Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 52


__ADS_3

"Ok Mommy. Dah Paman...." Er berjalan dan melambaikan tangannya ke arah Bintang yang masih terpaku.


Er memasuki pintu pasien yang tak jauh dari ruangan Mommy nya.


Setelah Maura melihat putranya yang memasuki ruangan pasien, ia pun langsung menatap tajam ke arah Bintang.


"Mau apa Kau kemari lagi?!"


Bintang pun tersadar dari lamunannya mendengar perkataan Maura yang begitu ketus.


Menatap wajah Maura membuat Bintang ingin kembali memeluk istrinya. Namun ia harus menahannya. Ia harus membuat istrinya kembali mengingat dirinya.


Bintang tersenyum, lalu ia memberikan satu ikat bunga mawar merah itu kepada Via.


"Aku membawakan mawar ini untuk wanita paling cantik," ucap Bintang tersenyum manis.


Sementara Maura menatap pria di depannya itu dengan jengah. Pria di depannya tak hentinya mengganggu dirinya.


"Aku sudah mengatakan jangan menggangguku! Apa perkataan ku masih kurang jelas waktu itu?!"


"Maaf Sayang, tapi Aku tidak bisa untuk tidak mengganggu istriku," ucap Bintang tersenyum menaik turunkan alisnya.


"Sudah ku bilang Aku bukan istrimu! Aku bukan Via, Aku Maura. Apa Kau tidak mengerti dengan ucapan ku huh! Sekarang pergilah dan simpan kembali bungamu itu!" Maura meninggikan suaranya. Ia hendak menutup pintu ruangannya.


Namun Bintang menahan pintu itu dan mendorong tubuh Via memasuki ruangan itu bersamaan dirinya yang memasuki ruangan Maura. Bintang berdiri tepat di depan Maura. Tersenyum dan menatapnya penuh arti.


Lalu Bintang pun langsung mendudukkan tubuhnya di sebuah sofa di ruangan itu. Membuat Maura terbelalak tak habis pikir dengan kelakuan pria itu.


"Apa yang Kau lakukan di sana, keluar dari ruangan ku!"


"Tenanglah Sayang, Aku hanya ingin bersantai di ruangan istriku, apa itu salah?" ucap Bintang dengan santainya.


Bintang lalu menaruh bunga mawar itu di atas nakas di dekat sofa.


"Sudah ku bilang Aku bukanlah istrimu! Bagaimana caranya agar Kau itu mengerti dengan ucapan ku ini?!" Maura begitu frustasi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk mengusir Bintang.


"Kau istriku, Kau mengatakan Kalau Kau bukan istriku karena Kau belum mengingat semua tentang kita saja Sayang. Tapi Kau tenang saja, Aku akan membuat mu mengingat perlahan tenang ku." ucap Bintang.


Maura terkejut, apakah pria di depannya itu mengetahui bahwa dirinya mengalami amnesia, dan belum bisa mengingat tentang semua masalalunya.

__ADS_1


"Da-dari mana Kau tahu kalau Aku...,"


"Amnesia?" Potong Bintang. Ia segera berdiri dan menghampiri Via yang masih terdiam terpaku.


Kini Bintang berdiri tepat di depan Via. Bintang menatap Via begitu sendu. Dari tatapannya begitu penuh dengan kerinduan. Ia merindukan semuanya tentang Via. Bintang ingin kembali memeluknya.


"Percayalah bahwa Kau adalah istri ku. Aku memang bersalah dulu dengan semua sikapku hingga membuatmu pergi, Sayang. Apa Kau tahu? Selama ini Aku begitu tersiksa hidup tanpamu. Tanpa putra kita." ucap Bintang.


Maura menatap Bintang saat Bintang mengatakan tentang putranya. Ia menjadi begitu bingung.


"Apa maksudmu?"


"Er adalah putra kita, Sayang. Dia adalah putraku yang sangat ku rindukan selama ini. Kau sudah pergi membawa putra kita tanpa memberitahu ku bahwa Kau sedang hamil waktu itu." Bintang berusaha untuk menjelaskannya.


Maura masih berpikir, bagaimana pria di depannya mengatakan hal demikian. Kalau Er adalah putra Bintang, dan Bintang benar suaminya, lalu kenapa nenek mengatakan bahwa suami Maura sudah meninggal dalam kecelakaan yang membuatnya melupakan segalanya.


Maura merasa begitu pusing memikirkan hal demikian. Ia mulai memundurkan langkahnya dari Bintang.


Samar-samar seolah ia melihat sebuah bayangan klise, namun tak begitu jelas. Ia memegangi kepalanya yang tiba-tiba menjadi sakit dan semakin sakit setiap detiknya.


"Ssss... Sakit sekali...," Via mendesis kesakitan seraya memegangi kepalanya.


"Sayang, Kau kenapa?!" Bintang menjadi panik.


"Kepalaku sakit sekali... Arghh...!" Tiba-tiba saja Maura tak sadarkan diri. Dengan gerakan cepat dan sigap, Bintang menangkap tubuh Maura. Ia begitu terkejut. Bintang langsung mengangkat tubuh Maura dan membaringkannya di sofa.


"Sayang... Kau kenapa?! Bangunlah, jangan menakutiku seperti ini...," Bintang terus saja bergumam. Tangannya menepuk pelan pipi Maura, berharap segera membuka matanya.


Bintang segera mendekap erat tubuh Maura, ia menyesal telah bersikeras untuk membuat ingatan istrinya kembali. Dan kini wanita yang ia cintai tak sadarkan diri karena dirinya.


"Kumohon bangunlah... Aku tidak akan mengungkit masa lalu kita lagi, Sayang." Bintang hampir menitihkan air matanya karena takut. Bibirnya terus saja menciumi kening Maura. Ia begitu ketakutan,ia tidak ingin terjadi hal buruk terhadap istrinya.


Sebuah pergerakan dalam pelukannya membuat Bintang pun menatap Maura yang mulai tersadar.


"Emhh...," Maura kembali memegangi kepalanya. Ia pun mulai membuka matanya kembali. Ia terkejut kala merasakan tubuhnya berada di pelukan Bintang yang kini juga menatapnya khawatir. Dapat ia lihat lelehan air mata di sekitar pelupuk matanya.


"Kau sadar... Maafkan Aku. Aku tidak akan memaksamu mengingat segalanya tentang kita lagi." Bintang kembali menciumi kening Maura.


Maura terdiam. Ia membiarkan begitu saja Bintang yang menciumi keningnya. Ia nampak sedang berpikir. Lalu tangannya mendorong pelan tubuh Bintang yang mendekapnya erat.

__ADS_1


"Lepaskan Aku," ucapnya lirih.


Bintang segera melepaskan pelukannya. Membiarkan istrinya duduk. Lalu ia duduk di sampingnya menggenggam tangannya dan mengecupnya berkali-kali.


"Kau membuatku begitu ketakutan. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Sayang."


"Tuan, kumohon keluar dari ruangan ku," ucap Maura lirih. Ia masih membiarkan Bintang mengecup tangannya.


"Jangan menyuruhku untuk pergi. Aku tidak akan pernah bisa tanpamu, Sayang. Hatiku akan sakit bila Kau menyuruh ku untuk pergi." Bintang kembali menatap wajah istrinya yang kini juga menatapnya.


Maura melihat jauh kedalam mata Bintang yang menatapnya dengan begitu banyak kerinduan di dalamnya. Entah mengapa,ia merasa luluh dengan tatapan itu. Hingga iapun membiarkan Bintang semakin mendekatkan wajahnya ke arahnya.


Namun ia kembali tersadar dan menahan dada bidang Bintang. "Kumohon, jangan mencium ku lagi. Bagaimana Aku harus mengatakannya kepadamu bahwa Aku bukanlah istrimu. Bukankah istrimu sudah tiada? Kenapa Kau selalu menganggap ku sebagai istrimu?" ucap Maura dengan tatapan frustasi.


"Karena Kau memang istriku. Seberapa kerasnya Kau mengatakan bahwa Kau bukankah istriku, Aku akan terus mengatakan bahwa Kau adalah istriku, milikku, ibu dari putra kita," ucap Bintang begitu lembut.


Maura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak ingin melihat tatapan Bintang padanya. Hingga sebuah ketukan pintu membuat Maura langsung mendorong tubuh Bintang dan segera berdiri.


Maura sedikit terhuyung. Melihat hal itu, Bintang hendak kembali mendekat. Namun Maura segera berjalan pelan menuju pintu. Ia terus berusaha untuk menghindari Bintang.


"Dokter, sudah saatnya untuk memeriksa pasien," ucap seorang suster.


Maura melihat pergelangan tangannya dan menatap jam tangannya. Ternyata memang sudah melebihi waktu untuk memeriksa kondisi pasien-pasiennya.


"Baiklah," Maura tersenyum dan langsung keluar dari ruangannya dan menutupnya kembali. Ia tidak ingin suster itu tahu bahwa di dalam ruangannya ada Bintang.


"Aku tidak akan menyerah, Via. Akan ku pastikan kita akan berkumpul lagi." Bintang berkata dengan begitu yakinnya.


***


Gak jadi up sehari 1 🤣🤣🤣 nungguin balasan editor dulu baru crazy up 🤭🤭



bonus visual Resya 👆😍😍



Bintang Askara 👆😘😘

__ADS_1


__ADS_2