
"Jangan pernah memaksakan hati yang masih terluka karena cinta Rey," ucap Moza. Lalu ia menarik Rey. "Antar Aku pulang, ini sudah malam."
Dalam perjalanan pulang, Rey masih terdiam. Ia terus memikirkan apakah Moza benar-benar memiliki kekasih saat ini? Mungkinkah gadis itu sudah tidak lagi memiliki perasaan padanya? Rey seolah tak rela jika memang Moza melepaskan perasaan terhadap dirinya.
"Rey, lusa Aku akan kembali bekerja. Apa Kau masih ingin di sini?" tanya Moza ketika mobil Rey mulai sampai di halaman rumahnya.
Rey tersadar dari lamunannya. "Aku juga akan kembali, kantor membutuhkan bos kan?" Rey menjawabnya dengan terkekeh.
"Ya, Kau benar. Sudah sampai Rey, Aku masuk dulu. Terimakasih sudah mengantarku," ucap Moza tersenyum, lalu ia segera keluar dan melambaikan tangan pada Rey.
***
Moza sedang jalan-jalan siang ini. Ia ingin membeli oleh-oleh untuk teman-teman kantornya.
"Moza...," Seseorang memanggilnya. Moza menoleh untuk melihat siapa itu.
__ADS_1
"Tante Zara?" Moza tersenyum lalu sedikit membungkuk.
"Kau di sini juga?, Apa yang Kau lakukan nak?"
"Moza ingin membeli oleh-oleh untuk teman-teman di kantor Tante." ucap Moza. Mama Zara mengangguk-angguk.
"Kebetulan sekali. Tante juga ingin membelikan kue untuk Rey. Apakah Kau mau menemani Tante untuk membelinya?" Mama Zara begitu berharap. Kali ini ia kembali akan membuat Moza dan putranya mau di jodohkan.
Moza tersenyum sungkan. Mau tidak mau ia menyetujuinya. "Baiklah Tante."
Dengan senangnya, Mama Zara menggandeng tangan Moza. Mereka pergi ke toko kue di dekat mall.
Moza tersenyum, ia menganggukkan kepalanya. Lalu ia menunjuk cake strawberry coklat, Rey sangat menyukainya. "Rey menyukai kue itu Tante," ucap Moza.
Mama Zara mengerutkan keningnya. Bagaimana Moza bisa tahu kue kesukaan putranya?
__ADS_1
"Dari mana Kau mengetahui cake kesukaan Rey, Sayang?"
"I-itu karena kita sudah berteman sejak kecil Tante," ujar Moza. Mama Zara terkejut, ia begitu senang mengetahui hal itu.
Lalu Mama Zara mulai bertanya tentang bagaimana mereka bisa berteman waktu masih kecil. Moza juga bercerita bahwa ia juga sekertaris Rey. Itu semua seperti angin segar bagi Mama Zara. Sepertinya perjodohan ini akan berhasil.
"Sayang, Tante ternyata ada arisan dengan teman-teman Tante. Jadi bisakah kamu mengantarkan cake ini untuk Rey? Tante mohon...," Mama Zara kembali mencoba untuk membujuk. Semoga kali ini rencananya berhasil untuk membuat keduanya semakin dekat.
"Tapi Tante...,"
"Sayang, Tante sudah hampir terlambat. Tolong ya...." Mama Zara memberikan paper bag berisi cake kepada Moza, lalu ia segera pergi dari sana dengan tergesa-gesa.
"Kenapa harus Aku? Bagaimana kalau dia berpikir Aku berusaha mendekatinya?" Moza menarik nafas panjangnya.
Dulu ia pernah menulis kata cinta untuk Rey. Dan tanpa sengaja Rey membacanya, semenjak itu persahabatan mereka menjadi semakin jauh. Dan kini di saat persahabatan mereka kembali dekat, kedua orang tuanya selalu saja mencari cara untuk menjodohkan mereka. Moza tidak ingin memaksakan hati Rey untuknya. Bagaimana jika Rey berpikir kalau dirinya mendekatinya? Moza takut persahabatannya kembali jauh.
__ADS_1
"Baiklah, hanya mengantarkan saja. Aku mengatakan saja yang sebenarnya kalau Tante Zara yang menyuruh ku," ucapnya, lalu Moza memutuskan untuk mengantarkan cake itu untuk Rey.
***