
Sudah hampir menjelang sore hari, namun Bintang masih enggan untuk kembali ke hotel maupun ke tempat lain. Ia masih menikmati pemandangan yang begitu memanjakan penglihatannya.
Saat senja menjelang malam memanglah saat terbaik menatap pemandangan di Singapore River Cruise. Waktu yang tepat untuk menyusuri sungai Singapura adalah dimalam hari. Kemegahan Negara ini akan semakin terlihat jelas di waktu malam, Bintang menatap gemerlap cahaya lampu kota Singapura yang terpancar dari gedung-gedung pencakar langit. Di kanan-kiri, ia dapat menyaksikan bangunan-bangunan tua yang disulap menjadi cafe atau restoran yang menyediakan beragam masakan dari Singapura, China atau bahkan Arab.
Sungguh pemandangan yang begitu memanjakan mata. Bintang semakin Terpesona dengan 15 menit pertunjukan yang banyak di nantikan oleh wisatawan lainnya, karya memukau dengan proyeksi efek laser, air mancur yang menari dan iringan musik yang spektakuler.
Menyaksikan hal tersebut membuat
Bintang merasa lapar. Ia memutuskan untuk singgah di salah satu restoran yang ada di sana.
***
Kini ia telah berada di salah satu restoran terkenal di sana. Menatap makanan di depannya, membuat Bintang sangat lapar.
Ia mengunyah pelan makanan yang masuk kedalam mulutnya. Ia ingin menikmati liburannya kali ini.
Bintang terus saja berandai-andai jika saja Via ada di sana bersamanya, pasti keindahan malam ini akan menjadi keindahan sempurna baginya.
***
Disisi lain, saat ini Er tengah merajuk.
"Sayang, tolong jangan marah sama mommy. Uncle Rey belum bisa pulang saat ini. Tapi katanya dia janji, setelah pulang dari Ausi dia akan mengajak kita jalan-jalan." bujuk Maura ketika Er sedang merajuk.
Tunangan Maura berjanji akan pulang hari ini dan mengajak mereka ke Singapore Flyer. Namun pekerjaannya tidak dapat di tinggalkan. Ada beberapa masalah di sana sehingga mengharuskannya untuk menetap beberapa Minggu lagi di Ausi.
Er sangat kecewa, bocah itu sudah menantikan untuk menaiki bianglala tertinggi di kota tersebut.
Er masih terdiam. Bibirnya mengerucut membuat Maura begitu gemas dengan putranya.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau Er dan mommy ke sana lebih dulu?." ucap Maura pada akhirnya.
Seketika senyum itu merekah dari bibir mungil Er. Bocah itu nampak begitu berbinar mendengar ucapan mommy nya.
__ADS_1
Er langsung berlarian kesana-kemari karena saking senangnya.
"Kau mau pergi nak?" tanya sang nenek. Nenek Mia sedari tadi mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu.
"Iya nek, lihatlah cicit mu ini sudah merajuk dari siang," adu Maura.
Nenek Mia pun tersenyum. "Baiklah, kalian bersenang-senanglah." ucap nenek Mia. Rasanya nenek Mia begitu bahagia melihat pemandangan di depannya.
***
"Mommy, Er lapar," rengekan Er membuat Maura menatap putranya. Wajah mungil itu nampak begitu memelas menatap Maura, hingga kekehan kecil Maura pun terdengar.
"Itu akibatnya karena Er tidak menuruti perintah mommy. Bukankah tadi mommy menyuruh Er untuk menghabiskan makanan Er."
"Iya-iya mom, im sorry," ucap Er menyesal. Bocah itu menundukkan kepalanya.
Setelah turun dari bianglala itu, Maura mengajak Er untuk makan malam di restoran yang tidak jauh dari sana. Ia menggandeng tangan mungil Er, sementara di belakang mereka ada beberapa bodyguard yang terus mengawal mereka.
Beberapa menu yang sudah Maura pesan sudah terhidang di meja. Er begitu lapar, hingga ia sudah tidak sabar lagi untuk memakannya.
Namun belum sempat menyantap makanannya, ponsel Maura berdering. Ia segera mengangkat panggilan tersebut. Ternyata itu panggilan dari rumah sakit. Ada pasiennya yang tiba-tiba saja kondisinya menurun, dan mengharuskannya untuk segera datang menanganinya. Maura mengerti, ini adalah tugasnya.
Dia menatap putranya sejenak yang kini juga menatapnya. Er tahu dengan tatapan mommy nya. Ia pun menganggukkan kepalanya. Walaupun Er kecewa, tapi ia tahu pekerjaan mommy nya adalah menolong orang. Jadi ia pun menyetujuinya.
"No mommy. Pekerjaan mommy sangat penting. Mommy adalah super Hiro yang akan menyelamatkan nyawa orang-orang. Masih ada paman-paman itu yang akan menjaga Er," Er menunjuk ke arah beberapa bodyguard yang tidak jauh dari sana.
Maura tersenyum, putranya sungguh anak yang begitu pintar dan sangat pengertian. Ia pun segera berdiri, mencium kening Er dan langsung pergi dari restoran itu.
Di saat Maura tengah terburu-buru, tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang.
Brugh...
"Ah, maaf Tuan, maafkan Saya," Maura sedikit membungkuk dan dan terus mengatakan maaf kepada seseorang yang ia tabrak. Namun ia tengah di kejar waktu, jadi Maura pun segera pergi tanpa menatap seseorang yang ia tabrak.
Orang yang Maura tabrak masih berdiri di tempatnya. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. "Via...," ucapnya setelah ia tersadar dari pemikirannya. Dia adalah Bintang. Matanya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Via berdiri di depannya, apakah matanya yang salah? Apakah karena merindukannya maka seseorang yang menabraknya wajahnya berubah menjadi Via?
Bintang segera berlari berusaha untuk mengejar wanita yang menabraknya. Namun sejauh apapun Ia berlari, ia tidak bisa menemukannya.
__ADS_1
Bintang berlari menuju jalanan seperti orang gila. Ia terus saja mencari wanita itu tanpa memperhatikan keadaan sekitar.
Ciiiiiiiiiiit...! Suara decitan mobil yang berhenti mendadak terdengar jelas.
Brugh... Tubuh Bintang terjatuh akibat terserempet mobil. Pengemudi itu terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke jalan raya.
Bimo segera berlari mengejar Bintang, namun pemandangan di depannya membuatnya begitu panik. Bosnya terserempet mobil. Ia segera menghampiri dan menolong Bintang.
"Anda tidak apa-apa Tuan? Maafkan Saya Tuan. Saya tidak sengaja menabrak Anda," ucap pengemudi itu dengan ketakutan.
Bintang segera berdiri, terdapat beberapa luka di siku tangannya dan beberapa di bagian tubuhnya yang lain. Sementara Bimo langsung membantu memapah Bintang.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" Bimo bertanya dengan begitu khawatir.
"Aku tidak apa-apa Bim," ucap Bintang. Lalu ia kembali menatap ke arah pengemudi yang nampak ketakutan. Bintang tersenyum. "Anda tidak perlu meminta maaf Tuan. Saya lah yang salah karena tidak memperhatikan kendaraan yang melintas," ucap Bintang.
"Bagaimana kalau Saya mengantar Anda untuk pergi ke rumah sakit Tuan?" tawar pengemudi itu. Namun Bintang menolaknya.
"Terimakasih Tuan untuk tawaran Anda. Tapi asisten Saya yang akan mengantarkan Saya ke rumah sakit." ucap Bintang sopan.
Pengemudi itu meminta maaf sekali lagi kepada Bintang, setelahnya ia pun segera pergi dari sana.
Bimo memapah Bintang menuju mobilnya. Ia begitu merasa bersalah karena tidak bisa menjaga bosnya.
Sementara Bintang masih saja memikirkan tentang wanita yang ia temui beberapa saat lalu. Ia masih beranggapan bahwa dia adalah Via.
"Bim, apakah Kau yakin bahwa Via benar-benar meninggal?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Bintang.
Bimo mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba Tuannya menanyakan hal itu? Bukankah waktu itu mereka menemukan makam Via?
"Apa maksud Anda, Tuan?"
"Aku melihatnya Bim, Aku melihat Via," ucap Bintang antara yakin dan tidak.
"Apa?"
***
__ADS_1
Bonus visual Bintang๐๐
Author tidak terlalu fokus dalam membuat bab hari ini. karena author sedang tidak enak badan. mohon di maklumi bila bab hari ini terasa begitu hambar ๐คง๐