
Senja merasa Hari ini adalah hari baru baginya tidak boleh terpuruk terus kepada kejadian yang sudah Terlewatkan selama sebulan ini, dirinya harus bisa bangkit mengubah masa depannya harus sesuai dengan jalannya Dan intinya ia tidak boleh hanya seperti begini terus menangis dan meratap tanpa ada kejelasan sama sekali.
Senjana Bukannya tidak ingin menunjukkan rasa berdukanya akibat Kehilangan dari saudara kembar tersayangnya itu, hanya saja ia tidak mungkin menangis dan menangis melewatkan hari tanpa melakukan apapun sebab yang sudah pergi tidak mungkin kembali lagi dan yang ada nantinya yang sedang hidup bakalan menyusul orang yang sudah meninggal.
Rembulan kalau pergi liburan Ya tidak masalah ditunggu seperti apapun pasti nanti akan kembali tetapi ini Gadis itu pergi untuk selama-lamanya menghadap kepada penciptanya, untuk melaporkan dosa yang selama ini ia lakukan untuk mendoakan orang-orang dari keluarganya dan juga yang paling ia sayangi yang masih berkeliaran di muka bumi ini agar kelak segala macam kesalahannya diampuni.
Senja selama sebulan ini tidak pulang ke rumah sama sekali bahkan segala macam akses untuk dihubungi dan juga bertemu dengan Leonardo ia tutup total, karena dirinya ingin benar-benar menyendiri sendirian tanpa ada gangguan sedikitpun dan mungkin dengan begitu pikirannya bakalan lebih terasa begitu jernih lagi?
Leonardo kebingungan harus seperti apa karena bukan dirinya tidak tahu di mana tempat tinggalnya Bella saat ini, Namun Percuma saja kalau tahu tempat tinggal itu tetapi untuk bertemu dengan orang yang sedang ia cari di dalamnya tidak bisa juga karena memang senja terlihat ogah menerima kehadirannya apalagi sekedar berbicara.
"kamu yakin hari ini bakalan pergi ke kampus? kalau memang kamu masih merasa kurang nyaman dengan suasana di sana kemudian masih mengingatkan kamu kepada seseorang, Bukankah lebih baik kamu mengambil cuti beberapa waktu lamanya karena pihak kampus pasti paham dengan apa yang kamu rasakan sekarang ini? "tanya Bella penasaran soalnya Ia memang tidak tega ketika melihat senjana yang harus pura-pura terlihat baik saja padahal kondisi psikisnya sedang terguncang hebat.
Senjana tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya karena menurutnya Biarkan saja orang lain mau berpikiran apa kemudian biarkan saja mereka maunya seperti apa, yang penting dirinya ya tetap bakalan seperti ini tidak akan pernah yang namanya mangkir dari tugas sekolah Sudah Cukup selama sebulan ini ia beristirahat tanpa melakukan apapun dan mungkin bisa dibilang hanya numpang tidur makan doang di rumahnya Bella dan mungkin setelah ini ia bakalan mencari apartemen agar dirinya bisa nyaman tinggal di sana tanpa gangguan siapapun dan juga tanpa bayangan dari saudara kembarnya itu'
" Aku baik-baik saja kok pokoknya intinya kamu tolong Tenang saja ya karena Aku sudah besar Masa iya tiap hari hanya di rumah terus, nanti kapan perlu jadi dokternya terus nanti kapan aku bisa jadi orang suksesnya kalau cengeng terus! "sahut Senjana sambil tersenyum karena memang harusnya seperti itu tidak selamanya terpuruk pada satu kejadian sedangkan ada kejadian yang lain yang pastinya lebih indah mungkin yang lebih menunggumu'
Bella hanya ingin menyampaikan pendapatnya saja itu semua tergantung dari Senja mau mendengarkannya atau tidak, kalau memang mau Ya syukur kalau tidak mau pun tidak masalah yang penting intinya sudah diucapkannya dengan begitu wanita itu yakin kalau mereka baik-baik saja.
" Ya sudah kalau begitu kita berangkat pakai mobil saja deh soalnya kamu kan pasti trauma kan kalau nyetir sendiri, Oh iya nanti kalau sampai di sana misalnya Angkasa mau berbicara dengan kamu Ya sudah kamu respon saja soalnya dia tidak seburuk amat kok yang seperti kamu pikirkan? buktinya Selama kamu ada di sini dia hampir tiap malam loh datang kemudian memastikan keadaan kamu Lalu setelah itu dia pulang, Angkasa kalau bukan pria baik-baik tentunya dia tidak akan mau datang di sini soalnya setiap kali datang pasti kamu usir terus! "bujuk Bella sebab menurutnya Respon yang diberikan oleh Senja terlalu berlebihan ketika bertemu dengan Angkasa seolah-olah pria itu adalah penjahat dan tidak pantas untuk didekati.
Senja bukanlah seorang malaikat yang harus bersikap biasa saja ketika bertemu dengan seorang pria yang sangat disukai oleh Rembulan, masih segar dalam ingatannya ketika saudara kembarnya itu selalu melarang dirinya agar Jangan coba-coba berhubungan dekat dengan Angkasa sebab pria itu hanyalah miliknya saja bukan miliknya orang lain termasuk dirinya.
__ADS_1
" Aku tetap pada pendirianku yaitu tidak akan pernah berhubungan dengan siapapun yang ketika Rembulan masih ada sudah melarangnya, Mungkin memang seharusnya seperti begini karena kalau ada seorang pria di sampingku rasa-rasanya ruang geraknya aku bakalan selesai !" Jelas Senja.
Bella sangat ingat dengan benar ketika Rembulan melarang Senja agar Jangan berhubungan dengan pria manapun, termasuk Angkasa yang sudah diklaim sebagai miliknya jadi otomatis yang memang sehingga tidak bisa berbuat banyak.
hari ini Leonardo memilih untuk tidak pergi ke kantornya karena dirinya ingin pergi ke kampus anaknya untuk bertemu dengannya sekaligus meminta maaf, karena mungkin selama dirinya siuman tidak pernah memberikan perhatian untuk Senja maka dari itu sekarang ia ingin meminta maaf untuk segala kesalahannya dan akan memperbaikinya serta berubah.
Sesampainya di sana terlihat Senja sudah turun dari mobilnya Bella dengan memasang tatapan datarnya, dirinya terlihat begitu berusaha Tegar tidak tersirat bahwa kemarin baru saja mengalami kejadian yang tidak menyenangkan.
"Senja, Papa mau ngomong sama kamu sebentar nak! Tolong jangan menghindar lagi karena hal ini sudah membuat Papa benar-benar merasa bersalah dengan kamu, sekarang hanya kamu yang Papa punya di dunia ini kalau misalnya kamu menjauh lagi terus Papa sama siapa nantinya?" tanya Leonardo dengan tatapan memelasnya berharap agar anaknya itu paham kalau selama ini dirinya sudah melakukan kesalahan dan ia telah mengakui kesalahan itu dan tidak akan pernah mengulangi hal itu lagi.
Senja mendengar kesal ketika mendengar perkataan yang dikeluarkan oleh Papahnya tadi, sebenarnya memang Leonardo tidak salah karena respon kaget setiap orang ketika baru saja mengalami sesuatu hal besar ya bermacam-macam terkadang selama sebulan terkadang lebih dari itu.
Senjana mencoba untuk tersenyum karena Kasihan juga sih kalau selama ini sudah terlalu banyak menyiksa Papanya, maka dari itu sekarang mungkin saatnya mereka merubah keputusan merubah gaya hidup dan juga lebih bisa saling menjaga soalnya sudah tidak punya siapapun lagi.
Leonardo tersenyum bahagia ketika melihat anaknya itu sudah mulai membuka hatinya tidak mempermasalahkan semua yang pernah terjadi kemarin-kemarin, sebagai orang tua ini adalah hal yang paling dirinya nanti kan sambil menunggu kira-kira ada hasil terpenting apa yang didapatkan oleh tim laboratorium forensik kepolisian untuk menganalisis kasus kecelakaan yang terjadi.
Angkasa sebenarnya tidak ada niatan untuk pergi kuliah lagi soalnya dirinya itu sudah tamat S2, masa iya sekarang harus mengulang kembali hanya demi untuk membuntuti seorang gadis yang jelas-jelas sudah sangat membencinya dari awal.
" Kamu kenapa pagi ini belum siap sama sekali, perasaan katanya mau kejar apalah itu tetapi sudah sebulan lebih loh kamu ada di rumah? Memangnya tidak ada niatan buat belajar lagi katanya dulu Pengen kuliah lagi daripada bosan di rumah, terus sudah dikasih kuliah ulang ambil jurusan lain eh malah ditinggalkan begitu saja? "tanya Stella ketika melihat Angkasa pagi ini tidak ada niatan untuk bergerak sama sekali mau pergi ke mana gitu.
" lagi malas Mami soalnya mau ke sana juga ketemu sama siapa orang kangen tapi sebulannya nggak bisa ketemu, sudah coba untuk tebar pesona tetapi dianya tetap tidak terpesona ya akhirnya anakmu ini jadi Sebatang Kara seperti ini! "ujar Angkasa mendramatisir keadaan membuat Stella ingin sekali tertawa karena tingkah lucu dari pemuda itu.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu Jangan jadi kebiasaan malasnya Ayo sekarang pergi kegiatan apa gitu, atau mungkin membantu Papi kamu di kantor soalnya kasihan itu orang tua tidak ada kata liburnya Halo selama hidupnya! " perintah Stella yang meskipun terlihat tidak peduli terhadap Marcel tetapi Biar bagaimanapun pria itulah yang menanggung segala macam beban pengeluaran dalam hidupnya.
Angkasa Tentu saja tidak menolak perintah yang diberikan oleh maminya Itu, sebab biar bagaimanapun perkataan Stela itu adalah mutlak harus ia lakukan dan begitu sudah di sugestikan di dalam hidupnya selama ini.
" pagi semuanya, kalian lagi ngobrolin apa sih sampai-sampai terlihat begitu asyiknya sampai melupakan keberadaan Papi di sini? "tanya Marcel penasaran.
"hari ini Angkasa akan ikut kamu ke kantor karena kebetulan Hari ini aku akan pergi mengecek kediamanku yang lama dulu, biar sudah kalau kamu tidak mau mengurusnya tidak masalah soalnya aku tahu kamu pasti repot jadi kali ini biarkan aku melakukannya!" ujar Stella membuat Marcel yang tadi hendak mengambil roti langsung mengurungkan niatnya.
Marcel bukan tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh wanita itu dan jika sampai hal itu terjadi maka bisa dipastikan Stella akan pergi dari kehidupan mereka selamanya, ketika ia menoleh ke arah Angkasa terlihat muda itu juga tidak peduli seolah-olah tidak ada yang salah jika Stella kembali ke rumahnya yang lama.
" Kamu yakin mau kembali ke sana, memangnya tidak ada niatan untuk menunggu dulu sampai ada waktu yang pas gitu? Oke kalau begitu biar aku antar Nanti pekerjaan di kantor nanti dihandle saja sama angkasa, soalnya tidak ingin kamu ke sana sendirian takut jangan sampai nanti ada Rasa trauma yang muncul? "ujar Marcel yang sebenarnya tidak ada yang salah juga sih karena memang biasanya ada trauma yang tiba-tiba muncul ketika melihat sesuatu yang membuat kita menjadi ketakutan dan juga memikirkannya secara terus menerus.
Stella terlihat menggelengkan kepalanya mati-matian karena menurutnya jika Marcel yang mengantarkannya pergi maka akhirnya akan seperti kemarin-kemarin, yaitu ia tidak akan pergi kemanapun karena pria itu malah memutar mobilnya ke sana kemari berpura-pura tidak mengingat kediamannya yang lama dan juga mengatakan bahwa ia tidak tahu alamatnya karena mereka juga baru di situ.
" Aku tidak mau mengganggu pekerjaan kamu dan akhirnya kamu kehilangan klien hasil akhirnya kita bakalan kesusahan di sini, memangnya kalau misalnya kamu tidak menjalankan perusahaan terus tidak ada penghasilan kami kamu mau kasih makan pakai apa? "tolak Stella yang hanya ingin beralibi saja agar Marcel benar-benar tidak ada niatan ataupun mengubah keinginannya yang tadi.
Marcel tetap pada pendiriannya dan kali ini ia sudah memegang tangan Stella menatapnya dengan penuh permohonan agar wanita itu mau mengizinkannya ikut pergi ke manapun, Entah mengapa tiba-tiba ada perasaan takut jangan sampai memang setelah benar-benar mengingat soal rumah yang dulu pernah IA tinggali bersama keluarganya dan Sesampainya di sana mungkin ada Leonardo atau anak-anaknya gitu.
Stella menata penuh tanda tanya ke arah Marcel yang menurutnya tingkahnya sangat aneh hari ini, padahal Ia ingin pergi ke rumah yang dulu pernah IA tinggal di bukan mau pergi menceburkan diri ke manapun.
" Kamu kenapa kelihatan seperti ketakutan itu padahal aku kan hanya pergi ke rumah rumah keluargaku bukan untuk menghilang dari pandangan kamu, aku jalannya juga bareng sama sopir rumah ini loh yang otomatis pasti akan memberitahukan kamu satu kali 24 jam tentang apa yang aku lakukan di luar sana kan?Angkasa saja tidak keberatan ketika aku pergi Padahal selama ini dia yang paling posesif tidak ingin aku ke mana-mana Nanti katanya celaka, terus kalau misalnya kamu melarangku seperti begini terus aku itu rasa-rasanya seperti kerbau yang dicuci hidungnya tidak bisa bergerak kemanapun mengikuti saja kemauannya kamu! "omel Stella kesal nafsu makannya tadi yang begitu menggebu-gebu menguap pergi begitu saja akibat mendengar penolakan dan juga sikap Marcel yang menurutnya terlalu mengekang kebebasannya Padahal jelas-jelas mereka bukan siapa-siapa dan Stella juga bukan anak kecil.
__ADS_1
Marcel mengusap wajahnya frustasi karena Percayalah ini merupakan sebuah pilihan yang sangat sulit yang harus ia hadapi dan juga harus mengambil keputusan saat itu juga, Padahal kalau mau melakukan sesuatu yang biasa saja pria itu tidak terlalu sampai seperti ini karena Stella beraktivitas di dalam rumah tidak keluar seperti yang direncanakan oleh wanita itu.
" pokoknya aku bakalan ikut Kemanapun kamu pergi dan Terserah kamu mau atau tidak karena kalau memang kamu tidak mau ya sudah tidak usah pergi sama sekali, Tolong sekali ini dengarkan permintaanku karena aku juga capek berdebat dengan kamu setiap saat yang tidak pernah mau mengalah dan inginnya Hanya Untuk didengar! "ujar Marcel kasar.