Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 114


__ADS_3

Via merasa begitu sedih akan di tinggal suaminya pergi selama tiga hari. Wajahnya nampak begitu muram. Sejujurnya ia tidak ingin suaminya pergi.


Tangan hangat Bintang menggenggam tangan Via. Ia membawa tubuh Via kedalam pelukannya.


"Sayang, Aku lama," ucap Bintang lembut.


Ia dapat merasakan Via yang menghela nafasnya.


"Aku tidak mengerti Sayang, tapi rasanya Aku tidak ingin Kau meninggalkan ku." ucap Via. Ia menyenderkan kepalanya di dada suaminya. Membalas genggaman tangan suaminya dengan erat.


"Kau menangis?" tanya Bintang ketika menyadari dadanya yang basah. Via diam dan semakin mengeratkan pelukannya. Mulutnya seakan terkunci untuk mengucapkan sesuatu. Entah mengapa akhir-akhir ini ia menjadi sangat sensitif.


"Kumohon jangan menangis sayang, Aku tidak akan tenang jika Kau begini." ucap Bintang dengan serak. Tangannya mengusap lembut air mata Via yang mengalir. "Aku berjanji akan segera kembali, Aku berjanji," ucap Bintang mengecup lembut kening Via.


Bintang tidak mengerti dengan sikap istrinya yang berubah-ubah beberapa hari terakhir. Ia membaringkan tubuhnya dan membawa Via kedalam pelukannya. Bintang tidur dengan memeluk erat tubuh istrinya.


Pukul empat pagi, Via terbangun karena mendengar suara dari bathroom. Ia berjalan menujunya. Dan lagi, ia melihat tubuh suaminya yang nampak lemas di depan wastafel. Bintang kembali muntah-muntah. Via segera memijat tengkuk leher suaminya dengan lembut.


"Sayang, Kau masih muntah? Aku akan menghubungi dokter." Via segera memapah suaminya dan membaringkannya di kasur. Lalu ia segera menghubungi Paman Gio untuk memeriksa kondisinya.


"Aku akan mengambil air putih hangat untuk mu Sayang, tunggulah sebentar," ucap Via dan langsung turun ke bawah.


Di dapur Via melihat Mama yang kini juga sudah terbangun dan sibuk di dapur bersama para pelayan.


"Kau sudah bangun nak?" tanya Mama.


"Iya Mam, ini mau mengambil air hangat untuk Bintang." ucap Via yang kini sedang menuangkan air hangat kedalam gelas.


"Kenapa tidak dia sendiri yang mengambilnya Sayang. Bukankah dia pagi ini berangkat ke luar negeri?"


"Suamiku sedikit tidak enak badan Mam, beberapa hari lalu dia memakan mie instan. Dan setelahnya dia sering muntah di pagi hari. Sekarang pun juga begitu, jadi Via menghubungi Paman Gio untuk memeriksanya." tutur Via.


Mama mengerutkan keningnya, ia teringat dengan pesan yang Bimo kirimkan padanya kemarin siang.


"Sepertinya suamimu tidak sakit Sayang." ucap Mama membuat Via heran. Ia sendiri sebenarnya juga sudah memeriksa suaminya, dan kondisi suaminya sehat dan normal. Makanya ia ingin memastikan lagi dengan menyuruh pamannya untuk memeriksa suaminya.


"Entahlah Mam, Aku juga heran, karena Via sempat memeriksanya, tapi dia sehat."


Mama berjalan mendekati Via. Mengusap lembut rambut Via. "Tentu saja tidak akan ketemu penyakitnya, karena yang seharusnya di periksa itu kamu Sayang," ucap Mama lembut.

__ADS_1


"Aku?"


"Ya Sayang," ucap Mama tersenyum. Itu semakin membuat Via tidak mengerti.


"Kenapa Via yang harus di periksa Mam?" tanya Via.


"Karena Kau sedang hamil," celetuk Mama membuat Via begitu terkejut. Benarkah dirinya hamil? Tapi kenapa ia tidak merasa mual sedikitpun seperti saat mengandung Er dulu?


"Ha-hamil...,"


"Iya," Mama menganggukkan kepalanya.


Apa iya dirinya hamil? Kalaupun iya, Via akan sangat senang sekali. Ia juga membayangkan bagaimana jika dirinya benar-benar hamil, pasti Bintang juga akan merasa sangat senang. Tapi ia harus membuktikannya terlebih dahulu.


"Mama punya beberapa tes milik Eve yang Ax beli dulu. Apa Kau mau mencoba untuk mengetahui yang Mama katakan benar atau salah?" tanya Mama.


Via terdiam, lalu ia menatap Mama. Lalu ia tersenyum menganggukkan kepalanya. Tidak ada salahnya kan berharap?


***


Dokter Gio sudah selesai memeriksa kondisi Bintang. Dan benar saja, kondisi Bintang baik-baik saja. Dan itu sungguh membuat Bintang merasa bingung. Sebenarnya apa yang salah dengan dirinya?


"Tidak perlu Paman, Via sudah tahu penyebab suamiku seperti itu," ucap Via tersenyum.


"Kau mengetahuinya?" tanya Paman Gio mengerutkan keningnya. Via menganggukkan kepalanya di iringi senyum kebahagiaan.


"Paman akan memiliki cucu lagi," ucap Via menahan senyumnya.


"Benarkah? Kau hamil lagi nak?"


"Ssst, jangan keras-keras Paman, nanti ada yang mendengarnya. Ini surprise untuk suami Via," ucap Via menoleh ke kanan dan kiri.


Paman Gio hanya menggelengkan kepalanya. Namun Ia begitu bahagia mendengar berita gembira dari keponakannya itu.


"Paman mengucapkan selamat untuk mu nak, semoga kalian selalu bahagia. Dan ini adalah kabar gembira, Paman harus memberitahu nenekmu," ucap Paman dan di angguki oleh Via.


"Jaga selalu kesehatan mu. Sepertinya suamimu mengalami sindrom couvade. Jadi Kau juga harus menjaganya," ucap Paman Gio kembali.


"Iya Paman, terimakasih juga karena sudah merepotkan Paman datang kemari pagi-pagi sekali," sahut Via.

__ADS_1


"Tidak masalah nak. Yasudah kalau begitu Paman harus kembali. Paman akan menyampaikan kabar bahagia ini." pamit Paman.


***


Via segera menemui suaminya di kamar. Saat ini Mama sedang menemani Bintang dan memberikan minuman yang kini membuat Bintang menjadi lebih baik.


"Bagaimana kondisi mu Sayang?" tanya Via yang kini mendekati suaminya.


"Sudah lebih baik. Mama memberiku minuman yang membuat ku merasa lebih baik." ucap Bintang.


"Bagaimana hasilnya nak?" tanya Mama menatap menantunya.


Via tersenyum mengangguk. Dan itu membuat Mama tersenyum bahagia. "Selamat nak, Mama merasa sangat bahagia mendengarnya. Yasudah, Kau temani suamimu saka, Mama akan ke kamar cucu Mama," ucap Mama tersenyum, ia segera melangkah keluar dari kamar Bintang.


Bintang tidak mengerti dengan percakapan antara Mamanya dan istrinya.


"Apa yang sedang Kau bicarakan dengan Mama Sayang?" tanya Bintang ingin tahu.


Namun justru Via langsung memeluk tubuh suaminya. Membuat Bintang tersenyum heran. Ia mengusap lembut punggung Via. "Ada apa Sayang?"


"Apa Kau benar-benar akan meninggalkan ku ke luar negeri Sayang?" tanya Via manja.


"Inginnya Aku bersamamu sepanjang hari Sayang, tapi ini adalah tanggung jawab ku. Jika Aku tidak melakukan tanggung jawab ku, maka akan banyak karyawan ku yang kelaparan. Karena jika suamimu tidak melakukan tanggung jawabnya, maka perusahaan akan pailit, dan berakibat pengurangan jumlah karyawan. Apa Kau mau suamimu menjadi seperti itu Sayang." ucap Bintang lembut, tangannya mengusap lembut rambut istrinya dengan perhatian.


Via menggeleng, lalu ia mendongak menatap wajah Bintang. "Baiklah, tapi Kau harus janji harus mempercepat pekerjaan mu. Karena kami bertiga pasti akan sangat merindukanmu Sayang."


"Bertiga?"


Via menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Ya, kami bertiga. Aku, Er dan calon adik Er," ucap Via tersenyum.


Bintang terpaku mendengar penuturan istrinya. Ia ingin memastikannya kembali.


"Sayang... Kau...?"


Via menganggukkan kepalanya sebelum suaminya meneruskan ucapannya.


"Benarkah, Kau hamil? Aku akan menjadi Papa?" ucap Bintang bahagia, ia tertawa, namun ia juga menitihkan air matanya. Ia begitu bahagia. Sebelumnya ia tidak merasakannya di saat Via mengandung Er. Dan sekarang Ia merasakan bahagianya ketika mendengar berita kehamilan ini dari bibir istrinya.


Bintang memeluk erat tubuh istrinya dan mengecup keningnya berkali-kali. "Terimakasih... Terimakasih Sayang, Aku sangat mencintaimu," ucapnya begitu bahagia.

__ADS_1


***


__ADS_2