
Dea kini telah sampai di Singapore. Ia langsung menemui Moza, ia sudah tidak sabar lagi untuk memeluk sahabatnya itu.
"Za, Aku sangat merindukanmu," ucap Dea. Ia memeluk Moza dengan girangnya. Sudah enam bulan mereka tidak bertemu. Dan itu membuat keduanya merindukan hal-hal konyol yang sering mereka lakukan.
"Selamat ya Za, Aku begitu senang karena akhirnya Aku akan menjadi aunty."
"Ya, Aku juga begitu bersyukur, De. Apa Kau tahu betapa senangnya diriku? Aku sudah menantikan kehamilan ini sejak awal menikah." Moza begitu berbinar mengatakannya.
"Semoga kalian selalu bahagia, Za." ucap Dea tulus.
"Terimakasih, Dea. Lalu kapan Kau akan menikah? Aku dengar, nanti malam Papa akan mengenalkan mu dengan seseorang dari putra temannya. Sepertinya ada yang akan menyusul ku untuk menikah," goda Moza.
Dea mengerutkan keningnya, ia tidak mengetahui tentang hal ini. Dia belum ingin menikah, walaupun umurnya sudah pas untuk menikah, tapi Dea belum memantapkan hatinya. Apalagi sejak kejadian beberapa tahun lalu.
"Apa? Tapi Aku belum ingin menikah, Za. Aku masih ingin menikmati hidup ku."
"Kenapa? Sampai kapan Kau akan melajang, Dea? Dulu ku pikir Kau akan menikah dengan Richie. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian berdua. Tiba-tiba saja Richie memutuskan untuk kembali ke negara asalnya, sementara Kau memutuskan untuk menetap di Indonesia. Ya, walaupun Aku senang karena ada Kau yang selalu menemaniku, tapi Aku masih penasaran. Sebenarnya ada apa antara Kau dan Richie?" tanya Moza penuh selidik.
"Tidak ada apa-apa, Kau pikir ada apa?" jawab Dea memalingkan wajahnya. "Kenapa kita harus membahas dia sih, Za?" Dea menjadi terlihat nampak begitu murung.
"Oke-oke, lagi pula Richie juga sudah bertunangan." ucap Moza. Sontak saja membuat Dea langsung tercekat. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak, entah apa yang ia rasakan saat ini.
"Za, Aku ke kamar ya. Aku ingin istirahat sebentar," pamit Dea.
"Baiklah, istirahatlah. Dan jangan lupa persiapkan dirimu, besok pasti Kau akan bertemu dengan calon suami." ucap Moza terkekeh.
"Apa sih Za," Dea menghela nafasnya. Lalu segera keluar dari kamar Moza.
***
Kini semua tamu mengucapkan selamat kepada Moza dan juga Rey atas hadirnya calon bayi mereka.
"Tuan George...," Papa Arya menjabat tangan Tuan George. Mereka saling berbincang. "Jadi ini putramu, dia sangat tampan, Tuan." puji Papa Arya.
"Terimakasih atas pujiannya, paman." ucap Arsen tersenyum hangat.
"Oh iya, Tuan Arya. Dimana Putri keduamu?" tanya Tuan George. Matanya menelisik ke seluruh orang-orang di sana.
"Sebentar lagi dia akan turun. Putriku itu sedikit pemalu."
Kemudian Mama Zara datang dan membawa Dea bergabung dengan Papa Arya. Arsen terkejut saat melihat Dea.
__ADS_1
'Bukankah itu Nona Dea? Apakah dia putri kedua Tuan Arya?' batin Arsen.
Dea pun merasa begitu terkejut ketika melihat Arsen di sana, berbincang-bincang dengan Tuan Arya.
"Wah, Tuan George. Terimakasih sudah datang. Ini Putri kedua kami, Dea." ucap Mama memperkenalkan Dea.
"Jadi Nona Dea ini Putri kedua Paman dan Bibi?" Arsen tersenyum menatap Dea.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" Para orang tua itu terkejut. Arsen mengangguk. Ia masih tersenyum menatap Dea.
Dea membalas senyuman Arsen. Arsen tersenyum begitu hangat. Namun entah mengapa senyum itu mengingatkan dirinya kepada Richie. Pria itu selalu tersenyum hangat ketika mengganggu dirinya.
Dea menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi kenapa dirinya malah memikirkan tentang Richie? Ia segera menepis pikirannya itu.
"Tentu saja Paman, kami baru saja menjalin hubungan kerjasama."
"Sungguh mengejutkan sekali. Kalau begitu kalian bisa mengobrol, karena kami juga ingin membicarakan tentang pekerjaan," ucap Tuan George. Ia sengaja untuk mendekatkan mereka.
"Baiklah, kalau begitu mari Nona Dea." ajak Arsen. Dea segera melangkah mengikuti Arsen. Mereka berjalan-jalan yang ada di taman samping rumah.
"Aku tidak menyangka ternyata kita akan bertemu lagi di sini, Nona."
"Panggil Aku, Arsen saja. Kita tidak berada dalam lingkup kantor saat ini, Nona." ucap Arsen.
"Baiklah, kalau begitu Kau juga bisa memanggil ku dengan Dea saja, Arsen," jawab Dea. Mereka mulai melangkah sambil berbincang ringan.
***
Dua hari berlalu.
Dea masih berada di Singapore. Ia memutuskan untuk berlibur berlibur sejenak dari pekerjaannya. Ia menemani Moza yang juga masih berada di rumah Mama dan Papa.
"Bagaimana hubungan mu dengan Arsen?" tanya Moza. Seketika membuat Dea menjadi tak bersemangat. Bisakah semua orang di rumah ini tidak menanyakan tentang pria yang dekat dengannya?
"Bisakah jangan membahas tentang ini lagi, Za?" ucap Dea memutar bola matanya.
"Ayolah Dea, kapan Kau akan menikah? Kau sudah cukup umur untuk menikah. Kapan Kau akan menyusul ku?"
"Aku tidak ingin menikah, Za. Aku ingin menjadi wanita karir saja." jawab Dea.
"Tapi menikah itu enak loh, Dea."
__ADS_1
"Itu kalau menikah dengan jodoh kita. Bagaimana jika kita menikah dengan pria yang sebenarnya bukan jodoh kita. Pasti itu akan menjadi sebuah bencana."
"Katakan padaku. Apa alasanmu tidak menikah?" tanya Moza. Seketika Dea terdiam. "Apakah ini ada hubungannya dengan Richie?" tanya Moza penuh selidik.
"Kenapa Kau mengaitkan semua itu dengan dia? Menyebalkan."Dea segera beranjak dan meninggalkan kamar Moza. Dea keluar dengan mulut yang terus-menerus bergumam. Dan itu semakin menambah Moza ingin tahu yang terjadi antara Dea dan Richie selama ini.
"Apa Kau takut jika menikah dengan pria yang tidak tepat, Dea?" Pertanyaan Moza membuat Dea menghentikan langkahnya.
"Ya, itu mungkin saja." jawabnya dengan suara begitu enggak
"Tapi kata Papa, Arsen pria yang baik dan juga mapan dan tampan. Kau pasti akan berjodoh dengannya," ujar Moza. Membuat Dea kembali memutar bola matanya kembali.
Dea menghembuskan nafasnya, ia lelah untuk menjelaskan tentang keinginannya kepada Moza. "Tapi Aku tidak memiliki perasaan sedikitpun kepada Arsen, Za." Dea segera keluar dengan menutup pintu sedikit keras.
"Dia itu kenapa?"
***
Dea turun dari kamar Moza. Ia begitu kesal karena Moza terus saja membahas tentang jodohnya, apalagi menanyakan Arsen. Dea tahu Arsen sebenarnya telah memiliki banyak sekali kekasih. Dirinya sendiri masih tak menyangka itu.
"Dea, nak...," panggil Papa Arya.
"Eh, iya Pa." ucapnya. Dea mematung kala melihat seseorang yang sungguh tak asing baginya. Ada secercah kerinduan pada seseorang yang nampak berdiri di belakang Papa Arya. Tubuhnya mematung di tempatnya.
Seseorang itu nampak tersenyum menatapnya. Menatap gadis yang telah membungkam hatinya selama ini.
"Bisa Kau menemani nak Richie untuk menemui Moza? Dia datang jauh-jauh hanya untuk mengucapkan selamat karena Moza sebentar lagi akan memiliki bayi." ujar Papa Arya. Dan itu sungguh membuat Dea seolah mati kutu. Kenapa harus dirinya yang harus mengantarkan Richie. Mau tidak mau Dea menyetujuinya, ia tidak ingin membantah ucapan Papa Arya.
Seulas senyum tersemat di bibir Richie. Gadis yang ia sukai semakin bertambah cantik setelah hampir satu tahun tidak bertemu. Rasanya ia begitu menyesal karena sudah menerima perjodohan yang keluarganya tetapkan padanya. Ia harus menikah dengan gadis yang tidak ia cintai.
Dea terkesiap kala melihat jari manis Richie yang melingkar sebuah cincin yang ia yakini adalah cincin pertunangannya. Tiba-tiba dadanya terasa begitu sesak.
"Baiklah, Pa." Dea memaksakan senyumnya ketika di depan Papa Arya. Namun setelah Papa Arya pergi dari sana dan hanya menyisakan mereka berdua, Dea memasang wajah ketusnya.
"Tunggulah di ruang tengah, Aku akan memanggil Moza," ucap Dea dan segera berlalu.
"De...," Suara Richie terhenti saat memanggil Dea. Karena sang empunya telah menghilang dari hadapannya.
"Apa Kau tahu yang sebenarnya kenapa Aku jauh-jauh datang ke sini, Dea. Alasan terbesarku adalah karena Aku yakin bahwa Aku akan bertemu denganmu di sini," gumam Richie pelan.
***
__ADS_1