Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 39


__ADS_3

Siang itu, adalah siang paling menyedihkan bagi Via. Air matanya tak hentinya luruh membasahi pipinya. Melihat wanita yang menjadi sandarannya selama ini telah di kebumikan.


Hatinya hancur, namun ada setitik kebahagiaan yang ada di hatinya. Beberapa waktu lalu, dokter memberikan sebuah kabar bahwa di dalam perutnya ada calon bayi.


Via merasa bahagia. Di saat Tuhan mengambil ibunya, tapi Tuhan juga mengirimkannya calon malaikat kecil di perutnya.


Namun mendengar kabar bahwa dirinya tengah mengandung, membuat Via juga merasakan sebuah ketakutan yang mendalam. Via takut Bintang akan mengambil anaknya nanti, bila Ia tak ingin di jadikan istri kedua.


Suaminya pernah mengatakan bahwa Via akan di jadikan istri kedua oleh Bintang. Bintang akan menikahi Alesha. Dan itu menjadi keraguan Via untuk mengatakannya kepada Bintang.


Via tidak tahu bagaimana perasaan Bintang kepadanya. Ia bimbang dengan perasaan Bintang padanya. Bintang tak pernah mengatakan bahwa Bintang mencintainya. Dan menghadirkan beribu rasa ragu dalam hatinya.


Via mulai melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman menuju ke rumahnya dan ibunya sebelumnya. Ada Rony juga di sana yang mengantarkan Via untuk pulang.


Rony merasa kasihan dengan Via, Ia sudah mengetahui bahwa Via tengah hamil dan sudah menikah dengan Bintang.


Kini Via duduk melamun di teras rumahnya. Beberapa kali Via menghubungi suaminya, namun nomor Bintang tidak aktif. Jadi ia belum mengabari Bintang tentang kepergian ibunya.


Via memikirkan bagaimana nasib pernikahannya dengan Bintang. Kini alasannya mau menerima pernikahan kontrak ini sudah pergi meninggalkannya. Lalu apakah nanti Via akan benar-benar mampu merebut hati suaminya? Via merasa begitu kacau saat ini.


Di tinggal pergi ibunya untuk selamanya, berita tentang kehamilannya, dan juga nasib pernikahannya. Membuat Via terus melamun di teras rumahnya.


"Nak, makan dulu ya? Dari kemarin kamu belum memakan apapun. Makan dulu ya nak?" bujuk Bu Lastri. Ia membawa makanan untuk Via.


Via menggelengkan kepalanya. Rasanya ia tak berselera lagi untuk makan.


"Biar Aku yang membujuknya saja bik," tukas Rony. Bu Lastri segera menyerahkan satu piring berisi makanan kepada Rony. Bu Lastri berharap Rony dapat membujuk Via untuk makan.


"Vi, makan ya. Apa Kau tidak kasihan dengan calon anak dalam perutmu itu? Kau tidak boleh egois,Vi." Rony terus saja membujuk Via.


Via teringat bahwa kini di dalam perutnya tumbuh janin yang akan menjadi calon anaknya nanti. Iapun menatap Rony dan mengangguk. Akhirnya Via mau makan, ia tidak ingin menjadi seorang ibu yang tega menyiksa calon anaknya.


Rony merasa begitu senang. Ia pun menyuapkan makanan itu ke mulut Via.

__ADS_1


"Enak kan? Kau harus makan yang banyak, Vi. Aku tidak ingin calon keponakan ku nanti tidak sehat. Kau harus makan yang banyak."


Via mulai mengunyah makanannya dan menelannya. Lalu Via meminta piringnya dari Rony. Via ingin makan sendiri, entah mengapa, rasa lapar tiba-tiba menghampirinya.


Rony tersenyum, ia merasa lega akhirnya Via mau makan.


Setelah menghabiskan makanannya, Via hendak beranjak masuk ke dalam rumah. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah Bintang. Via mau mengambil beberapa barangnya ke dalam.


Tapi tiba-tiba saja Via merasa begitu pusing, hingga tubuhnya pun hampir terjatuh. Namun untungnya Rony dengan sigap menangkap tubuh Via yang hampir jatuh.


"Hati-hati, Vi. Apa Kau tidak apa-apa?"


Via segera berdiri kembali. " Aku tidak apa-apa,bang. Terimakasih sudah menolong ku," ucap Via.


"Aku ingin kembali ke rumah suamiku bang. Apakah Abang bisa mengantarku ke sana?" tanya Via.


Rony tersenyum, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Tentu saja."


Via mulai mengambil foto ibunya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Lalu ia berpamitan kepada pak Bakri dan Bu Lastri untuk kembali ke rumah suaminya. Sudah 3 hari Via belum kembali.


***


Kini Via sampai di rumahnya. Ia sudah melihat mobil Bintang yang sudah terparkir di depan. Via yakin Bintang sudah pulang.


"Mampir dulu ya bang, sepertinya suamiku juga sudah pulang," ucap Via.


"Lain kali saja Vi, Abang harus kembali ke restoran." tolak Rony.


"Kalau begitu Aku masuk dulu ya bang. Terimakasih sudah mengantarku," ucap Via.


Rony menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Lalu ia masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana.


Via mulai memasuki rumah. Namun langkahnya terhenti saat melihat Bintang yang sudah berdiri di depan pintu menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Via merasa begitu senang melihat pria di depannya. Hingga iapun menghambur memeluk suaminya.


"Aku mer...."


"Lepaskan Aku!" Bintang melepaskan pelukan Via. Pria itu nampak begitu marah.


"K-kau kenapa, Bi?" Via heran melihat Bintang yang kembali berubah.


"Darimana Kau dengan pria itu?! Dan kemana Kau selama 3 hari ini?!" Bintang nampak begitu marah. Tadi saat sampai di rumah, Bintang langsung mencari Via. Namun ia kecewa karena tidak mendapati istrinya di rumah. Hingga iapun bertanya kepada para pelayan. Dan mereka mengatakan bahwa Via belum pulang selama 3 hari. Di saat Bintang berniat mencari Via, ia melihat Via yang turun dari mobil Rony. Seketika itu amarah menguasai hati Bintang.


"A-aku...."


"Sudahlah, Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan mu itu!" Bintang langsung meninggalkan Via di sana.


Bintang merasa sangat cemburu. Melihat Via pulang bersama pria lain, membuat hatinya memanas. Apalagi pria itu pernah menyatakan perasaannya kepada istrinya.


Bintang segera meninggalkan Via di sana karena tidak ingin menyakitinya. Ia takut kemarahan akan membuatnya kembali menyakiti fisik Via.


Sementara Via masih mematung. Suaminya kembali marah padanya. Tapi bukankah seharusnya ia mendengar penjelasannya lebih dahulu? Via hanya bisa menangis. Ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.


Via merebahkan tubuhnya. Mengeluarkan foto ibunya dan menangis memeluknya.


Malam harinya.


Bintang memasuki ruang kerjanya. Hatinya masih gelisah memikirkan istrinya. Ia sangat merindukan Via, namun hatinya masih sangat marah. Hingga malam ini pun Bintang menghabiskan waktunya di ruang kerjanya.


Sementara Via beberapa kali mengetuk pintu ruang kerja Bintang. Namun Bintang tak meresponnya. Itu membuat Via akhirnya makan malam sendirian. Ternyata suaminya masih marah padanya.


Keesokan harinya.


Via merasa perutnya begitu mual. Ia segera berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Rasanya begitu asam dan pahit. Membuat tubuh Via begitu lemas seketika.


Namun Via berniat untuk membuat sarapan untuk Bintang. Mungkin dengan membuatkan sarapan untuk Bintang, suaminya tidak akan marah lagi padanya. Via ingin menjelaskan semuanya setelah emosi Bintang reda.

__ADS_1


Rasa mual itu akhirnya mulai menghilang perlahan. Via mulai bangkit dan langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan untuk Bintang. Via berharap, pagi ini emosi Bintang akan mereda.


***


__ADS_2