Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 96


__ADS_3

"Ah, maaf," ucap Moza. Ia mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya. Rey melepaskan pelukannya dan menarik tangannya dari pinggang Moza. Keduanya nampak begitu canggung.


"Berjalan menghadap ke depan Za," ucapnya seraya menepuk kening Moza. Lalu ia berjalan mendahului Moza. Rey tersenyum merona, ia masih dapat merasakan Moza dalam pelukannya. Ia terus memperhatikan tangannya yang menyentuh pinggang Moza.


"Rey..., kenapa Kau meninggalkanku!" Seru Moza, ia segera mengikuti Rey di belakangnya.


Rey terlonjak terkejut. Ia tidak memperhatikan jika saat ini Moza berada tepat di belakangnya. Ia segera membalikkan badannya.


Dan... Lagi. Tubuh keduanya saling bersentuhan. Tanpa sengaja bibir Rey menyentuh kening Moza. Moza mematung di tempatnya.


Kedua pipi Moza terasa begitu panas, ia merasa sangat malu saat ini. Ia tersadar dan segera berlari dari hadapan Rey. Tangannya terus memegangi pipinya yang terasa begitu panas.


"Apa itu tadi, bibirnya menyentuh kening ku. Aaaaa... Malu sekali," ucap Moza dalam larinya. Lalu ia bersembunyi di antara banyaknya orang-orang. Ia sangat malu, jantungnya seolah mau lepas dari tempatnya.


Rey tersadar. Bibirnya menyunggingkan senyum. "Moza... Kenapa Kau meninggalkanku!" Serunya pada Moza yang sudah berlari entah kemana.


Kakinya melangkah mencari gadis yang saat ini membuat jantungnya berdetak kencang.

__ADS_1


***


Rey melangkah menyusuri setiap sudut taman. Namun Ia tak menemukan Moza. Sebenarnya kemana larinya sahabatnya itu? Ia hanya melepaskan sebentar saja, dengan cepat ia kehilangan Moza dari pandangannya.


Rey segera meraih ponselnya dalam sakunya. Ia akan menghubungi Moza.


"Halo, Kau di mana?" tanya Rey dalam panggilannya.


"Emm... Aku akan pulang lebih dulu Rey." Jawabnya, jantungnya masih berdetak kencang. Moza kembali teringat akan tabrakan yang berkesan baberapa saat lalu. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya.


"Kau mau pulang? Kenapa, bukankah kita akan menyaksikan kembang api bersama?" tanya Rey memastikan.


Moza tak mendengar suara Rey dalam panggilannya. Lalu ia melihat ponselnya dan ternyata masih tersambung. Ia tersenyum.


"Rey..." Panggilnya kembali.


"Ya. Jadi Kau benar-benar pulang menaiki taksi?" tanya Rey kembali.

__ADS_1


"Iya."


"Kenapa buru-buru kembali?"


Moza memejamkan matanya mendengar pertanyaan Rey. Kenapa dia bilang? Sudah tentu karena ia begitu malu saat ini.


"Itu karena emm... Aku sudah mengantuk," kilahnya.


Lalu kembali hening. Terdengar suara dari pengeras suara yang mengumumkan bahwa kembang api akan segera di nyalakan.


Rey juga mendengar suara tersebut yang memantul dari ponselnya. Ia yakin Moza masih berada di sana. Rey kembali melangkah mencari keberadaan gadis itu dan menajamkan pandangannya.


Tak berapa lama... Kembang api mulai di nyalakan. Kini langit malam menjadi semakin indah kala kembang api itu menghiasinya. Moza sedikit keluar dari persembunyiannya. Ia menyaksikan kembang api tersebut menyala di langit dengan indahnya. Di sekitarnya ia melihat beberapa pasangan yang menyaksikan kembang api itu. Hal ini pasti menjadi pemandangan yang romantis bagi mereka.


Ketemu... Akhirnya Rey menemukan Moza yang saat ini berdiri menyaksikan kembang api itu di antara orang-orang di sana. Kakinya mulai melangkah mendekati gadis itu.


Moza terlonjak terkejut ketika merasakan sebuah tangan yang merangkul pundaknya. Ia segera menatap ke arah seseorag di sampingnya.

__ADS_1


Jantungnya berdetak kencang ketika melihat siapa itu. "Rey...," ucapnya pelan.


***


__ADS_2