
Delapan bulan berlalu...
Setelah kehamilan Via terungkap, Bintang tak lagi mengalami yang namanya ngidam. Via lah yang sekarang mengalaminya. Setiap pagi Via akan memuntahkan isi perutnya.
Dan itu membuat Bintang begitu sedih. Kenapa bukan dirinya saja yang terus mengalaminya. Bintang tidak tega melihat Via mengalami muntah. Karena Ia tahu bagaimana rasanya.
"Sayang, apa sudah merasa enakkan? Kau ingin apa? Biar Aku membelikannya untuk mu, Sayang," tanya Bintang seraya memijat lembut tengkuk istrinya. Ia begitu khawatir kepada istrinya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku pernah mengalami ini saat mengandung Er dulu. Aku hanya harus istirahat sebentar, Sayang. Nanti akan hilang sendiri rasa mualnya." Jawab Via mengusap lembut pipi suaminya.
"Tapi kenapa sampai kehamilan mu menginjak sembilan bulan Kau masih mengalami yang namanya morning sickness?" tanya Bintang merasa begitu khawatir. Via tersenyum lembut. Saat ini ia mulai merasa baikan.
Bintang segera menggendongnya dan membaringkannya pelan di atas kasurnya. Tangannya mengulur dan mengusap pelan perut Via. "Sayang, jangan nakal ya nak? Jangan membuat Mommy mu merasakan sakit," Bintang berkata begitu lembut.
Mendengarnya membuat Via terkikik geli. "Sayang, wanita hamil pasti akan mengalaminya. Kau jangan khawatir," ucap Via berusaha membuat Bintang tenang.
Bintang hanya tersenyum. Sebenarnya ia begitu tak tenang saat ini. Kehamilan istrinya sudah menginjak bulan ke sembilan. Ia ingin setiap saat ada di samping istrinya ketika istrinya mulai merasakan tanda-tanda akan lahir sang Baby. Bintang sudah mengosongkan jadwalnya untuk satu bulan ke depan. Ia sudah menyuruh Bimo untuk menghandle seluruh pekerjaannya. Ia ingin menjadi seorang suami siaga menjelang persalinan Via.
"Sayang, bagaimana kabar Moza dan Rey? Apa mereka masih belum selesai untuk berbulan madu? Kenapa mereka lama sekali bulan madunya?" tanya Via.
Bintang menatap wajah Via lembut. "Mungkin mereka juga menginginkan kehadiran Baby, Sayang. Kenapa tiba-tiba Kau menanyakan mereka?"
"Tidak apa-apa, Aku hanya selalu berharap mereka akan selalu bahagia."
"Mereka pasti bahagia," ucap Bintang mengecup hangat kening Via. Saat ini ia menyusul Via menaiki kasurnya dan memeluknya hangat.
***
Sementara di sisi lain...
Moza dan Rey begitu menikmati hari-harinya. Liburan selama enam bulan, itu adalah hadiah pernikahannya dari kedua orang tua mereka. Sungguh menyenangkan bukan?
Setelah prosesi lamaran waktu itu, selang satu bulan mereka menikah dengan pesta yang begitu besar. Keduanya merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
__ADS_1
Dan saat ini, Rey dan Moza telah menikmati sunset di sebuah pantai yang begitu indah. Mereka tengah berada di Korea saat ini. Menyaksikan sunset adalah impian mereka sejak kecil. Saling mengungkapkan rasa cintanya tepat ketika matahari mulai terbenam sempurna.
"Apa Kau bahagia, Sayang?" tanya Rey memeluk tubuh Moza hangat.
Moza mengangguk, lalu ia melingkarkan tangannya di leher suaminya dan mengecup bibir suaminya sekilas. "Aku bahagia. Sangatlah bahagia, Rey. Rasanya Aku adalah wanita paling bahagia saat ini. Terimakasih atas segala cinta yang Kau berikan padaku. Aku sangat mencintaimu," ucap Moza lembut. Matanya berkaca-kaca, ia tidak menyangka jika impiannya untuk menikah dengan Rey dan menyaksikan sunset bersama, akan terwujud dengan sangat indah.
Rey tersenyum menatap wajah Moza. "Aku yang berterima kasih karena Kau sudah sangat sabar padaku. Hingga akhirnya cintamu menyadarkan ku bahwa Kau adalah cinta sesungguhnya dalam hatiku. Aku mencintaimu, Sayang. Dan Aku tidak akan melepaskan mu malam ini," bisik Rey dengan senyum nakalnya. Membuat sang istri menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Pelan, Rey mulai mendekatkan wajahnya dan meraup bibir istrinya. Dengan segala cinta dan kasih mereka berciuman dengan sangat indah. Mereka bahagia saat ini.
"Kau ingin ke negara mana lagi, Sayang?" tanya Rey setelah melepaskan pagutan bibirnya.
"Mau kemana lagi Rey? Semua negara sudah kita lewati. Ini negara terakhir, Aku tidak ingin kemana-mana lagi. Sudah cukup kita bersenang-senang selama enam bulan ini. Apa Kau tidak merindukan pekerjaan mu?"
"Kedua Papa kita sudah menghandle pekerjaan. Jadi Aku tidak terlalu merindukannya. Saat ini Aku ingin fokus pada bulan madu Kita, Apa di sini sudah hadir seorang malaikat kecil?" tanya Rey mengusap perut datar Moza.
Moza menunduk, "Aku tidak tahu, Rey. Maaf Aku belum bisa memberikan apa yang Kau inginkan," ucap Moza sendu.
"Hei, maafkan Aku Sayang. Aku tidak bermaksud mengharuskan mu untuk segera memiliki Baby. Aku hanya tidak sabar menunggu dia hadir dalam hidup kita," ucap Rey, tangannya meraih wajah Moza dan menghadapkan padanya.
"Maafkan Aku, Rey." ucap Moza dengan lirih.
"Jangan minta maaf, Aku yang salah karena terlalu banyak permintaan. Aku akan bersabar untuk menunggunya, Sayang." Moza mengangguk.
"Malam ini Kau milik ku, Sayang," bisik Rey, dengan sigap Ia menggendong tubuh Moza dan membawanya ke hotel yang berada tak jauh dari pantai.
***
Semakin hari Bintang semakin tak sabar menanti kelahiran Baby yang ada di perut istrinya. Dia terus saja bertanya apakah sang istri sudah merasakan tanda-tanda kelahiran sang Baby.
Wajar jika Bintang seperti itu. Ia telah melewatkan saat istrinya mengandung putra pertamanya.
Malam harinya...
__ADS_1
Bintang mengecup kening Via lembut. Lalu ia mendekatkan kepalanya ke arah perut istrinya.
"Hey, nak. Daddy sudah tidak sabar menanti mu segera hadir ke dunia ini. Jangan merepotkan Mommy ya nak," ucap Bintang pelan. Lalu ia mengusap lembut perut istrinya dan menyusul Via menuju ke alam mimpi.
Baru Lima menit Bintang memejamkan matanya. Via terbangun dari tidurnya.
"Ssss..., Sakit sekali," desis Via. Seketika Bintang langsung terbangun.
"Sayang, Kau kenapa? Apa Baby sudah akan lahir?" tanya Bintang.
Via menganggukkan kepalanya seraya menahan sakit.
Bintang terdiam sejenak, ia mencoba untuk tenang. Kemudian ia mengambil ponselnya dan menghubungi rumah sakit yang sudah ia pesan dari beberapa hari yang lalu. Lalu ia menghubungi sang supir untuk segera menyiapkan mobil.
Bintang menggendong tubuh Via menuju mobil. Dan memasukkan barang-barang keperluan saat melahirkan.
"Kau harus cepat Ben, nyawamu di pertaruhkan dalam perjalanan ke rumah sakit!" ucap Bintang dengan nada ancaman.
Supir menelan ludahnya dengan susah mendengar ucapan bosnya. Ia harus cepat.
"Baiklah, Tuan," ucap supir patuh.
Beni segera mengemudikan mobilnya dengan cepat, namun ia juga harus memperhatikan keamanan dalam berkendara.
Sementara Via sedari tadi hanya terdiam. Dia akan mencengkeram kuat lengan Bintang ketika rasa sakit menderanya.
Bintang begitu ngilu melihat kesakitan yang Via rasakan saat ini. Andai ia dapat menggantikan rasa sakit yang Via rasakan saat ini, pasti akan ia gantikan.
Sebisa mungkin Bintang harus bersikap tenang. Tangannya mengusap lembut perut istrinya untuk mengurangi rasa sakit yang Via rasakan saat ini. Bibirnya terus mengecupi kening Via, berbisik pelan untuk membuat Via nyaman.
"Bersabarlah, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai. Kau adalah wanita yang kuat. Semangat," bisik Bintang menyemangati sang istri.
***
__ADS_1