
Rey menghembuskan nafasnya panjang. Tatapannya masih tak lepas dari Moza. Gadis itu nampak begitu terluka. Ia tahu Moza menyimpan perasaan padanya, tapi hatinya masih terpaut pada Via. Bahkan saat ini pun begitu. Hingga ia melupakan persahabatan mereka karena Rey terlalu fokus untuk menghindari gadis di depannya. Rey mengakui kesalahannya yang melupakan sahabatnya sendiri.
Namun saat ini ia begitu membutuhkan Moza. Ia membutuhkan gadis itu untuk menceritakan bagaimana perihnya hatinya saat ini ketika ia melepaskan cintanya untuk Bintang.
"Maafkan Aku Za, Aku memang tidak pantas di sebut sahabat. Kau boleh menghukum ku dengan apapun itu. Asalkan Kau mau menjadi sahabatku lagi. Apa Kau tahu? Aku merindukanmu ketika Kau tidak ada. Kau cuti dari kantor begitu lama, jadi Kau pulang selama ini?" Bintang berusaha untuk membujuk Moza agar tidak marah padanya.
"Kau itu tidak pernah berubah Rey. Dari dulu Kau selalu saja seperti ini. Kau pikir Aku sahabat yang seperti apa?" Moza tersenyum, ia tidak pernah bisa marah pada Rey. "Bagaimana rasanya patah hati? Enak? Aku sudah memperingatkan mu, tapi Kau tidak mendengar ucapan ku," Moza terkekeh menggoda Rey.
"Dan Kau akhirnya kembali seperti dulu, Kau sering meledekku." Rey membalas senyum Moza. "Maafkan Aku karena mengabaikan mu, Za. Kita masih bersahabat?" tanyanya.
Moza menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka kembali akrab seperti waktu mereka kecil. Rey menceritakan tentang semua yang ia rasakan saat ini. Tentang patah hatinya.
Moza hanya bisa mendengarkan, hatinya menahan perih ketika Rey berkata bahwa ia masih sangat mencintai Via. Tapi Moza menyadari bahwa mereka hanya sahabat saja, jadi ia tidak akan mengharapkan Rey lagi. Ia akan menyimpan rasa cinta itu jauh dalam hatinya. Moza ingin persahabatannya hancur hanya karena cintanya.
__ADS_1
Mereka nampak begitu akrab, sesekali Moza melontarkan candanya. Dan itu semua tak luput dari perhatian kedua keluarga itu.
Mama Zara dan Mama Azki tersenyum saling berpandangan. Mungkin perjodohan yang akan mereka lakukan akan berhasil. Lalu mereka saling berbisik, mereka tengah merencanakan sesuatu. Lalu Mama Azki mendekati Moza dan Rey.
"Sayang, maafkan Mama dan Papa. Mama dan Papa harus ke tempat nenek. Jadi bisakah nak Rey mengantarkan Putri Tante nanti?" ucap Mama Azki kepada Rey.
"Baiklah Tante," Rey mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih nak Rey, kalau begitu Tante pulang dulu, eh maksudnya ke tempat nenek Moza. Kalian jangan malam-malam ya," pinta Mama Azki.
Moza tahu ini hanyalah akal-akalan Mamanya saja untuk menjodohkannya dengan Rey. Perjodohan yang tidak akan pernah mungkin terjadi, pikir Moza.
Lalu setelah Mama Azki berpamitan, Mama Zara mengirimkan pesan kepada putranya bahwa mereka juga harus kembali. Bintang hanya tertawa geli melihat tingkah keluarganya dan keluarga Moza.
__ADS_1
"Apa Kau tahu kalau keluarga kita sebenarnya berusaha untuk menjodohkan kita berdua, Za?"
Moza tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, dan itu akan sia-sia," ucap Moza tertawa.
Rey mengerutkan keningnya. "Kenapa sia-sia?"
"Karena itu tidak akan pernah terjadi. Kita tidak pernah ada perasaan cinta satu sama lain Rey. Dan kita bersahabat." ucap Moza,ia kembali menatap ke arah langit malam.
Rey jelas tahu bahwa Moza memiliki cinta untuknya. Namun kenapa gadis di depannya berbohong? Mungkinkah Moza telah memiliki seorang kekasih?
Banyak pertanyaan yang ada di hati Resya. "Apa Kau tidak ingin mencoba untuk memenuhi keinginan kedua orang tua kita? Tidak ada salahnya untuk mencoba kan?" Rey berkata asal.
Membuat Moza menoleh seketika menatap Rey. Lalu ia tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
***