Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 109


__ADS_3

Moza berjalan begitu gontai. Ia kecewa, teramat sangat kecewa dengan Rey. Moza berhenti di sebuah taman kecil. Ia mendudukkan dirinya di sana dan memikirkan tentang Rey yang menginginkan hubungan mereka break.


"Apa kita memang tidak berjodoh Rey? Aku sudah berusaha untuk bersabar menanti cintamu yang sepenuhnya hanya untukku, tapi kalau Kau belum bisa melepaskan cintamu padanya seutuhnya, Aku bisa apa." ucap Moza menghembuskan nafas panjangnya.


"Hai gadis...," ucap seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Seseorang itu nampak begitu misterius. Ia mengenakan jaket Hoodie dengan menutupi kepalanya, dan memakai masker di wajahnya.


Moza menatap orang itu dengan sedikit terkejut. Ia seperti pernah mendengar suara seorang yang duduk di sampingnya itu.


Lalu orang itu menatap ke sekeliling sejenak. Setelah dirasa aman, orang itu menatap ke arah Moza dan membuka maskernya.


"Kau...," ucap Moza terkejut, karena orang yang duduk di sampingnya ternyata adalah Richie.


"Ya,ini Aku. Jangan mengeraskan suara mu. Kau tahu kan disini tidak aman untuk ku?" ucap Richie pelan, ia terus memperhatikan sekitarnya.


"Memangnya siapa yang menyuruh mu untuk kemari," ucap Moza jengah. Moza kembali menatap ke depan. Namun ia kembali terkejut kala Richie tiba-tiba menariknya dan membawanya ke dalam mobilnya.


"Ih... Kau apa-apaan sih Rich...?" Moza nampak kesal dan melepaskan pegangan tangan Richie.


Karena sudah aman, Richie mulai melepaskan penutup kepalanya dan maskernya.


"Aku hanya merindukanmu. Beberapa hari ini Kau hanya membaca pesan ku tanpa membalasnya. Aku ingin meminta penjelasan mu," ucap Richie menatap Moza yang nampak begitu kesal.


Moza menatap tajam Richie, dan membuat Richie seketika tertawa. Ia mengerti dengan tatapan tajam Moza. Ia pun terkekeh.


"Baiklah-baiklah, maksudku Aku merindukanmu sebagai seorang teman," ucap Richie dengan menunjukkan rentetan giginya.

__ADS_1


Moza menghela nafasnya. Rasanya saat ini ia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Namun sekarang ia malah bertemu dengan pria yang selalu saja mengganggunya.


"Antar Aku ke apartemen ku, Aku sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun," ucap Moza.


"Termasuk denganku? Kenapa? Apa Kau sedang ada masalah? Kau bisa bercerita padaku ," ucap Richie tulus.


"Ya, siapapun Richie. Dan Aku sedang tidak ingin membicarakan tentang masalah ku. Lebih baik cepat Kau jalankan mobilmu dan antar Aku pulang."


"Baiklah Tuan Putri, tapi bila Kau membutuhkan tempat untuk bercerita, temanmu ini akan siap mendengarkan kapanpun," ucap Richie menaikturunkan alisnya.


Moza hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya.


'Aku akan selalu ada untuk mu Za, hingga suatu saat Kau akan jatuh cinta kepada ku. Kau adalah wanita pertama yang selalu membuatku penasaran' ucap Richie dalam hatinya. Ia segera menjalankan mobilnya dan mengantarkan Moza ke apartemennya.


Rey masih berada di cafe tempat dirinya dan Moza berbicara beberapa saat lalu. Ia terus saja menimang-nimang ucapannya kepada gadis yang ia cintai. Ia mencintai Moza, namun ia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah break adalah keputusan yang tepat? Apa dia terlalu keterlaluan kepada Moza?


***


Keesokan harinya di kantor Rey...


Rey duduk di meja kerjanya. Ia melihat Moza yang kini belum menampakkan dirinya. Mungkinkah Moza tidak masuk kerja hari ini? Apakah kemarin dia terlalu keterlaluan kepadanya? Rey menjadi begitu gelisah.


Ia mulai menghubungi nomor Moza, namun tiba-tiba Moza membuka pintu ruangannya.


Rey kembali menyimpan ponselnya, senyum tipis tercipta saat melihat Moza yang memasuki ruangannya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya terlambat." ucap Moza sedikit membungkuk.


"Aku begitu khawatir padamu Za. Apa Kau baik-baik saja?" tanya Rey menatap ke arah Moza. Lalu ia segera berdiri dan berjalan menghampiri Moza. Ia hendak memeluk gadis di depannya. Namun Moza menghindarinya.


"Maaf Rey, kita sudah bukan pasangan kekasih lagi. Jadi sebaiknya Kau jangan lagi melakukan hal ini." ucap Moza tanpa menatap Rey.


Rey mematung. Sejenak tadi ia melupakan bahwa dirinyalah yang memutuskan hubungannya.


"Tapi kita masih bersahabat Za. Jadi tolong jangan berusaha untuk menjauhiku. Aku tidak akan pernah bisa jika Kau menjauhiku." ucap Rey begitu sendu.


"Aku tidak akan menjauhimu Rey. Kalau Aku menjauhi mu Aku pasti sudah keluar dari perusahaan mu," ucap Moza dan membuat Rey terdiam. Lalu ia segera memberikan berkas kepada Rey dan membacakan jadwalnya.


"Baiklah Tuan Rey, jadwal Anda siang ini adalah bertemu dengan Tuan Bintang. Dan beliau meminta Anda untuk datang ke perusahaan miliknya." Moza membacakan jadwal untuk Rey.


Rey merasa sedih dengan sikap Moza. Ia merindukan sosok Moza yang sebelumnya.


***


Siang harinya...


Rey dan Moza menuju ke perusahaan milik Bintang. Moza hanya terdiam sepanjang perjalanan. Sementara Rey, dia sesekali melirik ke arah Moza. Rasanya ia tak tahan dengan sikap Moza padanya.


Ia tidak ingin seperti ini. Pria itu merindukan gadis di sampingnya. Ia merindukan Moza yang selalu tersenyum manis Kepadanya, merindukan Moza yang bersemu ketika dirinya memujinya, merindukan pelukan hangat gadis di sampingnya. Tapi dirinya sendirilah yang membuat semua itu menghilang seketika.


Mungkinkah keputusan yang sudah ia ambil, salah?

__ADS_1


***


__ADS_2