Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 44


__ADS_3

"Mama, cucumu di dalam, operasinya berhasil. Dan nyawa cicit dalam kandungan cucumu juga selamat," ucap dokter Gio.


"Apa Kau yakin bahwa gadis itu adalah cucuku?"


"Tentu saja Mam, kalung yang Ia pakai adalah kalung yang Mama berikan kepada Delisa waktu itu." ucap dokter Gio dengan yakinnya.


"Kalau begitu, cepat suruh orang-orang kita untuk menyelidiki tentang semua kehidupan cucuku. Dan juga Aku ingin mengetahui keberadaan putriku, Delisa." Perintahnya.


"Baiklah Mam."


"Dokter, detak jantung pasien tiba-tiba melemah!" Perawat datang dan mengabarkan kepada dokter Gio.


"Apa?! Bagaimana bisa!" Dokter Gio segera berlari memasuki ruangan Via.


Sementara nenek Mia terus saja berdoa untuk keselamatan Via.


***


Bintang masih tak bersemangat untuk kembali melakukan apapun. Namun ponselnya terus saja berdering, hingga mengharuskannya untuk segera mengangkatnya.


Nama Bimo tertera di sana. Bintang segera mengangkatnya. Mungkin saja Bimo telah menemukan di mana keberadaan Via.


"Tuan, Saya telah menemukan dimana Nona Via saat ini."


Bintang nampak begitu bersemangat. Istrinya telah di temukan, dia sudah tidak sabar untuk memeluk Via kedalam dekapannya. Mengungkapkan kata maaf dan penyesalannya.


"Cepat katakan di mana istri Ku saat ini Bim!" Bintang mulai tak sabar.


Terdengar begitu jelas, saat ini Bimo menghela nafas beratnya. Bintang masih menunggu jawaban Bimo.


"Tuan, hari ini terjadi kecelakaan di jalan S. Sebuah mobil taksi terguling di jalan tersebut, dan ada dua korban di dalamnya. Seorang supir taksi dan penumpangnya." Bimo kembali terdiam.


"Sebenarnya apa yang ingin Kau katakan Bim?! Aku menunggu kabar istri ku. Kenapa Kau malah membahas tentang taksi dan penumpangnya yang tengah mengalami kecelakaan?"


"Penumpang itu adalah Nona Via, Tuan." Dengan berat hati akhirnya Bimo mengatakannya.


Seketika Bintang terpaku di tempatnya. Telinganya masih berfungsi dengan normal. Tapi Bintang berharap apa yang dia dengar salah.


"Tidak, Kau pasti tengah bercanda kan Bim. Istriku pasti baik-baik saja kan?!" Bintang berkata dengan tubuh yang gemetar. Ia masih berharap bahwa Bimo mengatakan penumpang itu bukanlah Via.


Bimo terdiam. Terasa begitu hening di seberang sana. "Maafkan Saya, Tuan. Tapi penumpang itu memanglah Nona Via," ucap Bimo pelan dan begitu hati-hati.


Deg...

__ADS_1


Bintang terduduk. Ia masih menyangkal bahwa yang ia dengar tidaklah benar. Bintang akan memastikan sendiri bahwa penumpang itu bukanlah istrinya.


"Katakan, di mana rumah sakit itu! Aku akan memastikan bahwa yang Kau katakan salah, Bim." ucapnya dengan begitu mantap.


Bimo segera memberitahu di mana rumah sakit itu. Setelahnya Bimo langsung menuju ke sana setelah Bintang menutup telponnya.


***


Bintang segera menuju ke ruang yang suster beritahukan di depan. Kini ia sudah berada di rumah sakit besar di kota.


Bintang terus saja mempercepat langkahnya. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui tentang siapakah korban kecelakaan itu.


Namun saat sampai di ruangan tersebut. Bintang tak mendapati siapapun. Hanya beberapa suster yang sedang membereskan tempat itu.


"Maaf sus, apakah benar ini kamar pasien yang telah mengalami kecelakaan di dalam mobil taksi?"


"Benar, Tuan. Tapi baru saja keluarganya membawa jenazah korban untuk segera di kebumikan," ucap salah seorang suster.


Mendengar hal itu membuat jantung Bintang terpompa semakin cepat. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah Via.


Dengan tangan gemetar, Bintang mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Lalu ia memutar video Via saat sedang memasak waktu itu.


"A-apakah dia pasiennya sus?" Bintang bertanya dengan harap cemas.


Jantungnya seakan berhenti melihat suster menganggukkan kepalanya. "Tidak, itu tidak benar. Via tidak mungkin meninggalkan ku. Suster pasti salah, katakan bahwa itu salah sus!" Bintang tidak terima.


Salah seorang suster terlihat sedang mengambil sesuatu. Sebuah tas kecil yang tidak asing di mata Bintang.


"Tuan, ini adalah tas milik pasien. Tadi keluarganya lupa untuk membawanya. Apakah Anda termasuk keluarganya?"


"Saya suaminya sus. Bolehkah Saya meminta tas itu? Saya harus memastikan apakah dia benar-benar istri Saya."


Suster menganggukkan kepalanya dan memberikan tas itu kepada Bintang. Bintang segera membukanya,pelan. Dan tubuhnya luruh saat ia melihat bahwa di dalam sana benar barang milik Via. Ia menangis tergugu, hatinya masih menyangkal bahwa itu bukanlah Via.


Bintang menangis, rasanya penyesalannya tidak pernah berujung. Kini Via benar-benar meninggalkan dirinya. Bintang tidak akan pernah lagi bertemu dengan istrinya. Ia begitu menyesali segalanya. Andai saja emosi tidak mengalahkan logikanya, mungkin Via masih berada dalam pelukannya. Kini Bintang hanya bisa menyesali semuanya. Via nya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.


***


Beberapa hari berlalu...


Bintang menyuruh Bimo untuk menemukan di mana makam istrinya. Bintang harus melihat sendiri di mana makam tersebut.


Pihak rumah sakit tidak mengatakan di mana keluarga Via. Bintang berpikir yang membawa Via adalah Johan, jadi ia mendatangi rumah Johan untuk bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Bintang, Kau datang kemari? Aku tahu Kau merindukan ku." Alesha langsung memeluk tubuh Bintang. Namun dengan cepat Bintang menghempaskan tubuh Alesha. Ia begitu jijik Alesha menyentuhnya. Ia juga sangat menyesal pernah menyentuhnya.


"Argh...."


Rosita menangkap tubuh putrinya. Lalu ia menatap Bintang tajam.


"Apa yang Kau lakukan pada putriku?!"


Bintang menatap keduanya dengan nanar. Dua wanita di depannya sudah membuat hidup Via berantakan. Ia tidak akan memaafkannya.


"Ck. Dua wanita murahan!" Cibirnya.


"Apa yang Anda katakan, nak Bintang?! Kenapa Kau mengatakan hal itu kepada istri dan putriku!?" Johan datang menghampiri mereka.


"Kau yakin bahwa Alesha adalah putrimu?" Bintang berkata dengan sinisnya.


"Apa maksudmu!?"


"Bimo, berikan kepada pria tua itu!" Perintah Bintang.


Bimo segera memberikan sebuah berkas kepada Johan. Di sana ada semua bukti-bukti kejahatan Rosita. Bahkan Alesha bukanlah putri kandungnya. Rosita telah membohonginya selama ini.


Seketika Johan langsung terlihat begitu marah. Ia melayangkan tangannya dan menampar Rosita.


Plak... "Dasar Kau ja.la.ng! Kau sudah membohongi ku selama ini. Kau sudah membuatku meninggalkan istri dan putriku!" Plak ... Johan kembali menamparnya.


Rosita memegangi pipinya dan menatap nanar ke arah Johan dan Bintang.


"Hahaha... Ya, Aku memang sudah menipumu. Alesha memang bukan putrimu. Dan Kau adalah laki-laki bodoh karena sudah percaya padaku." Rosita memegangi pipinya, dan tersenyum menyeringai.


"Ma, apakah benar Papa Johan bukan papaku?" Alesha nampak terkejut.


"Ya, dia bukan papamu. Tapi Kau tenang saja. Mama sudah mengubah semua hartanya menjadi milik kita. Dia sudah tidak punya apa-apa saat ini."


"Kau!!" Johan menunjuk ke arah Rosita dengan marahnya.


"Jangan bergerak!" Tiba-tiba polisi datang dan mengarahkan senjatanya ke arah Rosita dan Alesha.


Rosita terkejut, ia menatap Bintang yang kini tersenyum menyeringai. Ia yakin Bintang yang sudah membawa polisi tersebut.


"Sial!" ucapnya dalam hati.


Polisi segera membawa Rosita dan Alesha atas tuduhan pembunuhan yang dilakukan kepada istri pertama suaminya. Bintang sudah menyelidiki semuanya.

__ADS_1


***


__ADS_2