
Via merasa begitu kecewa karena Bintang tak menyentuh sarapannya. Menatapnya pun Bintang begitu enggan.
"Kenapa Kau semakin jauh, Bi. Sangat sulit sekali untuk menjangkau hatimu. Aku tidak bisa menebak hatimu. Terkadang Kau memperlakukan ku dengan begitu lembut, membuat ku melambung tinggi seketika. Namun kini Kau seakan menjatuhkan hatiku yang sudah Kau buat melambung. Dan rasanya begitu sakit, Bi. Via memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.
Bintang mengacuhkannya. Bahkan tidak menyapanya sama sekali. Ia berjalan melewati Via begitu saja.
***
Bintang memasuki mobilnya. Pagi ini Bimo menjemput Bintang. Bimo segera melajukan mobilnya menuju kantor.
Sepanjang perjalanan, Bimo melihat wajah Bintang yang nampak begitu kusut. Iapun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?"
Namun Bintang tidak menjawab. "Jalankan saja mobilnya Bim!" Perintahnya.
"Baiklah, Tuan." Bimo hanya bisa menuruti perintah Bintang. Sebenarnya ada sesuatu Bimo katakan tentang Alesha kepada Bintang. Selama ini Bimo telah menyelidiki Alesha saat berada di LA. Bimo juga telah menyelidiki semua tentang Via. Dan ia begitu terkejut saat mengetahui bahwa ayahnya Alesha adalah ayah Via juga. Namun saat ini bukanlah saat yang tepat untuk memberitahu Bintang tentang semua itu.
Bintang memasuki kantor dengan raut wajah yang begitu menyeramkan, hingga para karyawannya begitu ketakutan dan menundukkan kepalanya saat Bintang melewati mereka.
Sepanjang hari Bintang begitu tak fokus pada pekerjaannya. Rasanya wajah Via selalu memenuhi otaknya.
"Argh... Via!" Bintang menggebrak meja kerjanya. Sungguh ia begitu tak fokus saat ini.
Hingga ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Bintang menghela nafasnya sejenak, lalu ia mengambil ponselnya dan melihat pesan masuk. Ternyata Mamanya. Beliau meminta Bintang untuk datang ke acara yang di adakan keluarganya untuk menyambut kelahiran Eve.
Bintang rasanya begitu malas. Bukan karena ia tidak senang dengan kelahiran anak Eve dan Ax. Namun, saat ini Binatang tengah marah kepada Via, dan ia harus melakukan aktingnya di depan keluarga bahwa mereka baik-baik saja.
"Permisi, Tuan. Ada berkas yang harus Anda tanda tangani," ucap Bimo saat memasuki ruangan Bintang. Bimo akan mengatakan kepada Bintang tentang kenyataan Alesha dan Via saat ini juga. Bosnya harus tahu bagaimana kebusukan Alesha selama ini.
"Tuan, ada hal yang ingin Saya sampaikan kepada Anda," ucap Bimo akhirnya.
"Jangan sekarang Bim, Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun hari ini," tukas Bintang.
Mau tidak mau Bimo harus menuruti perintah Bintang. Ia akan memberitahu Bintang besok. Mungkin mood bosnya akan kembali besok.
***
Bintang sampai di rumah pukul tujuh. Ia melangkah memasuki kamarnya, namun ia heran, tak melihat Via sama sekali. Bintang hanya menatap pintu kamar Via saja.
Bintang memutuskan untuk makan malam setelah membersihkan tubuhnya. Ia mulai duduk di meja makan. Namun ia juga tidak melihat Via di sana. Bintang hendak bertanya kepada pelayan.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Saya ingin memberitahukan kepada Anda, tadi Nona Via pergi ke rumah Nyonya besar. Nona meminta Saya untuk menyampaikannya kepada Anda."
Bintang hanya mengangguk. Sementara pelayan segera pergi.
Bintang kembali beranjak. Ia lupa untuk datang kerumah Mamanya. Bintang merasa kesal kenapa Via tidak menunggunya untuk datang ke sana.
***
Kini keluarga besar tersebut tengah berkumpul bersama.
Via begitu antusias melihat dua baby yang begitu menggemaskan baginya. Hingga ia pun terus saja menggendong baby Juna dan baby Rianna.
"Kalian sungguh menggemaskan," ucap Via dengan mengusap lembut pipi gembul kedua baby tersebut.
"Kak Via kapan menyusul kita? Sudah satu tahun lho kakak menikah. Kak Via dan kak Bi harus berusaha lebih keras lagi. Kalian juga belum honey moon setelah menikah. Jadi menurut Eve kalian harus honey moon Minggu ini." Eve terus saja cerewet kepada Via.
Sementara Via hanya tersenyum canggung kepada Eve dan Divya.
"Sayang, Aku mencari mu dari tadi. Ternyata Kau di sini bersama mereka," ucap Bintang memeluk pinggang Via dari belakang.
Via terkejut, lalu iapun tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang. Maafkan Aku juga karena telat pulangnya. Tadi ada meeting penting di kantor," ucap Bintang seraya mengecup lembut pipi Via.
"Ish, kalian ini membuat kami iri saja kak.
Sudah sana kalian pergi saja," dengus Eve dan di angguki oleh Divya.
"Kasihan," goda Bintang. Ia sangat senang menggoda Eve dan Divya.
Lalu ia pun menggiring Via pergi dari sana.
***
Bintang dan Via kini telah sampai di rumah milik mereka.
Via hendak keluar dari mobil saat mobil Bintang berhenti di garasi rumahnya.
"Lain kali Kau jangan pernah mengambil keputusan sendiri. Kalau Aku belum sampai ke rumah jangan pernah pergi sendirian tanpa ku! Apa Kau mau mereka tahu tentang semuanya huh!?" Bintang berbicara dengan nada tinggi.
Sementara Via hanya mematung. Rasanya begitu sakit mendengar ucapan dari suaminya. Matanya berkaca-kaca, namun ia menundukkan kepalanya untuk menutupi lelehan air mata yang hampir menetes itu.
__ADS_1
Sementara Bintang langsung keluar dari mobil dan memasuki rumahnya. Meninggalkan Via sendirian di sana.
"Kenapa Kau berubah lagi, Bi? Sebenarnya apa kesalahan yang ku perbuat kepadamu? Nak, kita harus kuat. Mungkin papa mu sedang ada masalah di kantor." Via mengusap lembut perutnya, lalu ia segera memasuki rumahnya.
Baru beberapa memasuki rumah, Via begitu terkejut saat melihat Bintang berjalan menghampirinya dengan kilatan kemarahan. Wajahnya begitu dingin dan menyeramkan saat ini.
Bintang langsung menarik tangan Via dan menghempasnya ke sofa yang ada di ruangan tengah.
"Ahhhh... Kau kenapa Bi!?" pekik Via, ia memegangi perutnya berusaha melindungi janinnya.
Bintang melemparkan sesuatu ke hadapan Via, dan itu adalah beberapa lembar foto Via yang terlihat begitu mesra bersama dengan seorang pria, dia adalah Rony.
Bintang menjadi semakin gelap mata saat mendapati foto itu di ruang kerjanya. Ia berpikir Via sudah berselingkuh dengan Rony. Mungkinkah kepergian Via selama dirinya keluar kota, untuk bersama dengan Rony? Bintang semakin marah saat memikirkan hal itu.
Tadinya Bintang akan mengatakan perasaannya setelah pulang dari luar kota. Namun saat mendapati Via yang bersama Rony membuatnya melupakannya. Kini hatinya diselimuti oleh kemarahan.
"A-apa ini Bi?" Via menatap foto-foto tersebut. Ia menggelengkan kepalanya."Tidak Bi, jangan percaya foto ini. Ini tidak benar!"
"Jadi foto ini palsu!?"
Via terdiam. Foto itu memang asli. Namun gambar yang di ambil dalam foto tersebut tidak seperti kelihatannya. Gambar itu di saat Rony tengah membantunya waktu di rumahnya saat kepergian ibunya.
"Foto ini memang asli, tapi ini tidak seperti kelihatannya Bi, ku mohon percayalah, Aku akan menjelaskan semuanya." ucap Via. Via akan mengatakan semuanya, bahwa ia tengah kehilangan ibunya.
"Kau tidak perlu menjelaskannya. Foto ini sudah membuktikan semuanya! Kau adalah gadis murahan! Sudah berapa kali Kau melakukannya bersama pria itu huh! Aku menyesal menikahi gadis seperti mu!" Bintang semakin meninggikan suaranya. Rasanya begitu sakit saat melihat foto-foto tersebut. Di saat ia mulai mencintai Via, tapi sekarang malah membuatnya begitu kesakitan.
Via mematung mendengar ucapan suaminya. Rasanya sungguh sangat sakit ketika Bintang mengatakannya. Air matanya lolos begitu saja. Ternyata Bintang masih saja beranggapan seperti itu.
Bintang mengambil kunci mobilnya dan segera meninggalkan Via. Rasanya ia begitu kalut saat ini.
Via masih berada di tempatnya. Ia kecewa, dan sakit. Mungkin memang ia tidak akan pernah mendapatkan cinta suaminya. Menggapai cinta Bintang begitu sulit. Mungkinkah ia harus menyerah saat ini juga? Via merasa tidak memiliki seorang pun saat ini. Hanya calon anaknya yang ia miliki. Melihat Bintang yang seperti ini, apakah Bintang akan mengakui bahwa janin dalam perutnya adalah putranya?
Via berpikir Bintang pergi ke tempat Alesha. Semua itu membuat Via merasa tidak ada apa-apanya di mata suaminya.
Via menyerah, ia tak ingin lagi menambah luka hatinya bila Bintang tidak mengakui anaknya nanti. "Aku menyerah Bi, sangat sulit menggapai cinta mu. Hatiku sangat sakit mendengar ucapanmu. Aku begitu rendah di matamu." Via menangis sesenggukan. Ia memutuskan untuk pergi, Ia tidak ingin lagi bertahan. Untuk apa bertahan bila suaminya tidak ingin di pertahankan? Sejak awal Via tidak pernah ada di hati Bintang. Pergi adalah keputusan yang tepat.
Via mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Ia membuka lacinya dan mengeluarkan sebuah map yang berisikan surat cerai yang pernah Bintang berikan kepadanya.
Dengan menahan sesak, Via mulai menandatangani surat cerai tersebut. Hatinya begitu nyeri. Kini pernikahannya benar-benar berakhir.
***
__ADS_1