Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
(season 2) bab 5


__ADS_3

"Hai, Richie. Aku tidak menyangka Kau akan datang." Moza kini duduk di sebrang sofa.


"Maaf kemarin malam Aku tidak bisa datang, Za. Kau tahu kan, sekarang Aku harus vakum dari dunia hiburan. Aku harus meneruskan bisnis Papa di Korea." ucap Richie. Namun pandangan matanya menatap ke seluruh ruangan seolah sedang mencari keberadaan seseorang.


"Aku tahu, bukankah Kau juga bertunangan dengan orang Korea? Aku mendengar beritanya. Kau harus mengundang kami ke pesta pernikahan mu nanti Rich."


Richie tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya. "Aku mengundur pernikahan ku, Za. Aku ingin mendalami bisnis yang sedang ku kelola dahulu." Wajah Richie nampak begitu murung ketika membahas tentang pernikahannya.


Moza mengerutkan keningnya. "Mengundurnya? Kenapa Aku merasa Kau sama dengan Dea. Kalian berekspresi sama ketika Aku menyinggung tentang pernikahan. Saat ini Papa sedang menjodohkan Dea dengan seorang pria. Tapi Dea mengatakan dia tidak ingin menikah, padahal mereka pasangan yang serasi. Mereka juga sudah dekat dalam beberapa hari ini," ucap Moza. Namun itu membuat Richie terdiam. Dadanya begitu sesak mendengar Dea yang tengah dekat dengan seorang pria. Andai saja ia mampu menggapai cinta Dea. Namun itu tak mungkin, karena sangat sulit untuk menggapai cinta Dea. Apalagi Dea yang selalu berkata ketus padanya.


Pandangan Richie teralihkan pada dea yang menuruni anak tangga. Gadis itu nampak begitu cantik. Lama tak bertemu membuat Dea terlihat begitu cantik menurut Richie.


Moza mengikuti arah pandang Richie. Lalu ia memutar kepalanya menoleh pada Dea.


"Dea, mau kemana? Kau terlihat begitu cantik hari ini." tanya Moza.


"Aku ingin membelikan oleh-oleh untuk Celine, Za. Besok Aku harus kembali." ucap Dea.


Moza terkejut, pasalnya Dea mengatakan akan kembali ke Indonesia bersama Moza satu Minggu lagi. "Bukankah Kau waktu itu mengatakan akan ikut pulang bersamaku satu Minggu lagi?"


"Maafkan Aku, Za. Tapi ada pekerjaan mendadak di kantor. Dan Aku tidak ingin merepotkan Celine." kilah Dea.


"Kau pergi dengan siapa, Dea? Aku akan mengantarmu." ucap Richie.


"Tidak usah, Aku sudah minta tolong kepada Arsen untuk menjemput ku," ucap Dea.


"Arsen?"


Bunyi klakson mobil terdengar dari halaman rumah. "Itu mobilnya sudah datang. Za, Aku pergi dulu ya."

__ADS_1


Moza mengikuti langkah Dea untuk mengantar Dea keluar rumah. Sementara Richie menuju ke arah jendela. Ia terkejut saat melihat Arsen menjemput Dea. Dia adalah Arsen sahabat sepupunya. Richie melihat Arsen yang tersenyum hangat saat Dea menghampirinya, dan itu membuat dadanya begitu gusar.


Kenapa Richie begitu tidak suka ketika melihat Arsen begitu akrab dengan Dea dan Moza?. Sementara saat dirinya melihat Hye jin dekat dengan banyak pria ia hanya bersikap biasa dan masa bodoh.


Richie begitu cemburu melihat kedekatan Arsen dan Dea, sangat-sangat cemburu.


***


Richie kembali ke apartemen miliknya yang pernah ia tempati dulu. Otaknya di penuhi dengan pertemuan Arsen dan Dea.


Richie menarik dasinya kasar lalu melemparkannya begitu saja. Ia mengambil minuman alkohol yang ia koleksi. Kemudian ia menuangkannya ke dalam sebuah gelas.


Dengan kasar Richie meneguk minuman tersebut, lalu meletakkan gelas itu pada tempatnya. Pandangannya kosong saat ini. Bayangan Arsen dan Dea terus terngiang-ngiang di otaknya. Ia menerka apa saja yang mereka bicarakan dan lakukan.


Ponselnya berdering membuatnya tersadar dari lamunannya. Nama Hye jin tertera di layar ponselnya. Richie begitu malas untuk mengangkat panggilan tersebut. Namun ponsel itu tak berhenti untuk berdering, akhirnya ia pun dengan emosi mengangkat panggilan tersebut.


"Richie, kenapa Kau ke Singapore tidak memberitahu ku?"


"Aku sudah meminta izin aunty dan juga nenek. Aku sudah memberitahu mereka, lalu untuk apa Aku memberitahu mu lagi?" Richie meneguk kembali sisa alkohol dalam gelasnya.


"Richi...!" Terdengar suara Hye jin yang terdengar marah. "Apa Kau ke sana untuk menemui wanita itu?" Hye jin tahu bahwa Richie menyukai wanita yang berasal dari sana. Richie sering sekali menyebut nama Dea ketika mereka sedang bertengkar.


"Kau belum menjadi istri ku. Jangan bersikap seolah Kau sudah menjadi istri ku, Hye jin. Kita belum menikah, jadi jangan pernah mencampuri urusan hidupku, Aku sangat membenci itu!"


"Kau selalu saja seperti ini, Richie. Kau tidak selalu saja tidak pernah bersikap baik sedikitpun kepada ku. Bukankah Aku hanya bertanya? Aku juga tidak pernah mencampuri masalah mu. Bahkan Kau mengundur pernikahan kita tanpa bertanya kepada ku. Aku tidak protes dengan semua itu. Lalu saat ini Aku hanya bertanya kepadamu, apakah itu salah?!"


"Ya,itu sangat salah. Semua tentang mu sangat salah. Kesalahan terbesarmu adalah masuk kedalam kehidupan ku. Jadi Kau harus menerima konsekuensinya. Jika Kau tidak suka dengan semua ini,maka Kau silahkan pergi!" Richie mengakhiri panggilan secara sepihak sebelum Hye jin membalas ucapannya.


Gelas yang ia pegang menjadi sasarannya. Richie melempar gelas itu hingga pecah berantakan. Richie sungguh merasa kacau. Ia tak dapat mengontrol emosinya dengan baik.

__ADS_1


"Ada apa ini, Richie?" Suara seorang pria paruh baya tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Ia menatap ke seluruh ruangan yang nampak begitu kacau.


Pandangan Richie teralihkan pada pria paruh baya yang berjalan menghampirinya dan menghindari pecahan gelas yang ada di lantainya.


"Uncle." Ya, dia adalah Uncle Richie yang bernama Gemal. Dia adalah suami dari Rebecca, Aunty Richie. Gemal begitu menyayangi Richie seperti putranya sendiri, mengingat dirinya yang tidak memiliki seorang anak.


"Maaf Uncle, apartemen ku begitu berantakan. Aku tidak sengaja menyenggol gelas itu hingga pecah. Kenapa Uncle kemari tidak memberitahu ku?"


"Kau pulang ke Singapore juga tidak memberitahu Uncle mu ini. Bahkan Uncle tahu dari aunty mu. Itu sebabnya Uncle langsung datang kemari."


"Maafkan Richie, Uncle. Aku lupa memberitahu uncle." Richie tersenyum, namun sepersekian detik senyum itu kembali sirna.


Uncle Gemal memperhatikan wajah Richie yang tidak bisa membohonginya. "Apa Kau mempunyai masalah, Nak?" Kemudian Uncle Gemal menepuk pundak Richie dan mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Tidak ada, Uncle."


"Kau tidak bisa membohongi Uncle. Selama ini Uncle yang sudah membesarkan mu, jadi Uncle tahu jika Kau berbohong. Katakan,apa masalahmu, Nak."


"Memangnya siapa lagi jika bukan Hye jin, Uncle." Richie mendesah mengucapkannya.


"Memangnya kenapa dengan Hye jin?"


"Sebenarnya Aku begitu malas menikah dengannya, Uncle. Dia selalu saja bersikap posesif padaku. Dia selalu bertanya kemana Aku dan dimana Aku saat ini. Aku benar-benar terganggu dengan itu."


"Itu karena Hye jin mencintaimu, Nak."


"Tapi Aku tidak pernah mencintainya, Uncle. Tapi nenek dan Aunty...." Ucapnya terhenti dengan kembali mendesah kan nafasnya.


***

__ADS_1


__ADS_2