
Setelah acara pernikahan usai, Bintang membawa istrinya berlibur ke suatu tempat yang telah lama ia persiapkan untuk istrinya. Namun kali ini mereka hanya pergi berdua saja. Mama dan Papa mengajak Er untuk menginap di tempat Eve dan Ax.
Bintang menyetir mobilnya sendiri. Di luar nampak begitu gelap, sepertinya hujan akan mengguyur bumi.
"Sayang, kita mau kemana?" tanya Via.
"Ke suatu tempat."
"Kemana Sayang, ayolah katakan saja."
"Nanti Kau juga akan tahu Sayang."
"Okey, Kau sekarang menjadi suami misterius."
Bintang hanya tersenyum menatap sekilas istrinya. Bintang dengan kecepatan sedang, melewati keramaian lalu lintas kota. Lalu Bintang mempercepat lajunya ketika sudah memasuki jalan tol yang sedikit sepi.
Via hanya diam dan menerka-nerka kemana suaminya akan membawanya. Sudah hampir dua jam mobil Bintang meninggalkan lalu lintas kota, namun Bintang masih melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Mobil itu melewati sebuah pantai yang nampak begitu indah. Pasir yang putih dan laut biru. Mobil itu lalu melewati jalan setapak. Sepuluh menit kemudian, Bintang membelokkan mobilnya dan berhenti di sebuah gerbang.
"Kita sampai," ucap Bintang dengan menoleh ke arah istrinya. Via menatapnya sebentar lalu menoleh ke depan.
"Ayo," ajak Bintang, lalu mereka keluar. Bintang menggandeng tangan istrinya memasuki gerbang tersebut. Gerbang itu terbuka sendiri menggunakan sensor wajah Bintang.
Via sangat takjub ketika gerbang itu terbuka. Bintang menggandeng tangan istrinya dan mengajaknya berjalan menapaki sebuah jalan kecil yang sedikit panjang.
Via melepaskan tangannya dan menutup mulutnya ketika melihat bangunan mewah yang nampak seperti istana kerajaan di depannya. Sungguh mirip seperti di negeri dongeng.
"Ini milikmu Sayang," bisik Bintang tepat di belakangnya. Via memutar pandangannya menatap suaminya tak percaya. Bintang menganggukkan kepalanya, meyakinkan Via bahwa apa yang Ia lihat di depannya benar-benar miliknya.
Istana ini berlantaikan Lima, dengan bagian bawah bangunan itu yang terbuat dari kaca yang kokoh. Membuat istana itu nampak terbang di atas awan.
"Ini bangunan yang sangat indah dan begitu keren Sayang." ucap Via begitu takjub.
"Ini hanya sebuah bangunan Sayang, dan cinta ku tak dapat di ukur hanya dengan sebuah bangunan megah." Bintang memeluknya dari belakang ketika mereka telah sampai di lantai paling atas. Mereka menyaksikan pantai dari atas sana.
__ADS_1
"Kau membuatku seperti seorang putri. Sayang... terimakasih." ucap Via penuh haru. Bintang mendekapnya dengan begitu hangat. "Kapan Kau membuat bangunan ini?" tanya Via.
"Sejak pertama kali hatiku bergetar ketika berada di dekatmu."
"Kapan?"
Bintang hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu ia mengecup kening istrinya berkali-kali.
"Apa saat itu Kau sudah jatuh cinta padaku?" tanya Via dalam pelukan suaminya.
"Aku tidak tahu, Aku hanya ingin membangun ini untuk mu Sayang." Bintang membelai rambut Via lembut.
Via mengeratkan pelukannya dan tersenyum bahagia. Ia yakin waktu itu Bintang pasti sudah mulai jatuh cinta kepadanya, namun suaminya belum menyadarinya.
Malam harinya...
Keduanya saling berkejaran di pinggir pantai bak seorang anak muda yang sedang jatuh cinta. Bintang kemudian menggendong Via di punggungnya. Mereka saling bercerita bagaimana awal mereka mulai saling cemburu dan saling jatuh cinta.
__ADS_1
"Kau menyakiti dirimu sendiri dengan pemikiran mu, Sayang." Via menyandarkan dagunya di pundak suaminya. "Kau juga menyakiti hatimu dengan pemikiran mu sendiri Tuan suami. Seharusnya Kau bertanya dan menegurku sehingga Aku tahu letak kesalahpahaman di antara kita. Jika Kau diam, maka Aku tidak akan pernah tahu bagaimana isi hatimu, karena Aku bukan seorang peramal, Aku tidak dapat membaca Apa yang tertulis di hatimu." Via memeluk suaminya.
***