
Er langsung memeluk tubuh Bintang. Membuat Bintang mematung di tempatnya. Putranya memeluknya erat, hingga air matanya tumpah seketika. Bintang membalas pelukan Er dengan begitu erat.
"Kenapa Paman menangis? Er memeluk Paman biar Paman tidak sedih lagi. Tapi sekarang Paman malah menangis huaaaaa...." Er menjadi ikut menangis.
Melihat pemandangan di depannya membuat hati Via begitu tercubit. Rasa bersalah merundung hatinya. Salahkah dengan keputusannya? Kenapa ia menjadi merasa begitu iba dengan pria yang masih berstatus sebagai suaminya?
"Kenapa mereka berdua kompak sekali menangis? Sebenarnya ada apa? Apa ada hal yang ku lewatkan?" gumam Resya. Lalu ia menatap Via untuk mencari sebuah jawaban. Namun Via tersenyum samar dan menggelengkan kepalanya. Via segera menatap ke arah lain karena saat ini air matanya pun hampir menetes.
"Nak, jangan menangis. Paman menangis karena Paman teringat putra Paman. Er sangat mirip dengannya, dan Paman sangat merindukannya." Bintang mengusap lembut kepala Er.
Er pun menatap wajah Bintang, "kalau begitu, Paman peluk Er saja," ucap Er yang kini sudah mulai tenang.
"Papa sangat merindukanmu nak, Papa ingin kita berkumpul bersama. Tapi sepertinya Mama mu tidak akan bahagia bila bersama Papa." Bintang berucap dalam hatinya.
***
__ADS_1
Via hanya terdiam sepanjang perjalanan. Saat ini Resya membawa mereka pulang ke rumah Via. Melihat Via yang sedari tadi hanya diam membuat Rey heran. Padahal sebelum ia meninggalkannya pergi ke luar negeri, calon istrinya begitu cerewet dan periang.
"Sayang, kenapa sepertinya Aku merasa ada yang berubah dari mu?" Resya bertanya seraya menatap ke depan. Karena saat ini ia yang mengemudikan mobilnya.
Via menoleh ke arah Rey. Sejujurnya sedari tadi ia bergelut dengan hatinya. Via memutuskan untuk mengatakan bahwa ingatannya telah kembali. Tangannya sedari tadi mengusap lembut rambut Er. Putranya tengah tertidur saat ini.
Via menghela nafasnya sejenak. "Rey, ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu," ucap Via.
"Baiklah, katakan saja, Sayang. Aku mendengarkan mu."
"Kita sudah sampai, lebih baik kita bicarakan di dalam saja bersama nenek," ucap Via. Rey mengerutkan keningnya, ia begitu penasaran dengan apa yang akan Via katakan.
Via mulai menggendong putranya keluar dari mobilnya. Namun Rey dengan sigap langsung mengambil alih Er dalam gendongannya. Mereka segera masuk kedalam rumah.
Kini Rey dan nenek sudah berada di ruang keluarga. Via duduk di samping nenek.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang ingin Kau katakan nak? Kenapa Kau mengajak nenek juga?" tanya nenek Mia.
Via menatap ke arah Rey dan nenek Mia. Lalu ia mulai berkata.
"Maura sudah mengingat semuanya nek." ucapnya membuat nenek dan Rey begitu terkejut.
"Maksud kamu apa,nak?"
"Nek, Maura sudah mengingat semuanya. Ingatan Maura sudah kembali. Sebenarnya nama ku bukanlah Maura, tapi Via. Aku sudah mengalami sebuah kecelakaan saat hendak pergi ke kampung yang pernah ku tinggali bersama almarhum ibu. Aku juga masih memiliki seorang suami." Via menjeda ucapannya.
"Via berterimakasih kepada nenek karena sudah menolong Via selama ini. Sudah mengakui Via sebagai cucu nenek. Tapi kenapa nenek berbohong tentang suami Via nek?" Begitu banyak pertanyaan yang ingin Via tanyakan mengapa nenek Mia membohongi dirinya.
Sementara Rey begitu takut. Ia takut Via akan meninggalkannya dan kembali bersama suaminya.
***
__ADS_1