
Keesokan harinya...
Moza menatap layar televisi dengan begitu lekat. Tatapannya menjadi membola ketika melihat berita tentang Richie dan dirinya.
Moza segera meraih ponselnya dan menghubungi Richie. "Apa Kau melihat berita pagi hari ini?" ucap Moza, ia mulai panik, orang tuanya pasti akan marah jika melihat berita di televisi.
"Ya, Aku melihatnya. Bukankah kita terlihat seperti pasangan yang keren," celetuk Richie. Bibirnya menyunggingkan senyum.
"Tutup mulutmu Richie... Jika orang tuaku mengetahuinya, maka habislah Aku," ucap Moza masih dengan kesal. "Aku tidak mau tahu, Kau harus menghilangkan berita itu sekarang juga, atau Aku tidak akan pernah mau lagi melakukan sandiwara itu!" ancamnya.
"Tapi Aku tidak keberatan jika kita tidak bersandiwara, kita lakukan sesuai dengan berita saja. Aku mencintaimu Moza, jadi apa salahnya jika kita menjadikan berita itu nyata?" ucap Richie.
"Jangan membual, Aku tidak mencintaimu. Kau selalu mengungkapkan cinta kepada setiap gadis, tapi itu tidak mempan untuk ku. Sekarang Aku tidak mau tahu, Kau harus menghilangkan berita itu," perintah Moza.
"Kau memang gadis yang unik Za, Aku akan membuatmu jatuh cinta kepada ku. Tidak ada seorang gadis yang tidak bisa ku taklukkan." ucap Richie dengan yakinnya.
__ADS_1
"Terserah...." Moza mematikan panggilan tersebut. Lalu ia segera bersiap untuk pergi ke kantor.
Moza menarik nafas dalam-dalam sebelum memasuki ruangan Rey. Pelan, ia membuka pintu ruangan Rey dan melangkah memasuki ruangan tersebut.
"Selamat pagi bos," sapa Via, lalu ia pun membacakan jadwal untuk Rey hari ini.
Rey hanya diam tak menjawab, lalu ia membawa tatapannya ke arah Moza.
"Sejak kapan Kau mengenal aktor itu?" Rey menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Moza mematung. Berita itu ternyata sampai ke Resya. Moza menggaruk tengkuknya. Melihat tatapan Rey membuatnya bingung untuk menjawabnya.
Mendengarnya membuat Rey menghembuskan nafasnya panjang. Sejenak ia memejamkan matanya dan kembali menatap Moza.
"Kau belum lama mengenalnya, dan sekarang kalian menjalin hubungan. Moza, apa Kau tahu kalau pria itu sering berkata manis kepada banyak sekali wanita. Apa Kau mau jika suatu hari Kau akan patah hati karenanya?"
__ADS_1
Moza terdiam mencerna perkataan Rey. Sebelumnya pria itu tidak pernah mau tahu dengan yang ia lakukan. Tapi mengapa akhir-akhir ini pria itu semakin mencampuri segala urusannya?
"Maaf, tapi itu adalah urusan pribadi ku Rey. Dan Kau tidak berhak untuk ikut campur. Kita hanya bersahabat," ucap Moza.
Rey tersentak mendengar jawaban Moza. Dulu Moza selalu menuruti ucapnya. Dan sekarang gadis itu sering sekali membantahnya. Ya, mereka memang bersahabat, tapi salahkah jika Rey mengingatkan sahabatnya?.
"Baiklah, jika Kau dan dia bisa berbahagia, Aku akan mendoakan kebahagiaan kalian. Jadi, apa dia seseorang yang Kau sukai diam-diam?" tanya Rey.
Via tak menjawab. Ia hanya tersenyum samar. Sedetik tadi ia merasa seolah Rey cemburu padanya. Namun ternyata ia salah, Rey tidak mungkin cemburu padanya. Memangnya siapa dirinya,hingga Rey harus cemburu padanya?
***
Rey membeli dua buah tiket bioskop. Malam ini ia ingin menghabiskan akhir pekannya bersama Moza, sahabatnya. Sudah lama ia dan Moza tidak ke bioskop untuk sekedar menonton film.
Kini ia berada tepat di parkiran apartemen Moza. Dia hendak membuka pintu mobilnya, namun ia urungkan kala melihat selulit tubuh seorang yang tak jauh dari mobilnya. Seseorang itu baru saja turun dari mobil seseorag dan melambaikan tangannya ke arah mobil tersebut dengan senyumnya.
__ADS_1
Dia adalah Moza. Dan Rey tahu mobil siapa yang baru saja mengantarkan sahabatnya itu. Hatinya merasa begitu bergemuruh melihat hal tersebut. Rey seolah terancam kehilangan sahabatnya. Sesungguhnya perasaan apa yang ia rasakan? Rey tak dapat mengerti dengan hatinya.
***