
Via duduk di dekat tempat tidur Bintang. Mereka menatap nenek Mia, menanti apa yang ingin nenek Mia katakan.
"Via, apa Kau tahu yang Kau lakukan?"
Via menebak neneknya pasti akan marah padanya. Via menundukkan kepalanya.
"Iya nek, maafkan Via."
Melihat Via yang menunduk, Bintang meraih jemari Via dan menggenggamnya erat.
"Aku merestui kalian." Ucap nenek Mia dengan lantangnya.
Via dan Bintang begitu terkejut dengan tiga kata yang terlontar dari mulut neneknya. Keduanya menatap sang nenek yang kini menatap mereka dengan tersenyum.
"Jadi, nenek tidak marah?" Via bertanya dengan masih tak percaya.
Nenek Mia kemudian duduk di sofa yang ada ruangan itu.
"Mana mungkin nenek marah,nak. Kau adalah cucuku satu-satunya. Nenek tidak akan pernah membiarkan Kau tidak bahagia nantinya. Sebenarnya nenek tidak menyetujui kalian kembali bersama, tapi seseorang terus meyakinkan nenek hingga nenek akhirnya menyetujuinya." tutur nenek Mia.
__ADS_1
Bintang dan Via saling berpandangan. Sebenarnya siapa seseorang yang telah berjasa itu, mereka harus berterimakasih Kepadanya.
"Siapa dia nek?" Via ingin tahu.
Nenek Mia memutar bola matanya membayangkan seseorang itu.
"Siapa lagi kalau bukan asistennya yang bodoh itu," nenek Mia menunjuk ke arah Bintang.
"Bimo?" Bintang terkejut.
"Apa kalian tahu betapa bodohnya dia? Nenek sudah berkali-kali memakinya, mengusirnya, tapi asisten mu selalu datang setiap hari. Dia menjelaskan semuanya kepada nenek, hingga akhirnya nenek merestui kalian. Kalian harus berterimakasih Kepadanya, anak itu sudah sangat berjasa kepada kalian."
***
Dua hari berlalu, Bintang telah sembuh dari sakitnya.
Bintang membawa Via dan Er ke rumahnya yang berjarak dekat dengan rumah Via. Tentunya agar tidak ada yang mengganggunya saat bersama istrinya. Namun nyatanya putranya selalu mengganggu mereka. Er tidak ingin ke sekolahnya, anak kecil itu begitu bahagia karena memiliki Mommy dan Daddy, Er kini memiliki keluarga yang lengkap.
Saa ini mereka bertiga tengah berada di atas kasur yang sama. Er begitu senang ketika Bintang mendekapnya.
__ADS_1
"Daddy, apa Er sekarang akan punya Daddy terus? Er takut Daddy akan pergi lagi, dan Er tidak akan punya Daddy lagi nanti." Er bertanya menatap wajah Bintang.
Bintang tersenyum dan semakin memeluk putranya.
"Tidak nak, Daddy tidak akan pernah meninggalkan mu. Daddy akan selalu bersama kalian, bersama Er dan Mommy." Bintang mengecupi wajah putranya gemas.
Via merasa sangat bahagia melihat pemandangan di depannya. Kini keluarga kecilnya telah berkumpul, dan Via tidak akan pernah membiarkan keluarga kecilnya berpisah lagi.
Via mendekati suami dan putranya. Ia memeluk keduanya dengan penuh kasih. Bintang tersenyum dan membalas pelukan istrinya. Mereka bertiga begitu bahagia saat ini. Rasanya begitu sulit untuk mereka ucapkan dalam sebuah kata-kata. Hingga ketiganya pun terlelap dalam tidurnya.
***
Bintang terbangun, ia menatap istri dan putranya yang tengah tertidur. Bibirnya menyunggingkan senyumnya. Ia lalu turun dari kasurnya dan menyelimuti istri dan putranya. Ia melangkahkan kakinya menuju balkon kamarnya, membawa ponselnya dan kini nampak sedang menghubungi seseorang di sebrang sana.
"Mama, Aku akan membawa seorang menantu dan cucu untuk Mama dan Papa." ucapnya pada panggilan tersebut.
Terdengar dari sebrang sana sebuah keterkejutan.
"Apa...? Nak, siapa yang Kau nikahi? Apa Kau begitu frustasi sehingga Kau menikahi seorang janda yang sudah memiliki seorang anak?" Aya nampak terkejut dengan ucapan putranya. Namun bila itu membuat putranya dapat melupakan kesedihannya, Aya akan merestui mereka.
__ADS_1
***