Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 48


__ADS_3

Bimo terhenyak mendengar ucapan bosnya. Mungkinkah Tuannya akan kambuh lagi? Bimo menjadi khawatir.


"Tuan, mungkin Anda salah lihat. Bukankah waktu itu kita melihat sendiri pusara Nona Via? Anda harus mengikhlaskannya," jawab Bimo. Namun itu tidak membuat Bintang puas dengan ucapan asistennya. Entah mengapa, Bintang begitu tak yakin bahwa yang terkubur waktu itu bukanlah Via. Bintang akan mencari tahu.


Bimo segera menjalankan mobilnya. Kini tujuannya adalah rumah sakit. Ia harus segera membawa Bintang ke sana. Bimo tidak ingin terjadi apapun terhadap bosnya.


Tak berapa lama, mobil Bintang sampai di rumah sakit. Bimo kembali memapah Bintang menuju ke rumah sakit. Beberapa perawat langsung menangani Bintang. Mereka segera membawa Bintang ke ruang periksa.


Namun sialnya, dokter umum yang bertugas, sedang bertugas menangani pasien kecelakaan yang sangat parah. Hingga Bintang pun harus menunggu.


***


"Untunglah gadis kecil itu sangat kuat. Aku yakin bila dokter datang terlambat sedikit saja, nyawa gadis kecil itu tidak akan selamat," ucap perawat yang membantu dokter Maura.


"Semua ini karena kehendak Tuhan sus. Karena kuasanya kita masih bisa menyelamatkan nyawa gadis kecil itu," ucap Maura. Saat ini dia menatap pasiennya yang kini sudah mulai stabil.


"Dokter, ada pasien yang membutuhkan penanganan! Dokter yang bertugas sedang menangani korban kecelakaan yang sangat serius. Kami membutuhkan bantuan Anda untuk menanganinya." ucap perawat lainnya yang baru datang.


Via berpikir sejenak. Lalu ia menyetujuinya, keselamatan pasien lebih penting saat ini. Dokter Maura segera berjalan menuju pasien. Ia kembali mengenakan masker di wajahnya.


Maura melihat seseorang yang tengah menunggu di luar ruangan. Ia adalah Bimo. Bimo ingin memastikan apakah akan ada dokter yang akan memeriksa Tuannya. Terlihat begitu kentara raut wajah khawatir di wajah pria tersebut.


Bimo senang saat melihat dokter yang mulai memasuki ruang periksa.


Dokter Maura berjalan ke arah pasien. Ditatapnya pasien yang kini nampak memejamkan matanya. Mungkin pasien terlalu lelah menunggu dokter yang akan memeriksanya , hingga membuatnya tertidur.


Pasien itu mengenakan sebuah kemeja pendek, sehingga terlihat beberapa luka lecet yang ada di siku dan beberapa di bagian lain tubuh pasien.


Dokter Maura semakin mendekat ke arah pasien. Menatapnya sejenak, ia dapat melihat wajah sedih pasien itu, walaupun pasien tengah memejamkan matanya.


"Kenapa pasien ini terlihat begitu menyedihkan? Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" Ucap Maura dalam hati. Ia segera bergegas mengerjakan tugasnya.


Dokter Maura mulai memeriksa menggunakan stetoskop untuk mengetahui detak jantung pasien. Lalu ia mulai mengecek tekanan darah pasien. Detak jantung pasien normal, namun tekanan darah pasien terlalu rendah.


"Suster, siapkan ruangan untuk ruang rawat pasien. Tekanan darahnya terlalu rendah, ia harus di rawat selama satu atau dua hari," perintah dokter Maura.


"Baik dok," ucap suster dan langsung meninggalkan dokter Maura di sana.


Kini hanya ada dokter Maura dan Bintang di ruang pemeriksaan tersebut. Dokter Maura mulai membersihkan luka Bintang dengan menggunakan alkohol, sehingga membuat Bintang terbangun karena rasa perih pada lukanya.


"Ssss... ," Desis Bintang menahan perih lukanya. Namun saat Ia membuka matanya, pandangannya tercekat melihat dokter yang telah memeriksanya.

__ADS_1


"Anda sudah bangun, Tuan? Maafkan Saya membuat Anda terbangun. Tapi saya harus mengobati luka Anda agar tidak terinfeksi," ucap dokter Maura dengan begitu lembutnya.


Bintang begitu tercekat mendengar suara dokter yang tengah membersihkan lukanya. "Suara itu... Kenapa begitu mirip?" batinnya, Bintang pun menatap wajah dokter itu yang kini sedang menggunakan masker. Bola mata itu...


Bintang tak melepaskan pandangannya menatap wajah dokter di depannya. Hatinya bergetar ketika menatapnya. Dokter di depannya mengingatkan dirinya pada seseorang yang sangat ia rindukan selama ini.


Dokter Maura menyadari pasien pria di depannya terus saja menatapnya. Dan itu membuatnya juga menatap kearah pasien tersebut. Hingga pandangannya pun terkunci. Kenapa ia seakan tak asing menatap wajah pasien di depannya? Maura mengingat-ingat apakah mereka pernah bertemu sebelumnya.


Tiba-tiba ia teringat pada pria yang menegurnya saat berada di McD waktu itu. Dan itu membuatnya terkekeh.


"Tuan, ternyata kita bertemu lagi." ucap Maura dengan kekehannya.


Bintang masih tak mengalihkan pandangannya dari mata indah dokter di depannya. Suara itu, tatapan mata itu... Semuanya mengingatkannya pada istrinya. Pandangannya pun tertuju pada nametag yang tertera di jas dokter Maura.


"Dokter Maura...,"


"Anda mengetahui nama Saya?" Maura terkejut.


"Tertulis nama Anda di sana." Tunjuk Bintang ke arah nametag di jasnya. Dan itu membuat Maura menepuk keningnya dan semakin terkekeh. Bagaimana ia bisa lupa?


Sementara Bintang hanya terdiam dan terus saja menatap dokter Maura tanpa mengatakan apapun.


Maura segera menyelesaikan untuk mengobati luka Bintang. Lalu ia tersenyum menatap Bintang, tapi senyum itu tak terlihat karena masker yang ia kenakan.


Bintang mencekal tangan dokter Maura dan menariknya disaat dokter Maura hendak pergi dari sana.


Dokter Maura terkejut, tubuhnya hampir menimpa tubuh pasien di depannya.


"Apa yang Anda lakukan, Tuan!"


Bintang segera tersadar. Ia terlalu memikirkan tentang Via. Suara dan bola mata dokter Maura begitu mirip dengan istrinya, hingga Bintang pun tak dapat mengontrol dirinya.


"Maafkan Saya, dok." Bintang melepaskan tangannya. Kini dokter Maura segera berdiri.


"Anda tidak sopan melakukan hal itu kepada dokter yang sudah mengobati Anda!" ucap Maura sedikit marah.


"Saya sungguh minta maaf dok. Anda terlalu mengingatkan Saya pada istri Saya yang sudah tiada. Dan itu membuat Saya tidak bisa mengontrol diri Saya," ucap Bintang begitu sendu.


Dokter Maura mulai sedikit melunak. Ternyata kesedihan yang terlihat di wajah pasiennya karena telah kehilangan istrinya. Ia menjadi iba melihat pasiennya.


"Maafkan Saya, Tuan. Tapi tindakan Anda barusan membuat Saya begitu terkejut. Saya turut berduka atas kepergian istri Anda," ucap Maura tulus.

__ADS_1


"Dokter, ruang rawat inap pasien sudah siap." ucap suster yang baru saja datang.


"Baiklah, Tuan. Suster akan membawa Anda ke ruangan rawat inap Anda," ucap Maura dan hendak pergi dari sana.


"Tunggu dokter!"


Maura menghentikan langkahnya ketika pasiennya kembali memanggilnya. Lalu ia kembali menatap Bintang.


"Ada apa Tuan?"


"Bisakah Anda yang membawa Saya ke ruang rawat Saya." Pinta Bintang. Ia begitu berharap.


Maura berpikir sejenak. Ia menatap jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu sudah sangat larut, Er pasti masih menunggunya di rumah.


Tapi saat menatap Bintang, ia mejadi tak tega, hingga akhirnya ia pun menuruti pasien tersebut.


***


Kini Maura tengah mengantarkan Bintang sampai di ruangannya. Sementara Bimo mengikuti dari belakang.


"Baiklah, Tuan. Sekarang Anda bisa beristirahat."


"Tunggu dok, Saya memiliki satu permintaan lagi. Bisakah Anda mengabulkannya?" ucap Bintang di saat dokter Maura hendak meninggalkannya. Bintang seolah tak ingin dokter Maura pergi.


Maura kembali mengerutkan keningnya. Pasien di depannya terlalu banyak permintaan menurutnya. Tapi ia berusaha mendengarkan.


"Ya, apa permintaan Anda, Tuan?"


"Bisakah Anda membuka masker Anda, agar suatu saat bila Saya bertemu dengan Anda, Saya dapat mengenali Anda untuk mengucapkan terimakasih."


Maura menghela nafasnya, lalu perlahan ia mulai melepaskan masker di wajahnya. Kini wajahnya terpampang jelas oleh Bintang.


"Sudah, Tuan. Sekarang Anda sudah melihat wajah Saya. Jadi biarkan Saya pergi sekarang. Anda juga harus beristirahat agar segera pulih, Tuan."


Bintang begitu terkejut dengan yang Ia lihat saat ini. Air matanya luruh, ia tak mendengar lagi apapun yang dokter Maura ucapkan. Bintang langsung saja berdiri dan langsung memeluk tubuh doktor Maura dengan erat.


"Via, sayang. Aku sangat merindukanmu...," ucapnya tercekat. Tanpa aba-aba, Bintang langsung mencium bibir merah itu. Menumpahkan berjuta-juta kerinduan di hatinya.


***


Bonus visual untuk Via 👇😍😍

__ADS_1



__ADS_2