Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 103


__ADS_3

"Kau lelah Sayang, wajahmu terlihat begitu pucat," ucap Via mengusap punggung suaminya. Bintang mengangguk dengan manjanya.


"Sayang, Aku tadi menyuruh supir untuk menjemput ku ke kantor. Aku sedang tidak ingin menyetir saat ini. Aku ingin duduk di kursi belakang, itu akan membuat mu dekat dengan ku," ucap Bintang dengan manjanya. Ia langsung memeluk tubuh suaminya.


Via menatap suaminya heran. Kenapa suaminya tiba-tiba menjadi seperti ini, Apa terjadi sesuatu di kantornya?


Mereka berjalan menuju parkiran dengan tangan Bintang yang terus saja melingkar di pinggangnya. Membuat semua orang yang melihatnya menjadi begitu iri. Mereka terlihat begitu mesra.


"Sayang geli... Kenapa Kau terus mengendus ku?" Via bergidik. Bagaimana tidak? Tangan Bintang terus saja memeluknya dan hidungnya terus mengendus lehernya.


"Aroma mu sangat enak Sayang. Seharian ini aku mencium bau yang tidak enak di kantor. Dan baumu membuatku begitu nyaman dan sangat tenang." jawab Bintang. Masih mengendus lehernya istrinya, sesekali ia mengecupinya.


Sementara sang supir menelan ludahnya berkali-kali. Ia sedikit mengintip yang bosnya lakukan di kursi belakang. Wajahnya memerah menahan senyumnya. 'Manis sekali mereka' batinnya.


"Apa?!" Bintang memelototi supirnya menatap ke arah spion. Dan itu membuat sang supir gelagapan karena ketahuan mengintip bosnya.


Bintang menutup sekat bagian depannya. Hingga supirnya kini tak dapat melihat apa yang ia lakukan saat ini.


Sang supir hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia membayangkan bagaimana asisten Bimo melewati harinya? Asisten Bimo kan sering bersama bosnya. Sang supir memukul kepalanya pelan karena otaknya sudah terkontaminasi.


***


Di rumah Bintang.


Via duduk di ruang santai. Ia sedang menyaksikan acara televisi dengan tangannya yang memegang keripik kentang dan tangan satunya mengusap lembut rambut Bintang. Saat ini Bintang membaringkan tubuhnya di sofa dengan menaruh kepalanya di pangkuan istrinya.


Sesekali Via menyuapkan keripik kentang itu ke mulut suaminya.


Bintang memikirkan tentang pekerjaannya yang mengharuskannya ke luar negeri.


"Sayang," panggil Bintang.


Via menunduk untuk menatap wajah suaminya. "Ya?" jawab Via.


"Pekerjaan ku mengharuskan ku untuk ke luar negeri. Kau tidak apa-apa kan?"


"Apa itu akan lama?" Via balik bertanya. Tangannya masih mengusap lembut rambut Bintang.


"Tiga hari," ucap Bintang memejamkan matanya.


Via sebenarnya tidak rela, tapi itu sudah tanggung jawab suaminya dalam bekerja. Jadi ia akan berusaha mengikhlaskannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Sayang, bukankah itu sudah tanggung jawab mu?"


Bintang membuka matanya, lalu ia mengangkat kepalanya dan beranjak dari sana.


"Kau mau kemana Sayang?" tanya Via.


"Apa Nyonya istri mau ikut?" Bintang menawarinya dengan senyum.


Via mengerutkan keningnya. "Kemana?"


"Ke mini market depan Sayang, apakah mau ikut?" jawabnya.


Via menggelengkan kepalanya. "Tidak, Aku di rumah saja Sayang." Via kembali menatap ke arah televisi. Sementara Bintang keluar sendirian.


Tak berapa lama kemudian, Bintang datang dengan menenteng belanjaannya. Ia memberikan Via buah, lalu ia segera melangkah ke dapur.


"Apa yang Kau masak sayang?" tanya Via menyusul Bintang dan berdiri di sampingnya.


"Mie instan," jawab Bintang. Ia seperti seekor tikus yang ketahuan sedang mencuri.


Via mengerutkan keningnya heran. Bukankah selama ini suaminya tidak menyukai mie instan? Bintang selalu melarangnya memakan mie instan, tapi sekarang Tuan suami melanggarnya.


"Kau mengingkari ucapanmu Sayang... tidak boleh!" ucap Via dengan tegasnya.


"Kembalikan Sayang...," ucap Bintang memohon.


"Tidak akan...," ucap Via tegas.


Bintang mengerucutkan bibirnya, ia segera melangkah melewati istrinya dan kembali duduk di sofa. Rasanya air liurnya hampir menetes membayangkan mie instan dengan kuah panas.


Sementara Via merasa heran dengan sikap suaminya seharian ini. 'Sebenarnya ada apa dengan suaminya itu?' ucapnya dalam hati.


Via kemudian mulai memasak mie instan tersebut. Ia memasak dua bungkus mie instan dan memberikan telur di dalamnya. Via juga memberikan irisan cabai ke dalamnya.


Akhirnya mie instan itu masak. Via menaruhnya ke dalam mangkuk besar dan membawanya ke tempat suaminya. Rasanya air liurnya juga ingin menetes melihat mie instan buatannya. Via tersenyum melihat suaminya yang masih mengerucutkan bibirnya.


Hidung Bintang langsung bereaksi ketika mencium aroma dari mie instan. Ia menoleh dan melihat istrinya sedang menaruh sebuah mangkuk besar di atas meja. Ia segera melangkah dan mendekati Via.


Matanya berbinar ketika melihat mie instan dalam mangkuk besar itu.


"Uuhh...istriku baik sekali," ucap Bintang mencubit pipi Via. Lalu ia meminta sendok dan garpu yang Via pegang saat ini.

__ADS_1


"Tapi Kau harus menciumku Sayang," ucap Via. Dengan cepatnya Bintang mengecup pipi istrinya. Namun Ia berhenti, Bintang meraih bibir istrinya dan menciumnya dengan begitu dalam.


"Sudah bukan? Sekarang berikan sendoknya Sayang."


Via segera memberikan sendok dan garpu yang ia pegang. Bintang nampak begitu girang saat mendapatkan sendok dan garpu tersebut. Ia segera mendudukkan tubuhnya di depan semangkuk mie instan yang membuatnya hampir menangis karena tak mendapatkannya.


Sementara Via tersenyum kecil melihat tingkah suaminya yang seperti putranya Er.


"Makanlah Sayang, Kau menginginkannya kan?" Via menepuk punggung suaminya pelan.


Malam ini semangkuk mie instan membuat Bintang begitu bahagia. Membuat istrinya tertawa melihatnya.


Setelah menghabiskan mie instan tersebut, Bintang menuju ruang kerjanya. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia cek malam ini. Sementara Via melanjutkan menonton acara televisi kesukaannya.


Via melihat jam tangannya, sudah pukul delapan, tapi putranya yang tengah berjalan-jalan dengan Rey dan Moza belum juga kembali. Ia melangkah menuju ruang depan dan menunggu.


Tak berapa lama kemudian terdengar suara mobil di depan. Via segera membuka pintu depan. Ia tersenyum saat melihat itu adalah mereka yang di tunggu.


Terlihat Moza tengah menggendong putranya yang hampir tertidur. Mereka segera memasuki rumah dan di sambut hangat oleh Via.


Via hendak menggendong putranya, namun Er mengencangkan pelukannya pada Moza. "Er mau aunty yang mengantar Er ke kamar Mom," ucap Er dengan suara khas mengantuk.


"Biarkan Aku yang membawanya ke kamarnya Vi," ucap Moza dan di angguki oleh Via.


Via kemudian menyuruh Rey untuk masuk sembari menunggu Moza turun. "Silahkan masuk Rey," ucap Via.


Rey segera masuk dan duduk di sofa.


"Kau mau minum apa Rey?" tanya Via.


Rey tersenyum menatap gadis yang pernah dia cintai. Debaran itu masih ada di dadanya, namun sudah begitu samar. Ia hanya tersenyum. "Aku akan minum apapun yang Kau berikan padaku Vi," ucap Rey.


"Baiklah Tuan," canda Via , ia tertawa. Kemudian berlalu untuk membuat teh hangat untuk Rey.


Via membawa teh hangat dan meletakkannya di depan Rey. "Silahkan di minum Rey," ucapnya sedikit membungkuk ketika menaruh teh di meja.


Namun saat akan menegakkan badannya, tiba-tiba saja Via merasa sangat pusing dan membuatnya hampir terjatuh kalau Rey tidak menangkap tubuhnya.


Sejenak Rey menatap wajah Via yang begitu dekat. "Kau harus berhati-hati Vi." ucapnya.


Di saat bersamaan Moza dan Bintang mematung melihat Rey yang kini nampak saling berpelukan.

__ADS_1


***


__ADS_2