
"Aku memutuskan untuk menetap di Indonesia," ucapnya. Membuat Bintang terkejut.
Tiba-tiba rasa khawatir datang menyelimutinya. Ia takut Rey melakukan itu karena masih memiliki perasaan cinta terhadap istrinya. Tangan Bintang menggenggam erat tangan Via di balik meja. Via mengerti dengan kekhawatiran yang suaminya rasakan saat ini. Tangannya mengusap lembut genggaman tangan suaminya dengan lembut, seolah berkata bahwa tidak ada yang perlu di khawatirkan, Aku milikmu, dan selamanya akan menjadi milikmu.
"Dan ada hal lainnya yang ingin ku sampaikan kepada kalian. Aku akan Moza jadian, sekarang Moza adalah kekasih ku," ucap Rey dengan bangganya. Ia mengembangkan senyumnya ketika mengucapkannya. Ia menatap Moza yang tersenyum dengan semburat merah di pipinya. Gadis itu sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajahnya, ia begitu malu di depan Via dan Bintang.
Semburat senyum terbit di sudut bibir Bintang. Perlahan kekhawatirannya memudar. Pernyataan Rey selanjutnya membuat hatinya lega. Pria itu ikut merasakan kebahagiaan Rey. Tak ayal Via, ia begitu senang mendengar berita itu.
"Sungguh? Wah... Selamat ya Rey dan Moza. Apa ku bilang waktu itu, kalian adalah pasangan yang serasi," ucap Via dengan binar kebahagiaan.
"Uncle...," teriak Er ketika melihat selulit Rey di meja makan. Bocah itu langsung menghambur ke pelukan Rey.
Rey membalas pelukan tangan mungil itu. Ia juga sangat merindukan Er. Beberapa tahun bersamanya membuatnya begitu merindukan bocah kecil itu.
"Uncle kenapa tidak pernah menemui Er? Apa uncle tidak merindukan Er?" ucap Er mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihatnya.
"Maafkan uncle Er, Paman sangat sibuk, jadi Paman belum sempat menemui Er. Sebagai gantinya bagaimana kalau besok uncle mengajak Er untuk berjalan-jalan?" tawarnya. Er menampakkan wajah girangnya.
"Mau uncle, kita akan kemana uncle?" tanyanya.
"Kemanapun Er mau. Besok pagi-pagi sekali, Er, uncle dan aunty Moza akan menjemput Er, bagaimana?"
"Okey, boleh kan Mom, Dadd?" tanya Er menatap Mommy dan Daddy-nya. Dan di balas dengan anggukkan oleh Bintang dan Via.
Setelah makan malam usai, Bintang dan Rey membahas kerjasama mereka di ruang kerja Bintang. Sementara Via dan Moza saling mengobrol di ruang santai. Mereka begitu gemas dengan kelucuan Er.
"Baiklah Boy, kalau begitu Mommy akan mengantar mu ke kamarmu," ucap Via mulai berdiri. Namun Er mencegahnya.
"No Mom, Er mau aunty cantik yang mengantar Er." tolaknya.
__ADS_1
Via hanya menggelengkan kepalanya. Ia menatap ke arah Moza.
Moza tersenyum dan mengangguk. Ia mulai berdiri dan menggandeng tangan mungil Er.
Er begitu senang. Dulu ketika Rey mengajaknya pergi ke kantornya, ia pasti akan selalu bermain dengan Moza. Beberapa Minggu tak bertemu, membuat bocah kecil itu begitu manja kepada Moza.
"Maafkan putra ku Za, dia sangat merepotkan mu," ucap Via setelah Moza kembali dari kamar Er.
"Tidak masalah, Aku sangat menyayangi Er. Kau tahu Nona, Er begitu tampan dan menggemaskan," ucap Moza tersenyum.
"Jangan memanggilku Nona, panggil nama saja Za. Itu akan terasa sangat canggung menurutku." ucap Via.
Moza mengangguk, "baiklah."
"Oh iya Za, kapan Kau dan Rey jadian? Aku begitu penasaran ingin mendengarkan ceritamu," ucap Via begitu ingin tahu. Ia menepuk sofa di sampingnya agar Moza duduk di sana dan sudah tak sabar menunggu cerita Moza.
__ADS_1
...
***