
Rey tidak membalas tatapan Moza. Saat ini ia menyaksikan kembang api itu indah menghiasi langit malam.
Moza menggigit bibir bawahnya, ia tersenyum dalam diam. Lalu iapun ikut menikmati keindahan kembang api tersebut.
Setelah kembang api tersebut berhenti. Rey menatap Moza. "Jadi dimana taksinya?" ucap Rey terkekeh.
Moza merasa sangat malu saat ini. "Kau..." Tangannya memukul pelan dada Rey.
Namun tiba-tiba Rey mengulur dan mengusap pipinya. Ibu jarinya mengusap lembut pipi Moza. Moza semakin berdebar kencang.
Ibu jari Rey masih terus mengusap pipinya. Lalu jari yang lain mulai menyusup ke dalam rambut Moza. Matanya menatap kedalam kedua bola mata indah Moza. Rey semakin mendekatkan wajahnya. Moza berkedip dengan cepat. Jantungnya. Moza tak dapat menahan detak jantungnya yang berdetak semakin kencang.
Hembusan nafas Rey menerpa wajahnya. Hidup mereka saling bertemu.
Dan dering ponsel Moza mengacaukan segalanya. Moza mendorong pelan tubuh Rey dan menatap ponselnya. Pipinya bersemu merah saat ini.
Dan panggilan tersebut dari Richie. Moza sedikit menjauh untuk menjawabnya.
"Apa sih, Kau mengacaukan segalanya!" ucap Moza kesal.
"Hey, ada apa dengan mu. Apa Kau ada di apartemen mu, Aku berada di parkiran saat ini. Keluarlah," ucap panggilan dari sebrang.
"Kenapa Kau ada di sana. Aku sedang tidak berada di apartemen saat ini. Lebih baik Kau pulang saja Richie," ucap Moza.
Rey dengan samar masih mendengar suara Moza. Ia merasa begitu cemburu saat ini. Namun ia tidak akan membiarkan aktor itu mengganggu momennya.
Ia melihat Moza yang telah mematikan panggilannya dan berjalan ke arahnya. Ia merasa lega.
__ADS_1
"Sudah?"
Moza mengangguk. Namun ponselnya kembali berdering. Keduanya saling menatap.
"Bisakah Kau tidak mengaktifkan ponselmu Za? Aku ingin berbicara serius dengan mu," ucap Rey serius.
Moza mengangguk. Lalu ia mematikan ponselnya di saat Richie kembali menghubunginya.
Rey senang Moza menuruti ucapnya. Lalu ia menarik Moza ke tempat yang sedikit lebih longgar dari banyaknya orang-orang.
" Kau mau mengatakan apa Rey?"
"Moza... Aku...,"
"Resya... Kau Resya kan?" Suara tersebut membuat Rey dan Moza menoleh.
"Apa Kau tidak mengingat ku? Aku Arsy." ucap gadis itu.
Rey menganggukkan kepalanya, ia mengenalnya. Gadis itu adalah salah satu temannya di sekolah dulu.
"Mana mungkin Aku melupakan mu. Kau adalah gadis yang di sukai para pria di kelas kita dulu." ucap Rey tersenyum. Ingatannya terputar ketika ia masih sekolah dulu. Lalu keduanya tertawa bersama.
"Dan Kau Moza, sahabat Rey kan?" tanyanya. Moza hanya mengangguk. Ia mengenal gadis itu, gadis itu dulu yang selalu mengejar cinta Rey.
"Bagaimana kabarmu Rey? Kau semakin tampan saja," ucapnya.
"Seperti yang Kau lihat. Dan Kau juga semakin cantik Ar," puji Rey.
__ADS_1
"Kau bisa saja." ucapnya tersipu. "Bagaimana kalau kita mencari tempat untuk berbincang?" tawar Arsy.
Rey terdiam sejenak, lalu ia tersenyum menganggukkan kepalanya. Tangannya meraih tangan Moza dan menggenggamnya mengikuti Arsy di belakangnya.
Moza menatap Rey dari samping. Ia merasa berkecil hati. 'Begitu banyak gadis yang menyukaimu Rey. Apakah Aku akan dapat menggapai hatimu? Apa Aku akan kembali kalah lagi?' Moza berucap dalam hati.
Kini mereka berada di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat itu.
Arsy terus saja mengajak Rey untuk berbicara. Mereka saling melempar candanya. Sementara Moza hanya diam dan memperhatikan mereka. Ia melihat tatapan Arsy pada Rey. Ia yakin gadis itu masih menyukai Rey.
Moza mulai berdiri, ia tidak akan mengganggu mereka berdua.
"Kau mau kemana Za?" tanya Rey Ketika melihat Moza yang berdiri.
"Kalian lanjutkan saja, ini sudah malam Rey. Aku akan pulang duluan," ucapnya ia hendak melangkah. Namun tangan Rey menghentikannya. Tangan Rey memegang tangannya.
Rey ikut berdiri. Lalu ia menatap Arsy. "Maaf Ar, Aku akan mengantarkan Moza. Senang bisa bertemu denganmu," ucap Rey.
"Ah, Kau tidak perlu mengantarku Rey. Aku sudah memesan taksi, jadi kalian bisa melanjutkan percakapan kalian," tolak Moza.
"Aku yang mengajak mu dan Aku yang akan mengantar mu pulang," ucap Rey tegas.
"Tapi...,"
"Jangan membantah! Ar, kami pulang dulu, senang bisa bertemu kembali dengan mu lagi, permisi," ucap Rey dan langsung menggandeng tangan Moza dan membawanya pergi dari sana.
***.
__ADS_1