
Stella jelas saja tidak terima ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Marcel barusan, seharusnya pria itu sadar jika dirinya bukanlah anak kecil ataupun tahanan seseorang sampai-sampai dilarang untuk pergi ke manapun keluar rumah.
wanita itu bahkan tidak suka ketika melihat pria yang terlalu posesif secara berlebihan Padahal sejatinya mereka tidak punya hubungan apapun, karena dirinya pun membiarkan Marcel bebas di luar sana mau melakukan apapun dengan wanita manapun dirinya tidak pernah mengekang hal itu karena memang harus sadar posisi dan juga sadar Status kalau mereka berdua tidak punya ikatan sama sekali.
"Kamu itu kenapa sih hobinya sekali mengekang kehidupanku seolah-olah Aku ini adalah istri kamu yang harusnya kamu jaga setiap saat, menikah sana biar enak sekalian jangan terlalu mengganggu kehidupan orang lain dan juga mengatur-mengatur aku yang jelas-jelas istrinya orang lain! masa iya aku pergi mencari keberadaan keluargaku saja kamu tidak boleh kan sama sekali, seperti aku ini sedang ingin membuat kejahatan di luar sana dan alhasil membuat kamu merasa tidak suka! "ujar Stella kesal sampai-sampai sekarang dirinya sudah menjauhkan semua piring dari harapannya karena makannya pun sudah tidak bernafsu lagi dan tenggorokannya pun sudah tidak bisa lagi dipakai untuk menelan makanan tersebut.
Marcel pun terlihat berdiri menantang ke arah wanita itu yang menurutnya sudah terlalu berani, bertahun-tahun ia selalu sabar tetapi sepertinya kesabarannya itu tidak pernah membuahkan hasil karena kondisinya tetap sama saja.
Angkasa hanya bisa terdiam ketika melihat kedua orang tuanya saling debat seperti itu Karena posisinya dirinya di sini hanyalah seorang anak yang tidak punya hubungan apapun dengan mereka, kalau misalnya terlalu ikut campur sangat jauh yang ada mereka bakalan melakukan hal yang tidak tidak kepadanya pun ia tidak tahu sama sekali yang maklumlah dirinya Maha bisa apa selama ini tidak berani membantah hanya mengikuti saja yang mereka perintahkan.
" Ya jelas dong aku harus lebih posesif sama kamu karena selama ini yang mengurus kamu yang membiayai kehidupan kamu dan juga menjaga kamu ya adalah aku, jadi kalau misalnya kamu keberatan ya aku juga lebih jelas keberatan lagi karena Harusnya kamu lebih mendengarkan apa yang aku katakan bukan hanya memikirkan diri sendiri!" jelas Marcel membuat Stella ingin sekali menusuk biji mata pria itu supaya kalau ngomong sedikit pintar.
" Wah terus pertanyaannya selama ini aku pernah meminta kamu memberikan sesuatu kepadaku, lihat tuh ATM kamu kasih pun tidak pernah aku pakai uangnya karena mau dipakai di mana Soalnya selama ini kan aku tidak pernah bergerak bebas? oh iya dengan semua perhiasan yang ada Memangnya kamu pernah melihat ada yang menggantung di Leherku, ataupun anting di telingaku tidak ada kan karena memang aku tahu itu bukan kepunyaanku semuanya kamu membelinya hanya ingin agar aku bertahan di sini! Seharusnya kamu sadar dong kalau aku menolak kamu selama ini dan juga perhatian yang kamu berikan Ya karena alasannya seperti ini, seolah-olah Aku adalah wanita yang benar-benar sangat mata duitan lah?" ujar Stella dengan nada bicara yang sudah meninggi sampai-sampai membuat asisten rumah tangga yang di belakang yang tengah sibuk mengurus dapur langsung mendekat ke arah ruang tengah tetapi dalam keadaan bersembunyi Sebab mereka tidak menyangka jika keributan majikan mereka itu sudah sampai keluar kamar Padahal selama ini dari mereka hanya sekitar area kamar saja tidak sampai keluar rumah seperti saat ini.
" Astaga Nyonya kalau marah sungguh sangat menakutkan Ya sampai-sampai Tuan Marcel pun tidak berani membantah, Ya Tuhan Semoga rumah ini selalu saja damai dan juga tidak ada yang namanya saling memusuhi satu sama lain! "ujar asisten rumah tangga yang bernama Beatrix itu.
Stella yang sudah merasa capek memilih untuk duduk tersendiri di ruang tamu sambil menitikkan air mata karena benar-benar merasa frustasi dengan hidupnya saat ini, tidak ada satupun orang yang mau mengerti dan memahami keadaannya bahkan bisa dibilang mereka maunya didengar tetapi tidak pernah mau mendengarkan apa yang ia katakan.
" Aku tidak ingin ada di sini Kenapa saya tidak ada yang datang menjemputku ataupun mencariku selama belasan tahun ini, Mungkinkah mereka berpikiran kalau aku sudah mati dan akhirnya mereka memilih untuk melupakanku dan bahkan tidak mencari keberadaanku sama sekali? "batin Stella tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun sampai-sampai tidak sadar kalau saat ini Marcel Tengah berjongkok di hadapannya sembari memegang tangan wanita itu karena memang ia benar-benar merasa bersalah tadi sudah sempat membentaknya.
__ADS_1
Marcel bahkan merutuki kebodohannya karena bisa-bisanya membuat Stella menangis seperti ini hanya karena keegoisannya dan juga sifat yang tidak mau mengalah, mungkin karena beban pikirannya sudah terlalu banyak dan juga beban pekerjaan yang tidak tahu habisnya membuat pria itu sedikit merasa emosinya tidak bisa dibendung.
" maafkan aku karena tadi sudah berkata kasar kepada kamu dan maafkan juga segala macam kekuranganku selama ini yang membuat kamu tidak nyaman, Tapi tolong jangan menangis seperti itu karena rasanya benar-benar menyiksaku dan membuat aku seperti seseorang pria yang memang tidak punya harga dirinya sama sekali! "lirih Marcel menuju permohonan bahkan sampai berkali-kali mencium tangan Stella Tetapi wanita itu menepisnya karena benar-benar tidak sudi disentuh oleh pria yang bukan status sebagai suaminya.
Stella tahu pasti hasil akhirnya seperti begini ketika mereka berdebat pasti Marcel bakalan meminta maaf Lalu setelah itu melupakan perdebatan mereka, dan Lalu setelah itu akan juga melupakan permintaannya untuk pergi keluar rumah karena Marcel Akhirnya bisa mengalihkan pemikirannya Dan juga mungkin menjanjikan hal-hal yang tidak akan pernah terjadi.
" Ya sudah baiklah nanti kamu masih marah seperti ini aku tidak jadi pergi bekerja dan juga Angkasa juga tidak pergi kemanapun kami bakalan menjaga kamu, kita juga tidak akan makan seharian kalau sampai kamu masih tetap marah dan menghukum kami dengan diamnya seperti itu! " perkataan dari Marcel membuat Stella mengerutkan keningnya karena dirinya tidak pernah menyuruh mereka untuk melakukan semuanya untuk dirinya karena ia bisa mengurus dirinya sendiri.
Stella masih memilih untuk tetap diam biarkan pria itu mau berbicara apapun Bukankah mulutnya dia yang berkomat-kamit bukan dirinya, kecuali kalau terasa begitu terganggu ya dirinya akan memilih untuk pergi saja Tetapi kalau masih di batas aman ya sudah terserah dari dirinya saja Bukankah ini merupakan rumahnya Marcel maka otomatis pria itu bisa dong melakukan apapun yang ia inginkan.
"Angkasa, Kamu kenapa masih di situ Terus tadi kan Mami sudah ngomong apa sama kamu Kalau lebih baik kamu pergi ke kantor kan bekerja di sana? jangan hanya hobinya habiskan duitnya orang terus nantinya kita bakalan dipermainkan seperti anak kecil, sudah ah cepat sana bergerak jangan harus Mami ngomong dobel dulu baru kamu bisa paham?" tanya Stella penasaran karena memang benar-benar ia tidak peduli lagi dengan keberadaan Marcel di sekitarnya Bukankah pria itu datang ke tempat itu juga atas kemauan sendiri bukan atas unsur paksaan dari dirinya jadi kalau mau pergi silakan saja mau tinggal pun Terserah dari pria tersebut.
Marcel merasa kesal ketika Lagi dan lagi ia diabaikan seperti ini padahal Ia dari tadi sedang berusaha membujuk wanita itu agar Jangan marah lagi atau mengabaikannya, Jadi kalau misalnya seperti ini dan setelah malah berbalik memberikan perhatian kepada Angkasa pertanyaannya Bolehkah ia marah soalnya siapapun pasti punya Batas kesabaran dong.
Stella mendengkus kesal ketika melihat Marcel malah memberikan perintah yang aneh-aneh kepada Angkasa tidak sesuai dengan kemauannya tadi, padahal dirinya yang berbicara dengan anak muda itu terlebih dahulu kenapa pakai main senggol segala sih alhasil Ia pun merasa tidak dihargai.
"Kamu itu maunya apa? Aku kan sudah bilang terserah kamu mau melakukan apapun dan aku pun melakukan sesuatu yang aku inginkan tidak usah saling pedulilah, kenapa sekarang kamu malah seperti begini sih padahal dari awal aku sudah ngomong jangan terlalu sibuk dengan urusanku karena aku pun akan melakukan hal yang sama!" sarkas Stella kasar Soalnya kalau dibiarkan saja Ya sepertinya pria tersebut bakalan menjadi.
Marcell tertawa karena akhirnya perjuangannya tidak sia-sia sebab terbukti wanita yang tadi katanya marah dan juga merajuk serta tidak mau berbicara dengannya, terlihat dengan jelas kembali merespon apapun yang dia katakan ya Meskipun responnya itu sangat tidak menyenangkan tetapi tidak masalah daripada diabaikan..
__ADS_1
" Nah gitu dong Lain kali kalau diajak bicara ya bicara jangan malah diam, kecuali kalau kamu itu hanya patung terus aku hanya menggunakan kamu sebagai teman curhat ya sudah cukup mendengarkan saja tidak perlu direspon pun aku tidak bakalan marah!" usul dari Marcel itu bukannya membuat Stella merasa bahagia yang ada wanita itu bertambah muak karena ya akhirnya seperti begini kejadiannya tidak ada lagi pembahasan tentang tujuan awalnya yaitu ingin bertemu dengan keluarganya.
Stella memilih untuk pergi sambil menunggu kesempatan yang pas agar nanti kedua pria yang ada di rumah itu pergi dulu baru dirinya bakalan mencari celah, Tetapi kalau misalnya dirinya tetap duduk di tempat itu ya tidak menutup kemungkinan kalau mereka juga bakalan tetap berada di situ memantau setiap pergerakannya.
" kalian kalau sampai saya keluar dari kamar dan melihat masih ada di sini Percayalah saya yang bakalan pergi bekerja sekarang juga, jadi pria itu harus tanggung jawab Jangan hanya ngomong doang Memangnya kamu pikir hanya dengan berbicara perut bisa kenyang? " Sindir Stella lalu akhirnya menghilang dari balik pintu tetapi Percayalah Ia hanya sementara saja karena sejatinya dirinya Tengah memperhatikan gerak-gerik kedua orang pria dewasa yang tengah menatap kosong ke arah pintu kamarnya.
Angkasa yang sebenarnya tidak tega terhadap Stella ya akhirnya mau tidak mau memberikan usul kepada Papinya itu, Ya maksudnya bisa membebaskan wanita itu kemanapun Ia mau pergi yang penting intinya selalu ada pengawasan supaya misalnya kalau ada niatan untuk kabur itu tidak akan mungkin pernah terjadi.
"Papi aku rasa sepertinya kita ikuti saja perintah yang maha diberikan itu daripada nanti kita bakalan disalahkan, lagian kan tidak ada salahnya juga kan kita pergi bekerja sedangkan Mami tetap di rumah!" saran Angkasa tetapi Marcel Ya jelas saja tidak mungkin tertipu.
" kalau kamu mau pergi ya sudah pergi saja dan juga terus pantau gerak-gerik dari putrinya Stella itu, tetapi untuk membiarkan Papi pergi dari sini itu tidak akan pernah terjadi karena selama Mami Kamu masih susah diajak kompromi maka saat itu pula Papi tetap akan berada di sampingnya." Marcell terpaksa menyuruh Angkasa untuk pergi karena memang Ia juga sih masa iya hanya karena Stella merajuk segala macam pekerjaan mereka dan juga rencana yang sudah disusun harus hancur berantakan.
" Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu Nanti kalau misalnya tidak pulang itu artinya aku menginap di apartemen , soalnya di sini suasananya panas terus tidak pernah rasa dingin karena mungkin orang-orangnya terlalu hobinya marah-marah kali ya? "Sindir Angkasa soalnya memang rumah itu tidak ada yang namanya terasa begitu hangat dan juga nyaman sebab mungkin di dalamnya tidak pernah ada otak yang saling nyambung.
Senja yang sudah sampai di kampus bernafas lega karena akhirnya ia tidak melihat Angkasa juga di mana-mana, dan dengan begitu dirinya bisa menikmati mata pelajaran dengan begitu baik tanpa harus terbebani dengan pria yang dulu dikejar-kejar oleh Rembulan.
"Hai Senja, Kami turut berduka ya atas apa yang terjadi kepada Rembulan! percayalah Dia merupakan sahabat terbaik tetapi dia lebih menyayangi kamu jadinya dia selalu menjaga kamu tanpa kamu sadari, pokoknya intinya sekarang ada kamu yang bisa menggantikan posisinya untuk menjaga kamu jadi jangan takut ya!" ujar Cindy yang merupakan teman dekat dari Rembulan.
Senjana memilih hanya tersenyum samar tidak ada niatan untuk berbahagia mendengar semua perkataan mereka tadi, toh kalau misalnya Rembulan memang benar-benar menyayanginya dan ingin menjaganya tidak mungkin kan pergi meninggalkannya seperti begini.
__ADS_1
kalau memang Rembulan menyayanginya tidak mungkin ketika dirinya pergi tidak mengajak Senja untuk ikut, soalnya kan Rembulan tahu kalau misalnya dia pergi dari dunia ini itu artinya ia tidak punya teman sama sekali.
"tidak usah lagi membahas seseorang yang sudah tidak ada di sini kalau hanya ingin mengingatkan aku pada kesedihan yang sudah aku alami, kalau memang pergi merupakan jalan yang terbaik yang harus dia pilih ya Sudah ikhlaskan saja tidak usah lagi membahas sesuatu hal secara berlebihan! "Sahut Senja sinis.