
Via menatap mobil Bintang yang sudah terparkir di garasi. Dengan langkah cepatnya ia segera mencari dimana suaminya berada. Hatinya begitu tak menentu saat ini. Kejadian di restoran membuat hatinya begitu rapuh. Kali ini ia membutuhkan sandaran.
Via tak mendapati Bintang di kamarnya maupun di meja makan. Ia dapat menebak di mana suaminya saat ini. Ia segera bergegas menuju ke ruang kerja Bintang.
Via menarik nafasnya sebelum memasuki pintu ruang kerja Bintang. Dia kemudian masuk tanpa mengetuknya, dan menemukan Bintang yang langsung menyambutnya dengan senyuman. Bintang segera berdiri ketika mengetahui kehadiran Via.
Belum sempat Bintang melangkahkan kakinya, Via sudah berlari dan menghambur ke pelukannya. Sisa-sisa kesedihan masih tersisa di hati Via.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Bintang bertanya pelan seraya mengusap lembut rambut Via dengan penuh kasih. Via menggelengkan kepalanya. Hatinya terlalu sakit untuk menceritakan semuanya kepada suaminya.
"Aku hanya merindukanmu," jawabnya. Mendengar hal itu, Bintang tersenyum dan memeluknya begitu erat.
"Apa Kau habis menonton Drakor? Para wanita sering menontonnya. Dan sekarang wajahmu terlihat sedih seperti para wanita-wanita itu. Ataukah ada masalah lainnya?" Bintang berusaha bertanya. Bintang pernah mendapati Eve dan Via yang tampak murung dan sedih hanya karena menonton drama Korea. Makanya Bintang menebak seperti itu. Ia berpikir mungkinkah istrinya juga pecinta drama Korea seperti Eve dan Divya.
"Kau tahu tentang drama Korea?" Via mendongak menatap suaminya.
"Tentu saja, Eve dan Di sering menonton film drama Korea. Dan Aku begitu heran, kenapa menonton film itu membuat para wanita sering menangis dan sedih."
"Itu karena, hidup bukan hanya tentang kesenangan dan kebahagiaan. Tapi juga tentang kesedihan dan kegelisahan, Bi," ucap Via sendu.
"Jadi, Kau habis menontonnya?" Bintang menatap wajah Via. Sementara Via Menganggukkan kepalanya mengiyakannya.
Seketika Bintang menyentil kening Via. Membuat Via mengaduh dan mengusap keningnya, bibirnya mengerucut.
"Kenapa Kau menyentil kening ku? Kau selalu melakukannya. Apa Kau tidak tahu kalau ini sakit?" Protesnya.
Bintang tersenyum lembut dan mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan membiarkan mu menonton film itu kalau hanya akan membuatmu menangis dan bersedih." ucap Bintang. "Apa Kau tahu, Alesha juga menyukai drama Korea," ucap Bintang kemudian.
Sontak saja Via langsung mencoba untuk melepaskan pelukan Bintang. Ia tidak ingin Bintang membandingkan dirinya dengan Alesha. Menyebut nama Alesha saja membuat hatinya begitu sakit.
Via tahu bahwa dirinya tidak ada apa-apanya dibanding Alesha di mata suaminya. Namun, Via ingin saat Bintang bersamanya, suaminya tidak menyebutkan nama wanita lain di depannya.
"Baiklah, kalau begitu Aku tidak akan menonton drama itu lagi. Aku akan menonton film Hollywood saja," ucap Via kesal.
__ADS_1
"Alesha juga menyukai film Hollywood." Bintang berniat untuk menggoda istrinya.
"Kalau begitu Aku tidak akan menonton film apapun!" Ketusnya.
Bintang tersenyum gemas melihat istrinya yang kesal. Via nampak cemberut dan semakin mengerucutkan bibirnya.
Sementara Bintang langsung tertawa. Ia sedikit membungkukkan badannya dan melahap bibir istrinya yang mengerucut.
Via kembali menghamburkan pelukannya. Begitu erat pelukan Via. Via tahu bahwa Bintang hanya menggodanya saja. Dan itu sedikit mengobati hatinya saat ini.
Bintang tersenyum tipis. "Apakah Kau sangat merindukan ku?" Bintang mengusap punggung Via dengan begitu perhatian. Via menganggukkan kepalanya dalam pelukan suaminya.
"Bintang, Aku mencintaimu, hanya mencintaimu. Dengan mencintaimu Aku dapat melupakan lara hatiku. Dengan mencintaimu seakan dapat memberikan ku semangat. Namun apakah cinta ini akan bertahan? Apakah Kau akan menjadi cinta nyata ku?" Via berkata dalam hati. Begitu hangat pelukan Bintang, hingga Via enggan untuk melepaskan pelukan tersebut.
***
Keesokan harinya.
Bintang menyuruh Via untuk menyiapkan beberapa pakaian dan keperluannya. Bintang akan pergi ke luar kota untuk tiga hari kedepan untuk urusan pekerjaan.
Via rasanya tak ingin Bintang pergi. Namun ini adalah urusan pekerjaan, jadi mau tidak mau ia harus merelakannya.
Bintang mengecup lembut kening Via. Entah mengapa Via merasa, Bintang sangat lembut dan begitu romantis kepadanya. Mungkinkah itu hanya perasaannya saja? Hatinya terus berdebar merasakan sikap Bintang.
"Baik-baiklah di rumah. Tunggu Aku kembali. Ingat, Aku melarangmu untuk kembali bekerja! Dan jangan menonton film drama Korea lagi. Aku tidak ingin Kau menangis," ucap Bintang mengecup seluruh wajah istrinya. Via merasa sangat di cintai. Namun ia tidak ingin berpikir hal yang tidak mungkin. Via hanya ingin menikmati saat-saat ini.
Bintang mulai melangkah menuju mobilnya. Sudah ada Bimo di sana. Bintang memang akan pergi bersama Bimo.
Setelah melambaikan tangannya, kini mobil Bintang mulai meninggalkan rumahnya. Via hanya menatap sendu kepergian Bintang.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Via segera mengangkat panggilan tersebut. Setelah mendengar suara dari seberang telepon, ponselnya terjatuh begitu saja, dan membuat kaca ponselnya retak.
Air mata Via langsung membanjiri pipinya. Sebuah kabar yang memilukan menyayat hatinya. Via segera memanggil supir dan menyuruhnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Via langsung berlari-lari. Ia sudah tidak bisa berpikir apapun lagi. Yang ia pikirkan saat ini hanya berlari agar segera sampai ke ruang rawat ibunya.
"Ibu, Via yakin ibu baik-baik saja. Ya, ibu tidak apa-apa." Via terus saja meyakinkan hatinya.
Via hampir sampai di depan ruang rawat ibunya. Disana tampak Bu Lastri dan pak Bakri nampak sangat sedih. Bu Lastri terus saja menangis sesenggukan.
Melihat hal itu, Via masih berusaha menekan hatinya. Mencoba membuang pikiran buruk dalam benaknya. Ia terus meyakinkan bahwa ibunya baik-baik saja.
"A-apa yang terjadi bik?" tanyanya dengan sedikit terbata. Langkahnya mulai mendekati Bu Lastri.
Bu Lastri menatap Via. Lalu ia menghambur memeluk Via dengan menangis tersedu-sedu.
"Nak, Kau harus sabar. Kau masih memiliki kami." Bu Lastri tak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya.
"A-apa maksud bibik?"
"Nak, ibumu... Ibumu sudah tiada...." Mau tidak mau Bu Lastri akhirnya mengatakannya.
Seketika tubuh Via merosot. Ia terduduk. Rasanya ucapan Bu Lastri membuat dunianya hancur seketika.
"Tidak! Ibu tidak mungkin meninggalkan ku! Bik Lastri bohong kan...? Tolong katakan bahwa yang bibik katakan adalah bohong." Via berusaha menolaknya.
Bik Lastri memeluk Via erat. Ia tahu bagaimana perasaan Via saat ini. Sementara Via masih saja berusaha menolak sebuah kenyataan yang memilukan.
"Aku ingin melihat ibu. Via yakin bahwa ibu hanya tidur bik." Via masih keras kepala.
Perlahan bik Lastri membawa Via memasuki ruang rawat ibunya. Via seakan lemas ketika melihat sesosok tubuh yang tertutupi oleh kain. Via berlari, dan membuka kain tersebut.
Via menangis histeris ketika melihat ibunya yang sudah terbujur kaku. Dunianya benar-benar hancur. Pengorbanannya selama ini rasanya menjadi sia-sia. Via terus saja menangis sesenggukan ia tidak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga tubuh rapuhnya ambruk seketika.
"Nak! Via, bangun nak!" Itulah suara yang Via dengar sebelum semuanya menjadi begitu gelap.
***
__ADS_1
Hari ini hanya mampu 1 bab lagi genks 🙏.