
"Sayang, Aku tidak akan apa-apa. Aku pernah mengalaminya. Jadi ku mohon jangan marah kepada siapapun." pinta Via.
Rey hanya mengangguk dengan patuh.
Tak lama kemudian, mobil itu sampai di rumah sakit. Rasa nyeri yang Via rasakan juga perlahan mulai mereda.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh para perawat. Via langsung di bawa ke ruangan yang sudah di siapkan.
Dokter mengatakan bahwa Via baru pembukaan tiga. Dan artinya masih ada beberapa sesi pembukaan lagi.
Dokter menjelaskan kepada Bintang bahwa sesi pembukaan masih akan berlangsung, dan itu akan memakan waktu.
Mendengarnya, Bintang mengusap wajahnya. Mana mungkin ia dapat menyaksikan istrinya yang merasakan kesakitan? Bintang menjadi merasa bersalah dan sedih ketika mengingat bagaimana istrinya melewati kelahiran putra pertamanya waktu itu tanpanya.
Bintang hendak mengomeli dokter karena mengatakan bahwa sesi pembukaan masih akan berlanjut namun tidak tahu apakah akan lama atau tidak.
Namun tangan Via menggenggam tangannya erat. Wajah kesakitan istrinya mulai dapat ia lihat kembali. Ya, rasa nyeri dan mulas mulai Via rasakan kembali. Bintang segera duduk di ranjang pasien dan membiarkan Via mencengkeram erat lengannya. Ia sungguh tidak tega melihat Via seperti ini.
"Sayang," ucap Bintang pelan. Namun Via tak menyahuti. Dirinya masih menahan kesakitan.
"Dokter, berikan apa saja agar istri ku tidak merasakan sakit. Aku akan membayar berapapun biayanya," ucap Bintang memohon.
Dokter dan beberapa perawat saling berpandangan. "Maaf, Tuan Bintang. Tapi Yang Nyonya Via rasakan ini adalah murni rasa sakit pada seorang wanita yang hendak melahirkan. Dan memang prosesnya akan seperti itu, Tuan." ucap dokter.
Bintang semakin frustasi mendengarnya. Nyatanya uangnya tidak dapat membeli agar istrinya tidak merasakan kesakitan. "Kalau begitu, pergilah dari sini!" perintahnya.
Dokter dan perawat patuh dan segera pergi dari ruangan itu.
"Sayang, apa ada sesuatu yang Kau inginkan?" tanya Bintang lembut. Saat ini Via mulai melepaskan cengkeramannya. Rasa mulas itu kembali menghilang.
"Tidak, Sayang. Rasanya tidak ada yang enak saat ini." ucap Via.
__ADS_1
"Ada."
"Apa?" tanya Via mengerutkan keningnya.
Bintang mendekat dan berbisik. "Bibir ku enak, Sayang." ucap Bintang. Sontak membuat Via langsung memukul pelan dada suaminya. Pipinya bersemu merah. Bisa-bisanya di saat seperti ini suaminya berkata mesum.
"Kau...," Via merasa gemas dengan sikap suaminya. Lalu ia tersenyum menatap Bintang.
Setidaknya Bintang dapat menghilangkan sedikit rasa khawatirnya ketika melihat senyuman istrinya.
"Mau minum, Sayang?" Bintang membawa teh hangat kepada istrinya. Via mengangguk dan menerima teh manis itu dari suaminya.
"Kenapa hanya sedikit, Sayang? Apa Kau ingin meminumnya dari bibir ku, Sayang?"
Via tergelak mendengar ucapan suaminya. Lalu ia menatap ke arah dokter dan perawat yang berada tak jauh dari tempatnya. Via merasa malu saat ini, dokter dan perawat pasti mendengar ucapan suaminya itu.
"Sayang, Kau membuatku malu," Via memalingkan wajahnya. Bintang tersenyum dan mengusap kepala Via lembut. "Malu? Aku hanya ingin membuat mu nyaman, Sayang."
"Tapi Aku malu."
Via kembali merasakan mulas kembali. Kali ini semakin sakit yang ia rasakan. Tangannya kembali mencengkeram erat lengan Bintang.
"Sayang, Kau merasa sakit lagi?" tanya Bintang. Via mengangguk pelan. Bintang mengusap pinggang istrinya. Bibirnya mengecup kening Via berkali-kali. Ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Ini memanglah proses kelahiran. Dan dia hanya bisa berada di samping istrinya dan menyemangati istrinya agar dapat melewati ini semua.
Rasa mulas itu kembali menghilang. Via melepaskan cengkeramannya pada lengan suaminya. Lalu ia tersenyum, ia berusaha untuk tidak membuat Bintang merasa sangat khawatir.
Dokter kembali dan memeriksa pembukaan yang terjadi. Dan saat ini sudah pembukaan empat. "Ini sudah pembukaan empat." ucap dokter tersenyum.
"Apa? Kenapa dari tadi hanya bertambah satu pembukaan Dok? Ini sudah satu jam dan baru bertambah satu pembukaan?" Bintang begitu frustasi. Berapa lama lagi istrinya akan mengalami kesakitan?
Via memegang tangan Bintang hangat. "Sayang, melahirkan memang seperti ini. Tenanglah," ucap Via lembut. Ia tersenyum menatap suaminya. Namun Bintang menatapnya dengan sedih. "Jangan tersenyum menatap ku, Sayang. Rasanya Aku tidak sanggup melihat mu merasakan kesakitan. Apa prosesnya tidak bisa di percepat lagi. Aku tidak ingin Kau terus merasakan sakit seperti tadi, Sayang," ucap Bintang mengusap lembut pipi istrinya.
__ADS_1
Via malah terkekeh. "Sayang, seperti inilah melahirkan. Kau tahu saat Aku melahirkan Er? Waktu itu memakan waktu hingga delapan jam, baru Er lahir ke dunia ini," ucap Via.
Bintang terhenyak. "A-apa...?" Bintang langsung memeluk istrinya. Ia menitihkan air matanya. "Maafkan Aku waktu itu Aku tidak berada di samping mu, Sayang. Kau pasti sangat kesakitan waktu itu," ucap Bintang.
Via mengusap lembut punggung suaminya. "Sayang, yang terpenting saat ini Kau bersamaku."
***
Empat jam berlalu...
Kini Via sudah berada di ruang bersalin. Baby sudah akan lahir saat ini. Bintang terus saja menggenggam tangan Via dan terus memberikan semangat kepada istrinya. Sejujurnya Bintang tak sanggup melihat Via yang seperti ini.
"Ooghhh, Sayang...," Via memekik. Rasanya sangat sakit sekali.
"Kau pasti bisa Sayang. Kau adalah wanita yang kuat." Bintang rasanya ingin menangis melihat perjuangan sang istri. Namun ia berusaha untuk menahannya.
Via terus berjuang untuk melahirkan. Segala doa ia ucapkan dalam hati. "Sayang, Aku minta maaf padamu jika Aku selama ini menjadi seorang istri yang tidak patuh padamu. Aku sering sekali membuat mu terluka, maafkan Aku," ucap Via. Bintang menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin mendengar ucapan istrinya yang berkata seperti itu.
"Tidak, Sayang. Kau kuat," ucap Bintang. Lalu ia mengecup kening istrinya. "Aku sangat mencintaimu," ucap Bintang. Lalu ia meminta izin kepada istrinya untuk ke kamar mandi sebentar. Via mengangguk.
Bintang segera menutup pintu kamar mandi. Ia berjongkok dan menangis, sungguh dirinya tak mampu melihat kesakitan yang dirasakan oleh istrinya. Dadanya terasa sesak mengingat perjuangan Via. Namun, ia segera bangkit. Ia tidak boleh seperti ini, dia harus menemani dan menguatkan sang istri untuk menguatkannya. Bintang segera mencuci mukanya, ia segera keluar dan kembali menyemangati sang istri.
Bintang kembali menggenggam tangan Via. "Sayang Kau pasti bisa, semangat," ucapnya pelan. Via mengangguk, lalu ia kembali memekik, rasanya sangat sakit luar biasa.
"Tuhan, jangan sakiti dia. Andai bisa, Aku rela menggantikan rasa sakitnya," ucap Bintang dalam hatinya.
Tangan Via semakin mencengkram kuat lengan suaminya. Lalu ia mulai mengejan dengan begitu kuat. Tangisan bayi laki-laki memenuhi suara ruangan tersebut. Via menangis, Bintang mengecup keningnya berkali-kali. "Aku tahu Kau wanita yang kuat, Sayang," ucap Bintang penuh haru.
Namun Via kembali memekik, rasanya masih sangat sakti sekali. Ia kembali mengejan dengan kuatnya. Dokter segera kembali melihatnya dan menanganinya. Dan lagi, suara tangisan bayi lagi kembali terdengar. Via melahirkan sepasang bayi kembar.
Bintang sungguh terkejut, begitu juga dengan Via. Mereka tidak pernah menyangka bahwa bayi mereka akan kembar.
__ADS_1
Selama mengandung, Via memang tidak melakukan USG. Pamannya dan neneknya sering menyarankannya. Namun, Via menolaknya, ia ingin baby-nya nanti akan menjadi kejutan untuk jenis kelaminnya. Dan untuk Baby yang ke-dua adalah perempuan. Via menangis terharu, begitu juga dengan Bintang. Kini kebahagiaan mereka terasa begitu lengkap dengan kelahiran putra-putri kembar mereka.
***