
Neneknya mengatakan bahwa suami Maura telah meninggal dalam kecelakaan tersebut. Jadi Maura meyakini bahwa suaminya telah meninggal.
Namun satu hal yang membuatnya heran. Karena satu pun Maura tidak memiliki foto suaminya. Setiap Maura menanyakan kepada neneknya, tapi neneknya selalu mengalihkan pembicaraan bila itu mengenai suaminya. Dan itu membuat Maura menjadi ingin tahu bagaimana sosok suaminya sebelumnya.
***
Maura menatap gemas putranya yang kini dengan lahapnya memakan masakan cepat saji yang putranya inginkan sejak beberapa hari lalu.
"Mommy, apakah mommy tidak mau makan? Mommy terus saja menatap Er, dan mommy tidak akan kenyang kalau terus menatap ku," ucap Er dengan lucunya. Entah mengapa, Maura merasa Er terkadang berkata seperti orang dewasa. Dan itu sudah di pastikan karena putranya terlalu sering bersama dengan tunangannya.
"Baiklah Er, mommy akan makan. Er cepat habiskan makanan Er, nenek pasti menunggu kita."
"Er sudah habis mom. Mommy yang dari tadi hanya menatap Er. Jadi mommy melupakan makanan mommy." Er menatap jengah mommy nya. Lalu ia segera turun dari kursinya.
"Er mau kemana?" tanya Maura saat melihat Er turun dari kursinya.
"Er mau mencuci tangan Er mom." Maura hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka memang sering ke tempat itu, jadi Er sudah tahu seluk-beluk tempat itu.
Er kini tengah mencuci tangannya. Di sebelahnya ada seorang pria yang juga tengah mencuci tangannya. Er menatap wajah pria tersebut, pria itu nampak begitu murung, sehingga sebuah tawa keluar dari bibir mungil Er.
"Wajah Paman sangat lucu hehehe," ucap Er terkekeh.
Sementara pria itu seketika menatap ke arah Er. Sejenak pria itu terpaku, wajah Er membuatnya begitu terkejut. Ia seperti pernah melihat wajah itu, tapi ia lupa dimana.
"Apakah Kau bertanya padaku Boy?" tanyanya menatap wajah Er.
"Siapa lagi Paman? Apakah di sini ada orang lain selain Paman?"
Pria itu menoleh ke sekeliling, hanya ada mereka di sana, hingga iapun akhirnya tersenyum. "Kau benar Boy, hanya ada kita di sini. Lalu apa yang Kau tertawakan dariku Boy?"
__ADS_1
"Karena wajah Paman sangat lucu." Er kembali tertawa. Wajah bingung pria itu membuatnya terlihat begitu lucu menurut Er.
Pria itu hanya tersenyum. Ia membayangkan, mungkin saja bila istri dan calon anaknya masih hidup, mungkin dia akan sebesar anak kecil di depannya itu. Ya, pria itu adalah Bintang.
"Kau sangat menggemaskan, Boy. Bolehkah paman menggendong mu?"
"No Paman, Er sudah besar. Jadi Paman tidak boleh menggendong Er. Dan jangan memanggilku dengan nama Boy, karena mamaku Er, Paman." ucap Er dengan menggemaskan.
Pria itu kembali tersenyum menatap anak kecil itu. "Jadi namamu Er?" Er menganggukkan kepalanya. "Dengan siapa Kau kemari Er, kemana orang tuamu? Kenapa orang tuamu tidak mengawasi anak sekecil dirimu?" ucap pria itu heran.
"Kenapa Paman terus saja memanggil Er anak kecil? Er sudah besar, Paman. Er sama mommy, Paman." Er mengerucutkan bibirnya karena pria itu menyebutnya anak kecil.
Pria itu terkekeh, sungguh anak kecil di depannya sangat menggemaskan. Seorang anak kecil yang tidak ingin di sebut anak kecil. Bukankah sangat menggelikan, bukan?
"Baiklah Er. Bagaimana kalau Aku mengantarmu ke tempat mommy mu? Paman takut bila ada orang yang akan menculik mu," tawanya.
Er nampak berpikir. Ia menatap wajah pria itu dengan seksama, kini wajah itu tak nampak terlihat seperti sebelumnya yang nampak murung. Akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya.
Pria itu berniat menegur mommy Er, kalau tidak baik membiarkan anak kecil seorang diri. Banyak sekali kasus penculikan saat ini.
"Permisi Nona," sapa pria itu kepada sosok wanita yang ia yakini adalah mommy Er.
Wanita itu pun menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Er yang di gandeng oleh pria yang tidak di kenal. Ia langsung menarik putranya. Sementara dari kejauhan dua orang bodyguard yang selalu mengawal Maura dan Er, hendak mendekat ke arah mereka. Maura melihatnya dan memberi tanda agar mereka tetap di sana.
"Nona, kenapa Anda membiarkan putra Anda sendirian? Apa Anda tahu? Saat ini banyak sekali penculikan. Jadi mohon perhatikan putra Anda," ucap pria itu memperingatkan.
Maura segera berdiri dan menatap pria tersebut. Ada sebuah getaran aneh saat Maura menatapnya. Kini ia mengenakan masker, jadi wajah Maura tak begitu jelas. Hanya matanya saja yang terlihat.
Sementara pria itu terdiam di tempatnya. Ia menatap mata indah itu. Rasanya sungguh tidak asing.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Apakah Kau melihat di ujung sana dan di sana," Maura menunjuk ke arah dua pria berbadan besar yang tengah mengawasi mereka. "Mereka adalah orang-orang yang menjaga kami. Jadi Anda jangan khawatir tentang keselamatan putra ku. Maura lalu sedikit membungkukkan badannya dan segera membawa Er pergi dari hadapan pria itu.
Pria itu masih terdiam di tempatnya. Maura wanita di depannya tadi mengingatkannya akan seseorang yang sangat ia cintai. "Mungkinkah?" Batin pria itu.
Namun sebuah panggilan membuyarkan lamunan pria tersebut.
"Tuan Bintang, kita harus segera kembali ke hotel." ucap Bimo.
Ya, pria itu adalah Bintang. Malam ini, selesai melakukan kerja samanya dengan perusahaan CJ Corp, Bintang ingin menikmati makan malamnya di McD.
Bintang menepis pemikirannya tentang wanita dan anak kecil tadi. Lalu ia segera pergi dari sana.
***
Pagi harinya...
Kini jadwal Bintang kosong. Namun ia enggan untuk kembali ke negaranya. Ia ingin menikmati hari liburnya selama beberapa hari di negara tersebut.
Bintang memutuskan untuk jalan-jalan di negara tersebut.
Hari ini ia memutuskan untuk ke Singapore River Cruise. Ia ingin menikmati keindahan pemandangan negara tersebut dengan menyusuri sungai. Mungkin dengan begitu, hatinya akan sedikit terhibur.
Perjalanan menuju Singapore River tidak memakan waktu lama. Kini mobil Bintang akhirnya sampai di tempat tujuannya.
Bimo sudah menyewa perahu listrik yang akan membawa Bintang menyusuri keindahan negara tersebut. Bimo merasa sedikit tenang karena Tuannya saat ini perlahan mulai kembali seperti semula. Namun ia dapat melihat sebuah kesedihan yang mendalam dari raut wajah Tuannya itu. Kepergian istrinya membuat dunia Tuannya berubah derastis.
Mereka mulai menaiki perahu listrik yang akan membawa mereka menikmati keindahan kota Singapore.
__ADS_1
Dapat Bintang lihat dari bumboat, bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur yang megah. Membuat matanya begitu di manjakan. Ia menghela nafasnya. Seandainya istrinya masih hidup, seharusnya saat ini ia menikmati pemandangan ini bersamanya. Bintang hanya bisa tersenyum dalam kesedihannya.
***