Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 67


__ADS_3

Namun kini suaminya tengah berbaring lemah tak berdaya di dalam sana. Dan itu karena dirinya. Seandainya saja ia dan Bintang tidak saling salah paham, seandainya mereka mau duduk berdua dan membicarakan semua masalah dengan pikiran dingin, mungkin mereka akan menjadi keluarga yang bahagia saat ini.


Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Bintang keluar dari ruang ICU. Melihatnya, Via langsung menghampiri dokter untuk mengetahui bagaimana kondisi suaminya.


"Bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Via cemas. Air matanya tak hentinya keluar dari kelopak matanya.


Dokter terkejut mendengarnya. Dokter itu tahu, Via adalah pemilik beberapa rumah sakit di negara tersebut, dan pria yang baru saja ia tangani bukanlah tunangan Via.


"Maafkan Saya Nona, tapi saat ini kondisi pasien sangat kritis. Semoga saja ada sebuah keajaiban sehingga pasien bisa melewati komanya.


Jantung Via seolah berhenti saat ini juga. Dunianya seolah gelap dalam pandangannya. Ia mematung mendengarnya.

__ADS_1


"Dok, izinkan Saya menemui suami Saya. Saya harus menemuinya Dok." Via terisak. Hatinya begitu pedih. Ia merasa sangat bersalah saat ini.


Dokter mengangguk, ia tidak tega melihat Via seperti itu.


"Baiklah dokter Maura, Kau boleh masuk ke dalam."


Via segera berjalan menuju ruang ICU. Pelan, Via membuka pintu itu. Via mulai melangkah ke dalam, ia membawa langkah kakinya yang terasa lemah itu mendekat. Bola matanya menatap pilu seseorang yang terbaring di ranjang.


Via mengulurkan tangannya dan menggenggam hangat tangan Bintang.


" Sayang... Ini Aku, istrimu... maafkan Aku karena sudah membuat mu seperti ini. Kau tahu? Aku sangat mencintaimu, perasaan cintaku tak pernah bisa ku hilangkan dari hatiku, dan tetap tertulis indah dalam hatiku." Via menahan liquid bening yang selalu saja ingin menetes.

__ADS_1


"Sayang, apa Kau pernah berpikir kisah kita seperti Romeo dan Juliet? Kita sama bodohnya dengan mereka. Cinta yang begitu bodoh... Dan kita sama bodohnya dengan mereka. Aku akan tiada jika Kau tiada, dan Aku akan menghilang jika cintaku menghilang. Biarlah orang-orang menganggap ku gila dan bodoh, karena yang ku mau hanya kamu Bi. Kumohon... Bangunlah, mari saling memaki karena kebodohan kita selama ini." Sebisa mungkin Via menahan isak tangisnya.


"Sayang... kumohon bangunlah, tatap mataku, bicaralah pada ku. Ceritakan tentang betapa sakitnya perpisahan kita selama ini. Aku menunggumu mengungkapkan kata cinta untuk ku. Sayang... kumohon...," Via menangis dan tak sanggup lagi untuk berbicara. Suaranya begitu tercekat melihat keadaan Bintang saat ini.


Pelan, jari Bintang bergerak. Via dapat merasakannya.


"S-sayang, Kau mendengar ucapan ku? Ayo sayang, bangunlah...," Via sangat berharap Bintang segera bangun. Namun mata itu masih setia dalam tidurnya. Bintang masih tak mau membuka bola matanya.


Via segera menekan tombol yang ada di dinding untuk memanggil dokter. Tak berapa lama kemudian, dokter segera datang dan kembali memeriksa kondisi Bintang.


Via terus memanjatkan doa dalam hatinya. Ia ingin suaminya segera bangun, ia tidak akan pernah sanggup bila terjadi sesuatu pada suaminya. Via begitu menyesali semuanya. "Tuhan, tolong selamatkan suamiku, Aku sangat mencintainya, kami belum sempat mengungkapkan perasaan cinta satu sama lain. Biarkan kami bersama... Tuhan...." Via terus saja berdoa.

__ADS_1


***


__ADS_2