu memintanya untuk menetap Bukankah 15 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk menghabiskan waktu bersama maka dari itu sekarang ia ingin menikmati masa tuanya dengan keluarga yang utuh.
Marcell yang merasa penasaran kira-kira Angkasa berhasil tidak meyakinkan Stella memilih untuk keluar dari kamar dan memastikannya secara langsung, terdengar semua Perkataan wanita itu membuat dirinya benar-benar sangat putus asa karena sepertinya setelah memang tidak ada niatan untuk bersama dengan mereka Sampai tua nanti
"Kalau memang kamu seperti begini terus Maka jangan menyesal, jika nantinya semua keluarga kamu itu bakalan kami Habisi satu persatu! aku janji akan melakukan semua itu dan juga akan merebut perhatian kamu agar tidak tertuju kepada mereka saja, Maafkan aku yang menurut kamu sangat keterlaluan tetapi Percayalah aku terpaksa melakukan semuanya." lirih Marcel sambil memasang tatapannya yang sungguh sangat mematikan.
Angkasa juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Papinya saat ini Namun karena sekarang dirinya sedang bersama Stella, maka dari itu ia pura-pura untuk tetap tersenyum dan memasang tatapan kecewanya meskipun di dalam hatinya sedang ada skenario yang begitu kejam yang sedang diatur.
"kalau begitu aku permisi dulu ya Mami nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku saja dan kalau ingin sesuatu tinggal bilang, karena sampai di ujung dunia pun aku tetap bakalan mencarinya agar Mami bisa mendapatkannya dengan mudah! "pesan Angkasa sesaat sebelum keluar dari kamarnya Stella dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja karena tidak ingin merepotkan siapapun saat ini.
Stella menghembuskan nafasnya kasar karena tidak percaya di rumah ini ada banyak orang namun satupun sepertinya tidak ada niatan untuk mencari keluarganya yang hilang, atau lebih tepatnya mungkin dirinya yang menghilang Soalnya keluarganya mana mungkin pergi menjauh karena ia sangat tahu bagaimana bisnis suaminya.
Jika ditanya kenapa wanita itu tidak kabur jawabannya tentu saja ada niatan untuk kabur namun pertanyaannya Apakah bisa, ya jawabannya Tentu saja tidak bisa karena Marcell selalu memberikan pengawasan yang begitu ekstra sampai-sampai membuat ruang gerakannya begitu sempit belum lagi di setiap sudut ruangan ada pengawal yang selalu berjaga .
Angkasa berpapasan dengan Marcel yang juga Tengah menatap ke arah anaknya itu Sedangkan pria tersebut memilih untuk tidak peduli dan keluar dari rumah, hari ini ia benar-benar sudah tidak bisa menunggu sampai besok karena menurutnya kalau sampai dirinya terlalu menunggu alhasil Stella bakalan pergi.
__ADS_1
Senja ingin berbicara dengan papanya karena menurutnya sudah cukup Leonardo mengabaikan keberadaannya Dengan Rembulan Dan sudah cukup juga Papanya Itu bertingkah seperti orang yang stres sendirian, seharusnya dia juga mengerti tentang kondisi psikis anaknya Ketika Harus terpisah dengan orang tuanya dan ketika Papanya Itu sudah sadar bukannya memperhatikan mereka Tetapi malah mengabaikannya.
"Papa hari ini Senja mau berbicara, Terserah mau dengar atau tidak yang penting intinya tolong! "seru Senja lantang membuat Leonardo yang tengah capek karena harus memposi tenaganya untuk urusan pekerjaan dan juga memikirkan tentang pencarian istrinya.
Leonardo memilih untuk mengabaikan perkataan anaknya itu sebab menurutnya senja tidak paham apapun kondisi saat ini, yang penting intinya segala macam kebutuhan mereka sudah terpenuhi Jadi sepertinya tidak usah terlalu meminta yang aneh-aneh.
Senja yang merasa diabaikan seperti begitu ya jelas saja tidak terima kalau memang masalah keluarga mereka biasa saja Ya tidak masalah, tetapi ini menyangkut dirinya dan juga saudara kembarnya jadi otomatis Leonardo yang merupakan orang tua mereka seharusnya bisa bersikap adil.
"Papa pikir dunia ini hanya Papa saja yang merasakan kehilangan Mama, aku dan Kak Rembulan tidak sama sekali? Kami lebih kehilangan karena kedua orang tua kami selama belasan tahun tidak memberikan perhatian dan juga kasih sayang, serta kami hidup di bawah tekanan nenek yang tidak pernah mengerti dengan perasaan kami bahkan terkesan seperti tidak menginginkan kehadiran kami di sini! Setelah Papa sadar bukannya menggantikan yang hilang malah sibuk dengan dunia sendiri, kalau tahu seperti begini kejadiannya lebih baik saat itu kami tidak usah diselamatkan sekalian biar menghilang juga! " Senja benar-benar marah kali ini Terserah mau dikatakan sebagai anak durhaka tidak masalah.
Rembulan yang ingin keluar jalan-jalan di salah satu Mall langsung menghentikan langkah kakinya di ujung tangga ketika mendengar adiknya itu berbicara demikian terhadap Leonardo, sebenarnya perkataan Senja itu mewakili dirinya hanya saja Ia tidak percaya jika gadis cengeng dan juga manja yang selalu saja menuntut perhatian itu ternyata begitu berani mengatakan semua unek-unek yang ia rasakan.
Rembulan tidak ada niatan untuk menimpali apalagi untuk bergabung dengan Senjana dalam membuka pikirannya Leonardo, sebab dilihatnya tatapan Leonardo begitu tidak bersahabat dan benar saja pria itu kini mendekati Senjana kemudian mengangkat tangannya untuk menampar gadis itu.
"kamu kalau sudah capek di sini silakan pergi saja dan baru boleh kembali setelah istriku kembali, gara-gara merayakan ulang tahun kalian membuat aku harus kehilangan dia! Apakah kalian tidak tahu bahwa untuk mendapatkan dia itu aku harus berjuang mati-matian, sedangkan kalian di sini menikmati fasilitas dari keluarga Sky sedangkan istriku Entah di mana sekarang Aku tidak tahu sama sekali! Sekarang kamu minta agar aku memberikan perhatian untuk kamu dan juga Kakak kamu itu, jawaban dari diriku kalau aku tidak akan memberikan itu sama sekali karena menurutku kalian itu adalah orang asing! "bentak Leonardo yang begitu kasar membuat Senjana tersentak karena tidak percaya jika Papanya sampai mengeluarkan kata-kata seperti begitu.
"Biarkan saja dia mau ngomong seperti apapun yang penting intinya tidak merugikan kita kan, Terserah Kalau dia mau mencari istrinya sampai ke ujung dunia pun sampai Bosan pun tidak masalah nanti kalau capek juga pasti bakalan berhenti sendiri! "sahut Rembulan yang tidak terlalu ambil pusing dengan perubahan sikap dari Leonardo sebab menurutnya selama 15 tahun hidup tanpa kasih sayang orang tua pun ia masih bisa bernafas sampai sekarang.
Senja benar-benar frustasi ketika semua orang yang ada di rumah itu satupun tidak ada yang peduli dengan apa yang ia katakan dan keluh kesannya, sebab sekarang Leonardo sudah kembali ke kamarnya Sedangkan Rembulan sudah pergi entah ke mana Tidak seperti biasanya yang mau pergi ke mana pun pasti akan mengajak dirinya.
Rembulan sudah mengendarai mobil miliknya menuju ke salah satu pusat perbelanjaan karena kebetulan ia sudah janji dengan teman-temannya, dan tanpa dirinya sadari ternyata dari tadi kediaman keluarga Sky sudah dimata-matai oleh orang suruhan dan saat Rembulan keluar Mereka pun mulai membuntutinya.
"target sudah keluar dari rumahnya bos, Apakah anda ingin kami langsung mengeksekusinya? "tanya salah satu orang suruhan yang saat ini telah membuntuti Rembulan.
"habisi dia, jangan meninggalkan jejak dan barang bukti yang penting Intinya jangan sampai dia masih hidup! "sahut majikan mereka di seberang.
Rembulan tidak menyangka kalau hari ini adalah Hari terakhirnya melihat keluarganya dan juga tidak menyangka jika hari ini merupakan Hari terakhirnya Senja berbicara dengannya, karena setelah itu matahari tidak akan pernah nampak di wajahnya dan Rembulan seperti namanya pun tidak akan pernah bisa menerangi malamnya lagi.
__ADS_1
Ketika mereka berada di jalanan yang sempit dan di sebelah kanannya adalah sebuah jurang yang sangat dalam, Rembulan merasa bahwa ada mobil yang membuntutinya membuat dirinya melajukan mobil dengan begitu kencang tetapi naas dari depan adalah sebuah mobil box yang tengah menghalangi jalannya sehingga membuat wanita itu penting setir dan langsung terjun bebas ke dalam jurang.
"Senja...
Brak
Senjana merasa terkejut ketika tanpa hujan tanpa angin foto dirinya dan juga rembulan yang sedang ditempel di dinding jatuh begitu saja, dan di seberang sana secara tidak langsung Rembulan memanggil adik kembarnya itu dan setelah itu semuanya gelap tak berbekas.
"Lah kok bisa jatuh, perasaan mau ada gempa sekalipun dia tidak pernah jatuh deh? Aduh perasaanku kenapa ya Jadi tidak enak seperti ini, mau ngobrol juga sama siapa karena Bulan juga pergi tidak mungkin kan sama nenek yang hobinya hanya marah-marah? "resah Senja yang memilih untuk tetap di dalam kamarnya tetapi Percayalah hati dan pikirannya sebenarnya sedang tidak berada di tempatnya.
Nirmala memasuki kamar putranya yang tengah duduk di depan jendela sambil mendongakkan kepalanya ke atas, wanita itu sebenarnya kecewa dengan sikap putranya karena menurutnya terlalu terbawa perasaan sampai-sampai lupa dengan tanggung jawabnya.
"sudah ketemu pencarian kamu selama ini terhadap wanita itu? "tanya Nirmala tanpa tedeng Aling.
Leonardo membuka matanya karena tidak percaya jika Mamanya itu mengetahui apa yang ia lakukan, Padahal selama ini dirinya selalu melakukan secara diam-diam agar Nirmala tidak tahu dan juga mencegah dirinya.
"Emangnya aku melakukan apa, Mama jangan ngomong asal deh orang yang aku ke kantor dan bekerja di sana! "Leonardo sengaja berkelit agar Mamanya itu tidak terlalu banyak bertanya sebab hidupnya sudah ribet tidak perlu harus menjadi seorang penceramah dadakan lagi.
"Wah ternyata kamu selain lupa bahwa ada anak-anak kamu dan kamu juga bisa ya lupa dengan apa yang kamu lakukan, Memangnya kamu lupa siapa Mama kamu ini sampai-sampai tidak bisa mengetahui Apapun yang kamu lakukan di luar sana? "tanya Nirmala dengan tatapan matanya yang menuntut jawaban dari Leonardo saat itu juga.
"Mama masalahku sudah banyak Tolong jangan ditambah lagi, nanti setelah aku merasa enakan baru kita berbicara tetapi untuk sekarang Aku Mohon pengertiannya. "Leonardo harus terpaksa menyela perkataan Mamanya itu.
"Ya sudah tidak masalah kalau memang kamu tidak mau jujur tetapi intinya rubah Kebiasaan buruk kamu itu, mulai sekarang urusi anak-anak kamu karena kalau memang kamu tidak ada niatan untuk mengurusi mereka lebih baik kirim saja sekolah asrama di luar negeri atau apapun itu, "perintah Nirmala lalu segera keluar dari dalam kamarnya Leonardo membiarkan pria itu mau berpikir apapun sampai capek sendiri.
Senja tidak bisa beristirahat dengan tenang karena pikirannya hanya tertuju kepada rembulan, apalagi Sekarang sudah jam 8 malam tetapi wanita itu belum kembali juga Padahal selama ini tidak seperti itu kebiasaannya.
sedangkan di kediaman keluarga konglomerat yang begitu megah ayah dan anak itu sedang tertawa bahagia, karena akhirnya berhasil melenyapkan satu nyawa penghalang kebersamaan mereka dengan sang Ibu.
__ADS_1
"Akhirnya satu pengganggu sudah pergi tinggal dua orang lagi! "ujar anaknya yang tersenyum Devil.