SENJA DAN REMBULAN

SENJA DAN REMBULAN
Kangen


__ADS_3

Jimmy hanya bisa menghela nafasnya kasar ketika posisinya saat ini berada didepan kamarnya Senja,dirinya sangat merindukan gadis kecil dulu yang sangat bergantung padanya bahkan bisa dibilang diri nya adalah orang yang selalu ditunggu kedatangannya.


"Apa jadi mau pamitan dengan Senja? Soalnya itu anak kalau tidur sudah kaya kerbau yang lagi berhibernasi tidak mau bangun ,jadi Tante sarankan lain kali saja ya biar tidak capek menunggu ," saran Bintang.


Jimmy sebenarnya tidak masalah jika menunggu sampai besok pagi hanya sekedar menyapa ,hanya saja dirinya tidak enak hati kepada Leonardo dan juga Bintang yang pasti nya juga ingin beristirahat akibat seharian beraktifitas di luar rumah.


" Ok sudah kalau begitu Tante ,aku pamit dulu nanti lain waktu baru aku bakal bertemu dengan Senja," pamit Jimmy.


"Itu anak kenapa sih harus merubah namanya menjadi Jimmy,dengan begitu ya Senja otomatis tidak akan pernah mengenali nya lagi kan ?" ujar Bintang protes.


Leonardo tertawa mendengar Bintang yang memang dari awal protes dengan pemilihan nama Jimmy yang menurutnya sangat ribet dan susah sekali untuk disebut ,hanya saja pemuda itu punya alasan yang jelas dan juga masuk akal makanya ini semua berjalan sesuai rencana.


"Biarkan saja dia mau merubah namanya menjadi apapun karena mungkin dia merasa nama itu paling gaul dibandingkan apapun,jadi seharusnya kita itu menghargai apapun yang dilakukan oleh orang-orang sekitar kita yang penting mereka selalu ada," ujar Leonardo yang sudah merangkul bahu istrinya agar bisa dibanting diatas kasur.


Nirmala saat ini tengah murka ketika tahu bahwa anaknya itu meminta tolong kepada Himawan untuk membantunya menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Rembulan,padahal Leonardo sendiri tahu kalau dirinya itu sangat membenci Himawan bahkan dari mereka berdua masih menjadi murid SMA.


" Jadi maksud kamu Sekarang itu Leonardo meminta tolong kepada Pak Tua itu untuk membantunya dalam menyelidiki kasus nya Rembulan,apa dia lupa kalau punya Mama yang lebih hebat dari bandit satu itu?" Omel Nirmala kesal karena entah mengapa ketika mendengar nama Himawan maka emosinya akan langsung meledak saat itu juga padahal sebenarnya Himawan saja sudah melupakan kejadian tersebut.


"Ya mungkin karena mereka sebagai rekan bisnis jadi sepertinya tidak ada salah sama sekali jika saling tolong menolong satu sama lain,mungkin dengan begitu mereka akan semakin akrab karena mengerti satu sama lain dan tidak akan terpisahkan?" ujar Baron.


"Apa?? Oh Tuhan,bajingan kecil itu siapa yang menyuruh dia berbisnis dengan Himawan? Pokoknya aku harus kerumah nya Leonardo sekarang juga karena sudah berani membantah,dia pikir aku bakal tinggal diam begitu ketika tahu dia salah mengambil keputusan?" Nirmala sepanjang perjalanan hanya mengomel sampai lupa kalau sekarang sudah jam 9 malam yang otomatis pasti semua orang sudah pada beristirahat.


"Apa tidak sebaiknya kita bertamu dipagi hari saja,Nyonya?" Tanya Baron yang benar tak merasa enak hati ketika ada yang berani tidur nyaman orang lain.


"Mas,pelan pelan dong," ujar Bintang yang sudah tidak mampu lagi mengimbangi permainan suaminya.


"Maaf Sayang,soalnya sudah puasa beberapa dekade jadi harusnya semakin liar," Sahut Leonardo yang masih terus bergoyang diatas tubuh istrinya.


"Ahhh ini kayanya pake penjepit deh?" ujar Leonardo membuat Bintang ingin sekali tertawa.


"Leonardo,buka pintunya sekarang !" teriak Nirmala.


Senja yang kebetulan sedang berada di dapur karena haus hanya mendengus kesal karena sepertinya dirinya yang menjadi korban selanjutnya,karena ia yakin Papa dan juga Mamanya pasti tengah tertidur padahal woii mereka lagi goyang ngebor gaes hanya saja kamarnya kedap suara akhirnya ya seperti itu.


"Iya,ada apa ya?" Tanya Senja yang tidak memberikan celah untuk Neneknya itu bisa masuk.


"Anak kurang ajar,cepat minggir jangan halangi jalanku!" sarkas Nirmala kasar.


"Oh Maaf Nek,kalau dirumah Nenek maka itu harus ikut semua perintah Nenek! Akan tetapi ini adalah rumahku jadi Nenek harus ikut peraturan disini dong,jadi harap maklum karena kami tidak terima tamu dijam seperti ini apalagi mau datang terus Marah marah," Tolak Senja santai.


"Wah semakin hari kamu semakin tidak tau dirinya,memangnya kamu lupa jika kamu sampai besar begini karena jasa saya yang menjaga kamu?" tanya Nirmala kasar.


"Ya habisnya mau bagaimanalagi kami mau berbuat baik dengan memperhatikan Nenek tapi malah kena marah terus menerus,jadi orang mau berbuat baik yang seperti apa coba biar impas dan tidak kena marah terus menerus?" Sahut Senja.


Nirmala benar benar sangat kesal hari ini sampai sampai ia ingin marah marah tidak jelas pada siapapun,apalagi ketika mengingat soal Himawan yang bisa bisanya bekerja sama dengan anaknya.


Baron hari ini tumben sepaham dengan Senja yaitu menolak untuk bertemu dengan Leonardo lalu marah marah tidak jelas,coba saja kalau Nirmala datang baik baik ya tentu tuan rumah pasti akan segan.


"Saya rasa lebih baik kita kembali saja Nyonya,karena sepertinya Tuan Leonardo lagi beristirahat sekarang mengingat ini sudah hampir tengah malam," saran Baron.


"Wissss Tumben kita sepemikiran Om jalan Tol?" ujar Senja sambil tersenyum.


"Jalan Tol?" Tanya Baron heran.


"Yaiyalah Jalan Tol,karena datar saja orangnya sampai sampai bisa jadi orang bisu dadakan karena saking datarnya," ejek Senja.


"Kamu ya,kenapa harus jadi anak kurang ajar seperti itu terus....

__ADS_1


"Nenek lebih baik pulang karena ingat umur tidak boleh begadang karena tidak baik lho untuk kesehatan,mau nanti darah tinggi sama kolesterol nya kumat karena kebiasaan buruk itu?" Senjana tidak membiarkan Nirmala menyelesaikan pembicaraannya karena nantinya hanya akan membuat kepala mereka rasanya mau pecah.


"Astaga ini anak...


"Mari Nyonya...


"Dadah Nenek...


Senja saat ini sudah kembali tidur karena ia merasa capek seharian lalu ia harus diganggu oleh Neneknya yang datang lalu marah marah tidak jelas,setidaknya harus diingat dong kalau ini sudah tengah malam jadi semua orang pada beristirahat bukan malah keluyuran tidak jelas dan alhasil menggangu orang lain.


Angkasa malam ini ditugaskan oleh Marcel untuk memantau pergerakan semua anak buah dari Jimmy dan juga Himawan ,ingin melihat kira kira sudah sampai dimana perkembangan pencarian mereka entah sudah menemukan titik terang atau belum.


"Permisi kalau boleh tahu ini ada apa ya ramai sekali ,apa ada proyek yang sedang dibangun?" Tanya Angkasa pura pura tak tahu apapun.


Semua orang yang ada di situ menatap heran kearah Angkasa pasalnya sudah tengah malam tapi masih ada orang yang keluyuran di jalan sepi seperti itu ,padahal seharusnya kan mereka istirahat karena besok masih ada kegiatan yang harus dilakukan.


"Apa anda salah jalan?" Tanya Ali yang ditugaskan sebagai pemimpin.


"Ah tidak juga karena kebetulan saya baru pulang dari tempat hiburan dan melihat keanehan maka dari itu lebih baik mewaspadai lebih dahulu ,kalau memang tidak ada artinya saya permisi dulu danmaaf jika sudah mengganggu waktunya," Jelas Angkasa lalu segera pergi dari situ.


Semua orang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah yang ditunjukkan oleh Angkasa tadi ,begitulah anak muda jaman sekarang pasti hobinya hanya menghamburkan uang orang tua padahal tidak tahu kah mereka kalau uang itu butuh pengorbanan untuk bisa mendapatkan nya.


"Anak jaman sekarang pada aneh tingkahnya,kita yang miskin sedang berusaha menjaga uang agar keluar sesuai dengan keperluan,tapi mereka malah menghamburkan begitu saja sesuai dengan gaya hidup biar dibilang gaul," ujar Ali.


Angkasa pulang kerumah dengan tidak mendapatkan informasi apapun oleh karena semua orang sepertinya langsung mewaspadai kedatangannya tadi,terbukti mereka langsung melontarkan pertanyaan yang menjebak jika salah jawab sedikit saja maka urusan bakal lebih panjang lagi kan?


"Bagaiamana?" Tanya Marcel yang benar benar tidak peduli dengan keadaan dari Angkasa.


"Papi,ya ampun tolong lah jangan kasih kaget seperti itu dong? Aku tak menemukan apapun karena sepertinya mereka mewaspadai kedatangan orang asing,sebab kita baru mendekat saja mereka sudah langsung bertanya seperti itu ," Jelas Angkasa.


Marcel kebingungan jika sudah seperti itu karena memang ia tidak akan pernah menginginkan hal ini terjadi,hanya saja sepertinya tetap akan menjadi masalah jika ini dibiarkan berlarut larut tanpa ada kejelasan sama sekali.


"kosong," Sahut Angkasa.


"Ahh kenapa mereka harus ikut campur terlalu dalam dengan masalah ini,padahal lebih baik jika mengurus pekerjaan mereka saja mungkin lebih menguntungkan dari pada seperti itu ," Marcell terlihat begitu frustasi dengan semua yang terjadi saat ini.


Angkasa juga sedikit merasa penasaran kira kira mereka harus mengambil langkah yang bagaimana agar masalah ini bisa dipastikan segera selesai,apalagi ini menyangkut tindakan kriminal yang benar benar masuk kedalam hukuman yang berat.


"Angkasa masuk kamar dulu, Pi," pamit Angkasa.


Keinginan untuk mendapatkan sesuatu akhirnya mengorbankan orang lain adalah tindakan yang tidak dibenarkan oleh siapapun dan apapun,karena itu sama saja dengan melenyapkan nyawa seseorang dan masuk dalam sesuatu yang direncanakan.


Keesokan paginya tampak Senja bermanja manja dengan Sang mama,Bintang akhirnya tidak bisa menyiapkan sarapan pagi untuk seisi rumah karena tingkah anaknya itu.


"Senja ,tolong jangan monopoli dengan istriku ya! Ayo menyingkir jangan mendekat atau merapat terlalu nanti dia bakal terganggu,oh iya satu lagi jangan cengeng karena Mama dan juga Papa tidak punya permen," ledek Leonardo.


"Biasa Aja kali Om! Mama saja tidak marah kenapa jadi situ yang sewot ya,apa ada larangan anak manja sama orang tuanya?" Sahut Senja.


"Astaga ini anak kenapa sifatnya jadi kaya Mama Nirmala ya?" Tanya Leonardo.


"Yes it's My Grandma," sahut Senja.


"Kalian itu kenapa malah bawa bawa Mama sih,nanti kalau dia dengar bisa panjang urusan nya?" omel Bintang .


"Biarkan saja,daripada nanti tidak ada pembahasan soal dia," ujar Leonardo santai.


"Tadi malam dia kesini lho,terus marah marah tidak jelas ya sudah aku suruh pulang." Senja tidak mungkin membohongi kedua orang tuanya tentang apa yang ia lakukan.

__ADS_1


"Senja,kamu kenapa semakin besar semakin kurang ajar? Nanti kalau Misal Nenek salah paham dan mengira itu semua ajaran dari Mama pasti nanti bakal tambah marah besar,lain kali kalau mau melakukan sesuatu itu tolong dipikir dulu ya kira kira sesuai tidak dengan apa yang seharusnya dilakukan?" ujar Bintang yang benar benar tidak mau ambil resiko.


"Habisnya masa iya datang tiba tiba terus marah marah,malu sama tetangga yang lain kalau ada masalah itu harus datang kemudian bicara baik baik ya masuk akal bukan malah seperti itu?" protes Senjana yang tidak terima jika apa yang ia lakukan semalam malah di anggap itu sebuah kesalahan oleh Bintang.


"Tapi tetap saja mau dia marah atau tidak kamu setidaknya suruh masuk,lalu kemudian panggil Papa dan Mama agar bisa bicara baik baik bukan malah menyuruh dia pulang tanpa tahu alasan dia untuk datang kesini karena apa?" Bintang tidak mau terus menyalahkan anaknya hanya saja ia lebih menekankan sesuatu yang seharusnya dilakukan biar tidak salah mengambil langkah dalam hidup.


"Ya sudah !"


Senja merasa Mood nya langsung hancur ketika ada pembahasan tentang Nirmala,mungkin karena wanita itu yang lebih dahulu menabuh genderang perang jadi semua orang terdekatnya memilih untuk menjauh saja biar tenang.


"Pagi Cantik,hari ini suntuk amat?" Sapa Bella.


"Lagi bete,"


"Why?


"Entahlah,rasanya malas sekolah karena ini merupakan rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan," ujar Senja.


"Makanya pacaran dong biar ada yang memotivasi agar kamu bisa rajin datang kekampus,kalau tidak ya bakal seperti itu karena ogah ogahan terus," saran Bella.


"Sisir rambut saja masih hancur berantakan apalagi menjalani sebuah hubungan,yang ada bakal tambah mumet dan alhasil setengah hari bubar," Tolak Senja.


"Ye jangan pesimis dong, noh lihat pangeran kamu datang," Bella sengaja menunjuk kearah Angkasa yang baru datang.


"Cieee yang lagi kangen,cara lihatin ayang nya saja macam itu biji mata mo talepas dar de pu tempat?" Bella sengaja menggunakan logat asli Papua karena kebetulan Papanya berasal dari sana ya meskipun ada darah campurannya.


"Ko stress kah," sahut Senja tak mau kalah.


"Pagi Sayang,pagi Bella," sapa Angkasa.


"Aw awww,gue terpesona," bisik Bella.


"Pagi Langitku," sahut Senja yang ingin memanasi Bella biar tambah terjungkal begitu.


"Ya ampun Ayang Davin tolong Bebep mu ini," Bella sengaja memeluk Davin tepat dihadapanya Senja.


"Lebay ih,"


"Kalau mau aku siap nih?" tawar Angkasa.


"Kamu semalam tidak tidur,kok mata kamu ada lingkaran pandanya?" Tanya Senja heran.


"Ciee perhatian nih," ledek Bella.


"Aku merindukan kamu,aku bahkan sangat Kangen sama kamu," ujar Angkasa.


"Tapi aku mah biasa saja," Senja mana mau berkata jujur karena memang kenyataan seperti itu.


"Bohong?" Bella dari tadi tidak berhenti menggangu.


"Kalau aku lebih Rindu sama kamu," entah darimana tapi Jimmy tiba tiba muncul tepat dihadapanya Senja.


Senja mengerutkan keningnya karena selama beberapa hari ini dirinya selalu bertemu dengan pria itu,padahal selama ini tidak pernah sama sekali.


"Kamu...


"Kalian belum sah,bahkan berpacaran saja masih maju mundur jadi jangan marah!" Jimmy terlihat begitu santai ketika Angkasa yang tidak suka dengan kehadirannya.

__ADS_1


Angkasa sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan Jimmy itu,karena pria itu menyiratkan seolah Senja adalah milik siapapun.


__ADS_2