Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 51


__ADS_3

Untuk beberapa saat Maura terpaku. Jantungnya berdetak tak beraturan. Pandangannya terkunci, mereka saling menatap satu sama lain.


Hingga bibir Bintang kembali menyapu bibir Maura. Maura kembali terkejut. Namun entah mengapa, ia tak menolak ciuman itu. Hatinya menolaknya, namun entah mengapa tubuhnya seakan menikmati ciuman itu. Hangat bibir Bintang membuat Maura begitu tersihir.


Bintang sangat merindukan bibir Via. Rasanya ia ingin menumpahkan segala kerinduannya. Sudah sangat lama Bintang tak pernah merasakan sebuah ciuman. Dan inilah ciuman yang begitu ia dambakan. Yaitu, ciuman bibir Via, istrinya. Bintang sangat yakin Maura adalah Via.


Dari bola mata indahnya, suara, wangi tubuhnya. Ia bisa merasakan bahwa dokter Maura adalah istrinya.


Ciuman itu berlangsung cukup lama. Namun Maura segera tersadar saat mendengar suara ponsel berdering.


Maura segera mendorong tubuh Bintang, hingga ciuman itu pun akhirnya terlepas. Bintang hampir saja terjungkal, ia terlalu fokus pada ciuman itu.


"Sial!" umpat Bintang karena ciuman itu terhenti.


Sementara Maura mengusap bibirnya kasar. Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dirinya berciuman dengan pria lain padahal dirinya telah memiliki seorang kekasih? Maura menatap nanar ke arah Bintang.


Bintang kembali mendekati Maura. Secepat kilat Maura berdiri dan menjauhi Bintang. Ia tidak ingin kejadian barusan terulang lagi. Maura harus menjauhi pria di depannya. Ia tidak ingin menjadi wanita yang begitu jahat dengan berselingkuh dengan pria yang tidak ia kenal.


"Vi, kenapa Kau menjauh? Bukankah Kau juga menikmati ciuman itu? Ayo kita pulang, Sayang. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku berjanji tidak akan pernah lagi menyakitimu." Bintang kembali berusaha mendekati Maura.


"Tidak! Berhenti di sana. Aku bukan Via, Aku tidak mengenalmu, dan ku mohon menjauh lah dariku. Aku sudah memiliki seorang kekasih,dan kami akan segera menikah. Jadi jangan pernah mengganggu ku!" Maura pun langsung berlari meninggalkan ruang rawat Bintang.


Entah mengapa air matanya luruh membasahi pipinya. Maura tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini. Hatinya merasa begitu bingung dengan apa yang terjadi.


Sementara Bintang mematung di tempatnya. Mendengar Maura mengatakan bahwa ia harus menjauhinya dan dirinya yang akan menikah membuat Bintang terpaku. Mengapa istrinya seolah tak mengenalnya, mengapa Via selalu menolak dirinya? Apakah kesalahannya tidak termaafkan oleh istrinya? Bintang merasa begitu kalut. Ia merasa bahwa dirinya begitu tak berharga. Via tidak menginginkannya. Begitulah pemikiran Bintang. Ia menangis tertunduk, ia merutuki kebodohannya di masa lalu.


Di luar Bimo melihat dokter Maura berlari keluar dari kamar rawat Tuannya. Bimo mengerutkan keningnya, lalu ia pun segera memasuki kamar Tuannya.


"Tuan...," Bimo segera menghampiri Bintang yang terduduk di lantai.

__ADS_1


"Bim, apa kesalahan ku tidak pantas di maafkan? Kenapa dia mengatakan tidak mengenalku. Apa istriku ingin membuang ku dari hatinya?" Bintang berkata dengan suara seraknya.


Bimo menatap iba Bintang. Saat ini pria paling keras kepala dan dingin itu terlihat begitu menyedihkan. Cinta membuat Tuannya menjadi seperti itu.


"Tuan, Saya tahu kenapa Nona Via bisa tidak mengenali Anda. Itu bukan karena Nona Via ingin membuang Anda. Itu semua karena Nona Via mengalami amnesia dari kecelakaan beberapa tahun silam." ucap Bimo. Bintang segera berdiri dan berbalik menatap Bimo.


"Apa maksudmu, Bim?"


"Tuan, Saya sudah mendapatkan semua informasi detail dari dokter Maura atau Nona Via."


"Katakan!"


"Dokter Maura memanglah Nona Via. Beberapa tahun silam waktu kecelakaan itu terjadi, Nona Via mengalami amnesia. Dan dokter yang menanganinya itu ternyata adalah paman Nona Via. Dokter Gio adalah pemilik rumah sakit besar di Indonesia. Dan ternyata keluarganya sedang mencari keberadaan putri yang selama ini mereka cari, yaitu Nyonya Delisa atau Nyonya Lilis, almarhum ibu Nona Via. Keluarga Nona Via telah memalsukan kematian Nona Via dan membawanya ke negara lain. Dan sudah satu tahun mereka menetap di negara ini Tuan." Bimo memberi tahu informasi yang baru saja ia dapat kepada Tuannya.


Bintang begitu terkejut. Ternyata Via tidak mengenalinya karena amnesia, bukan karena istrinya ingin membuangnya.


Kini Bintang bertekad untuk membuat Via kembali mengingatnya. Dan membawanya kembali pulang.


"Dari informasi, putra Anda sering ikut Nona Via datang ke rumah sakit ini Tuan."


"Jadi, anakku laki-laki? Aku memiliki seorang anak laki-laki?" Bintang terus saja mengulang-ulang ucapannya. Ia begitu bahagia mendengar informasi dari Bimo.


"Aku harus bisa membawa mereka pulang Bim. Aku seorang ayah Bim... Aku seorang ayah...," Bintang berkata dengan air matanya yang mengalir. Namun itu adalah air mata bahagianya.


***


Keesokan paginya, Bintang sudah menggunakan pakaian yang begitu rapi. Ia meminta Bimo untuk membelikan satu ikat bunga mawar merah.


"Ini bunga yang Anda pesan Tuan." Bimo memberikan bunga mawar merah itu kepada Bintang.

__ADS_1


Bintang menerimanya dengan tersenyum. Ia sudah membayangkan Via akan menyukai bunga tersebut.


Bintang sudah mandi dan mengenakan pakaian lengkapnya. Ia membawa bunga tersebut dan keluar dari kamarnya. Senyumnya terus saja merekah. Hatinya begitu bahagia saat ini.


Bintang terus berjalan menuju ke ruangan dokter Maura atau istrinya. Kini ia telah sampai dan berdiri tepat di depan pintu ruangan istrinya.


Bintang menghela nafasnya sejenak,lalu ia mulai mengetuk pintu itu dengan bersemangat.


Tok...tok...tok...


Tak berapa lama kemudian, pintu itu terbuka. Namun Bintang mengerutkan keningnya saat tak melihat siapapun di depannya.


"Paman?" ucap suara seorang anak kecil.


Bintang terhenyak, ia menatap ke bawah pintu ruangan itu. Sesosok anak kecil yang tidak asing lagi di matanya.


"Boy? Kenapa Kau ada di sini nak?" Bintang masih mengingat anak kecil itu, dia adalah anak kecil yang ia temui di McD waktu itu. Namun Bintang begitu heran kenapa anak kecil itu bisa berada di ruangan istrinya. Mungkinkah anak kecil itu sedang berobat? Bintang menerkanya.


"Siapa, Sayang!" tanya suara lembut dari dalam ruangan. Bintang yakin itu suara Via. Lalu pandangannya kembali beralih pada anak kecil itu.


"Ada paman waktu itu mommy. Yang di McD itu loh," ucap Er seraya menatap Bintang.


Sementara Maura saat ini sedang mengerjakan sesuatu. Ia memeriksa beberapa berkas tentang pasiennya. Namun mendengar putranya mengatakan yang mengetuk pintunya adalah seseorang yang ingin dia hindari, ia pun menghentikan aktivitasnya.


"Kenapa dia terus mengganggu ku? Apa pria itu adalah kerbau, hingga ia tidak mengerti dengan apa yang ku ucapkan?!" Batin Maura. Ia sungguh merasa kesal kepada Bintang. Kakinya pun melangkah menuju ke arah pintu menyusul putranya.


"Er, Kau temui Mayra dulu ya nak, nanti Mommy menyusul Er," ucap Maura lembut, tangannya mengusap lembut rambut Er.


Bintang terpaku menatap interaksi antara Via dan anak kecil itu. "Anak itu memanggil Via Mommy? Ja-jadi anak kecil itu adalah putraku? Jadi Tuhan sudah mempertemukan kami selama ini, tapi bodohnya Aku tidak menyadarinya?" Bintang tidak menyangka bahwa anak kecil yang Ia temui waktu itu adalah putranya.

__ADS_1


***


__ADS_2