
Keesokan harinya...
Via telah mencari sekolah untuk Er semalam lewat situs online. Sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hari ini ia memutuskan untuk mendaftarkan putranya sekolah di tempat itu.
Bintang menyempatkan diri untuk mengantarkan Via mendatangi sekolah tersebut. Dan kini Er akhirnya bisa sekolah di sana.
"Sayang, Er tidak boleh nakal ya, nanti Er akan dapat banyak teman di sini. Er suka kan sekolahnya?" Via berbicara dengan begitu lembut. Er mengangguk, bocah kecil itu nampak menyukai sekolah barunya.
"Mrs, Saya titip anak Saya ya. Mohon bimbingannya," Via berkata dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Tentu Nyonya, Tuan, putra Anda pasti akan menjadi anak yang pintar."
Via tersenyum, lalu ia dan Bintang melambaikan tangannya kepada putranya yang mulai memasuki kelasnya.
Bintang menggandeng tangan Via menuju mobil. Hari ini Ia memutuskan untuk menemani istrinya ke pemakaman ibu Via.
__ADS_1
"Via nampak diam sepanjang perjalanan. Melihat hal itu, tangan Bintang meraih jemari Via dan sesekali mengecupnya. Bintang menggenggam jemari Via dengan hangat.
"Apa yang Kau pikirkan Sayang?" tanya Bintang, tangan kanannya memegang setir, sementara tangan kirinya menggenggam tangan Via.
"Aku sangat merindukan ibu...," Via nampak begitu sendu. Ia mengingat kehidupannya bersama ibunya. Mengingat kembali tentang pengkhianatan ayahnya kepada ibunya.
"Sayang...Ibu sudah tenang di atas sana, saat ini ada Aku yang bersamamu. Aku akan menjadi ibu, ayah, dan juga seorang suami untuk mu."
Via tersenyum menatap suaminya, ia pun mengecup punggung tangan suaminya. "Ya, Kau memang terbaik, Sayang."
"Sayang... Apa kabar dengannya? Apa yang di kerjakan pria itu setelah mengetahui kebenarannya?" tanya Via. Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya. Rasanya dadanya begitu sesak kala mengingat pria yang sudah menyakiti ibunya.
Ia terdiam sejenak, sesekali Bintang melirik ke arah istrinya.
"Ayahmu sangat menyesali perbuatannya Sayang. Setelah mengetahui kebenarannya, ia terlihat nampak begitu terpuruk, perusahaannya menjadi kalang kabut. Dan Aku juga sudah membeli 50% saham perusahaan miliknya."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Via merasa begitu senang, namun juga begitu sedih.
"Dia memang pantas mendapatkan hal itu, Tuhan telah menghukum pria tua itu, dan itu tak seberapa dengan rasa sakit yang ibu rasakan selama ini." Via menahan sesak dalam hatinya.
Bintang mengerti dengan rasa sakit yang Via rasakan selama ini akibat ayah Via yang tak berperasaan. Bintang mulai menepikan mobilnya. Karena saat ini mobilnya telah sampai di area pemakaman.
Bintang memeluk tubuh istrinya, ia tahu Via sangat membutuhkan pelukan saat ini. "Sayang... Kita turun dulu ya, mengirimkan doa untuk ibu, setelah itu kita bahas lagi ini nanti." ucap Bintang lembut penuh kasih.
Via merasakan ketenangan dan kehangatan ketika suaminya memeluknya dan berusaha menenangkannya. Via mengangguk, lalu mereka segera turun dari mobil dan mengunjungi pusara ibunya Via.
Mereka menuju pusara ibu Via dengan tangan yang saling menggenggam. Hingga langkah mereka pun terhenti tepat di depan makam ibunya Via.
Via mulai berjongkok, tangannya mulai mencabuti beberapa rumput yang ada di dekat nisan ibunya.
"Ibu... Via datang Bu... Via minta maaf karena sudah beberapa tahun Via tidak mengunjungi ibu. Aku sangat merindukan ibu..., Via selalu berdoa ibu tenang di atas sana." Gadis itu tergugu, lalu ia menatap ke arah suaminya, "Via mau mengenalkan suami Via. Waktu itu ibu tidak mengetahui Via menikah kan Bu? Dan sekarang Via ingin mengenalkan suami Via, Bintang."
__ADS_1
"Dia adalah suami terbaik. Dan Aku sangat bahagia bersamanya, ibu. Aku sangat mencintainya. Via kembali mengecup tangan Bintang dan menggenggamnya erat.
***