
Rey merebahkan tubuhnya di atas kasurnya. Mata itu sulit untuk terpejam. Bayang-bayang makan malam bersama Moza beberapa saat lalu membuatnya tak dapat memejamkan matanya.
Pria itu mengingat ketika jantungnya berdetak kencang saat menatap sahabatnya. Rasa yang sama dengan perasaannya terhadap Via.
Kemudian tangan kekarnya meraih ponselnya. Rey mencari foto Via dalam ponselnya. Ya, Rey masih menyimpan semua foto Via dalam ponselnya. Satu persatu jarinya mengusap gambar dirinya dan Via ketika mereka masih berstatus sebagai tunangannya.
Perasaan itu masih bergetar indah dalam hatinya. Dirinya masih memiliki rasa itu terhadap wanita yang sudah menjadi milik orang lain itu. Lalu ia kembali teringat dengan debaran yang ia rasakan saat menatap Moza. Debaran itu hampir sama dengan yang ia rasakan kepada Via. Dan Rey tidak bodoh, ia tahu perasaan apa itu.
"Tapi Kau sekarang telah memiliki seorang kekasih Za. Seandainya Kau masih mencintai ku, Aku pasti akan menyetujui perjodohan yang orang tua kita lakukan." Gumamnya.
Akankah Rey akan kembali kehilangan cintanya lagi? Moza hanya berstatus sebagai kekasih aktor itu saja, dia masih bisa berjuang untuk mendapatkan cinta sahabatnya. Haruskah dirinya melakukan hal tersebut? Rey begitu bimbang memikirkannya. Namun ia tidak ingin kehilangan cintanya untuk kedua kalinya.
Ia ingin berusaha untuk menghilangkan perasaan itu terhadap Via. Ia ingin menghapusnya dengan mencintai gadis lain dalam hidupnya.
***
Keesokan harinya di kantor Rey...
__ADS_1
Kali ini Rey akan menetap di Indonesia. Ia akan menggabungkan perusahaannya dengan ayahnya yang ada di sana.
Ia berniat ingin membangun rumah di sana. Rey memanggil Moza untuk membantunya memilih sebuah desain untuk rumah yang akan ia bangun nantinya.
"Ada apa Rey? Bukankah urusan pekerjaan sudah selesai?" ujar Moza heran, karena Rey kembali memanggilnya.
"Ya, kali ini bukan masalah pekerjaan. Aku ingin bertanya padamu tentang sebuah desain rumah." ucapnya. Rey tidak memberi tahu bahwa Ia sedang membangun sebuah rumah di negara tersebut.
"Apa ini untuk klien?"
"Ya,"jawabnya berbohong. "Aku ingin ingin minta ide darimu tentang sebuah desain yang Kau impikan," ucap Rey.
"Aku yakin klien pasti akan menyukainya, sekarang cepat katakan bagaimana desain rumah impian mu?"
Moza akhirnya menjabarkannya. Namun ia tidak yakin dengan klien apakah akan menyukainya atau tidak.
"Baiklah, terimakasih sudah memberikan sebuah desain rumah impian mu." ucap Rey. Lalu ia menatap jam tangannya, sudah sore hari. "Apakah Kau ada acara malam ini?" tanya Rey ragu.
__ADS_1
Moza mengerutkan keningnya. Malam ini ia hanya ingin merebahkan tubuhnya di atas kasurnya, rasanya hari ini begitu melelahkan baginya. Moza pun menggelengkan kepalanya.
"Bagus... Bagaimana kalau kita pergi ke festival kembang api malam ini," ajak Rey ia berharap Moza tidak ada janji dengan aktor itu.
"Kau serius mengajakku?"
"Ya, apa salahnya. Mau kan, Kau begitu menyukai kembang api," ucap Rey.
"Oke, baiklah. Ternyata Kau masih mengingatnya," ucap Moza tersenyum.
Rey membalas senyum Moza, dalam hati ia bersorak. "Yess...."
"Aku akan menjemputmu malam ini,kawan."
***
Moza memilih-milih banyak sekali pakaian miliknya. Rasanya tak satupun tak ada yang cocok dengannya.
__ADS_1
"Ini hanya ajakan biasa saja, bukan sebuah kencan. Kenapa Aku merasa senang ini? Rey, apakah di hatimu masih ada dia? Aku ingin sekali menolak ajakan mu, tapi hatiku begitu ingin bersamamu. Aku ingin sekali marah dengan hatiku yang tak pernah bisa berpaling darimu." gumamnya. Moza mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya.
***