
Dokter Maura begitu terkejut. Untuk beberapa detik Ia terpaku dengan tindakan pasiennya. Ia memberontak mendorong tubuh kekar Bintang dan menamparnya. Pria di depannya sungguh tidak tahu malu.
Plak... "Dasar kurang ajar!" Pekiknya. Dokter Maura terlihat begitu marah. Sementara Bintang, ia hanya mengusap pipinya, pandangannya masih tertuju pada dokter Maura. Tamparan itu tak berarti apa-apa bagi Bintang. Ia justru menyunggingkan senyumnya menatap dokter Maura.
Bintang kembali berjalan mendekat. Membuat dokter Maura sedikit ketakutan.
"Via, Aku tahu Kau tidak akan meninggalkan ku. Aku sangat merindukanmu," ucap Bintang yang hendak memeluk dokter Maura kembali.
"Berhenti di situ! Jangan pernah mendekat! Kenapa Kau terus memanggil ku Via? Aku bukan Via, Aku Maura... dokter Maura!" ucap dokter Maura dengan lantang.
Langkah Bintang untuk kembali memeluk perempuan di depannya pun terhenti. Tatapannya begitu sendu menatap dokter Maura.
"Apa Kau masih belum memaafkan ku Vi, Hingga Kau tidak ingin mengenalku lagi?" Rasa bersalah kembali muncul di hati Bintang. Air matanya hampir menetes mengingat kesalahannya dulu.
"Aku bukan Via, Aku Maura. Jadi tolong, jangan memanggilku dengan nama itu lagi, karena Aku bukan seseorang yang Kau maksud!"
Bintang menggelengkan kepalanya, ia sangat meyakini bahwa dokter Maura adalah istrinya, Via.
"Via, apa begitu membenciku? Apa Kau sungguh tidak merindukan ku?"
Dokter Maura sungguh tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada pria di depannya itu, bahwa dirinya bukanlah seseorang yang bernama Via.
"Saya tidak pernah tahu bagaimana hubungan Anda dengan gadis bernama Via, Tuan. Tapi sungguh, Saya bukanlah seseorang yang Anda maksud. Saya permisi!" Dokter Maura dengan cepat langsung pergi dari sana. Ia tidak ingin pria itu kembali melakukan hal yang lebih nekat lagi karena telah salah mengenali.
Dokter Maura berjalan dengan langkah cepat. Ia langsung bergegas menuju mobilnya.
Di dalam mobil, dokter Maura terdiam sejenak memikirkan pria yang baru saja mencium bibirnya. Jarinya kembali mengusap bibirnya. Pikirannya melayang entah kemana. Rasanya Maura merasa tidak asing dengan Bintang. Ciuman barusan membuat jantungnya berdetak kencang. Rasa hangat bibir Bintang terus terngiang-ngiang di otaknya.
Ada sebuah perasaan yang sulit untuk Maura pahami saat ini. Tapi ia kembali teringat akan dirinya yang sudah memiliki seorang kekasih. Via telah bertunangan dengan seseorang. Walaupun begitu, ia tidak pernah sekalipun berciuman dengan tunangannya. Maura segera menepis perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul di hatinya. Ia segera mengemudikan mobilnya pulang.
Sementara itu, Bintang langsung memanggil Bimo.
"Bimo, cepat cari tahu semua informasi tentang dokter Maura. Aku ingin secepatnya informasi itu Kau berikan padaku!" titahnya.
Bimo mengerutkan keningnya heran. Tadi ia baru menyelesaikan administrasi rumah sakit. Dan saat kembali, Tuannya sudah berteriak memanggilnya, memintanya untuk mencari informasi tentang dokter Maura. Sebenarnya, siapa dokter Maura ini? Bimo masih belum mengerti. Ia hanya bisa mematuhi perintah Bintang.
***
__ADS_1
Keesokan harinya...
Bintang merajuk tidak mau makan bila bukan dokter Maura yang menyuapinya. Kini ia seperti anak kecil yang masih menyusu pada ibunya.
"Tuan, Anda harus menghabiskan makanan Anda. Atau kalau tidak, Anda tidak akan segera sembuh," bujuk Bimo.
Namun Bintang tidak menanggapi ucapan Bimo. Ia masih bersikeras untuk bertemu kembali dengan dokter Maura. Bintang sangat yakin bahwa dokter Maura adalah Via.
"Apa Kau sudah mendapatkan informasi tentang dokter Maura?" tanya Bintang.
Bimo menatap ke arah bosnya. Ia menghela nafas beratnya. "Ya Tuan, Saya sudah mendapatkan informasi tentang dokter Maura.
Bintang sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkannya. Ia memasang telinga tajamnya untuk mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Bimo.
"Tapi informasi ini masih kurang lengkap Tuan."
"Katakan!"
"Dokter Maura adalah pemilik perusahaan CN Tower. Dia juga memiliki beberapa rumah sakit besar di beberapa negara, termasuk rumah sakit ini, Tuan. Beliau juga memiliki seorang tunangan dan juga seorang putra." ucap Bimo.
"Tunangan? Dia mau menikah?" Bintang nampak begitu terkejut.
"Jelas saja ada masalah, dia adalah istri ku!," Tegas Bintang. Membuat Bimo membelalakkan matanya.
"T-tuan... Kapan Anda menikahi dokter Maura?" tanyanya pelan. Bimo berpikir mungkin otak Bintang sudah konslet karena terlalu merindukan almarhum istrinya.
"Dasar bo.doh... dokter Maura adalah Via. Aku bisa merasakan hal itu. Hatiku tak mungkin bohong Bim." Bintang berkata dengan begitu yakinnya.
Sementara Bimo hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengiyakan saja ucapan Bintang. Dari pada Tuannya menjadi gila.
"Apakah hanya itu, informasi yang Kau dapat? Bagaimana kehidupan dia (dokter Maura) sebelumnya?" tanya Bintang kembali. Ia masih belum puas dengan informasi yang Bimo berikan. Walaupun Bintang terkejut bagaimana Via bisa menjadi dokter Maura dengan segala kehidupannya yang sekarang.
"Maaf, Tuan. Tapi hanya itu informasi yang Saya dapatkan. Saya tidak bisa mendapatkan informasi masa kecil, ataupun kehidupan dokter Maura sebelumnya."
Bintang mengelus dagunya seraya menganggukkan kepalanya. "Bukankah tadi Kau mengatakan bahwa dia memiliki seorang putra? Aku yakin Dia adalah putraku. Mana mungkin dia baru bertunangan dan sudah memiliki seorang putra?" Bintang terus bermonolog.
"Bim, cepat atur jadwalku untuk menetap di sini untuk beberapa Minggu lagi. Aku harus kembali membawa istriku pulang nanti. Oh iya, juga atur semuanya agar Aku bisa bertemu dengan dokter Maura."
__ADS_1
"A-apa, Tuan?" Bintang menatap Bimo tajam. Hingga Bimo akhirnya mengiyakannya.
Bintang tersenyum penuh arti. Hatinya begitu bahagia. Via nya masih hidup. Kini ia akan memulai semuanya dari awal, yaitu memperjuangkan cintanya.
***
Maura kini harus kembali ke rumah sakit. Kali ini ia mengajak putranya karena terus merengek untuk bertemu dengan Mayra.
Maura berpikir mungkin pasien yang sudah bersikap kurang ajar dengannya sudah keluar dari rumah sakit. Namun ia belum menanyakan hal itu kepada pihak rumah sakit.
Kini mereka berangkat menuju ke rumah sakit. Er nampak begitu senang karena akan bertemu dengan temannya di rumah sakit.
Setibanya di sana, Maura kembali melakukan pekerjaannya, yaitu memeriksa pasien-pasiennya. Ia bernafas lega karena pasien kritisnya semalam juga sudah mulai membaik. Mungkin anak kecil itu akan tersadar.
"Bagaimana dengan pasien yang ada di ruangan B semalam sus, apakah dia sudah pulang?" tanya Maura. Ia tidak ingin bertemu lagi dengan pasien yang tidak tahu sopan santun seperti pria tadi malam.
"Maksud dokter, Tuan Bintang?"
"Namanya Bintang? Kenapa dengan nama itu? Kenapa hatiku berdesir hanya dengan mendengar nama itu?" Maura bertanya dalam hatinya.
" I-iya."
"Pasien itu membuat ulah tadi pagi dok. Beliau tidak mau makan bila bukan dokter sendiri yang datang dan menyuapinya. Bahkan beliau membayar rumah sakit agar bisa di rawat lama," ucap suster.
"A-apa? Bagaimana itu bisa? Seharusnya dia sudah keluar dari rumah sakit." Maura nampak begitu kesal.
"Memang seharusnya seperti itu Dok, tapi kami para suster tidak keberatan bila harus melihatnya di rumah sakit dan merawatnya setiap hari. Tuan Bintang sangat tampan, Dan dia juga pemilik perusahaan terbesar kedua di seluruh Asia," ucap suster tersenyum membayangkan wajah Bintang saat ini.
Sementara Maura menatap jengah suster itu. "Bagaimana Kau bisa mengetahuinya sus?"
"Nona tidak mengenalnya?" Suster itu nampak sedang mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rentetan informasi tentang Bintang. "Anda harus melihatnya dok."
"Tidak perlu, Aku harus segera kembali ke ruangan ku," ucap Maura acuh dan segera pergi dari hadapan suster itu.
"Dokter Maura kenapa?" Suster menggaruk kepalanya heran dengan sikap dokter Maura.
***
__ADS_1
Maaf ya genks 😁 hanya dapat bab ini. Othor ketiduran, jadi lupa ngetiknya 😭. othor usahakan lg 1 bab lg. Tapi tidak janji lho ya 🤭✌️. Jangan lupa like komen vote Dan hadiahnya juga. biar othornya jadi bikin 1 bab lagi 😂😘😘😘😘😘
happy reading....