Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 117


__ADS_3

"Bagaimana Kau bisa yakin kalau yang Kau rasakan pada Via hanya sekedar rasa kagum, Rey?" tanya Moza masih dalam pelukan Rey. Namun kali ini mereka tengah berada dalam mobil Rey.


Rey tersenyum dan menceritakan tentang perasaannya. Bibirnya tak hentinya mengecup kening Moza.


"Apa Kau ingat ketika Aku dan Via bertemu di cafe waktu itu?"


"Emm... Aku mengingatnya. Mana mungkin Aku melupakan kebohongan mu?" Moza sedikit mengerucutkan bibirnya. Rey tersenyum lalu kembali melahap bibir manis Moza dan melepaskannya.


"Jangan marah dulu, dengarkan Aku. Waktu itu Via menyadarkan ku bahwa perasaan ku padanya bukanlah cinta. Dan setelah Aku mengerti perasaanku yang sebenarnya, ternyata perasaan ku padanya hanya rasa kagum. Dan juga sebuah obsesi untuk memiliki dirinya." Rey mengusap lembut rambut Moza.


"Obsesi?"


"Ya, berbeda dengan yang ku rasakan denganmu Za. Aku rela melepaskannya, namun Aku tidak pernah rela ketika Kau pergi dari hidupku. Aku sudah memikirkan ini beberapa hari ini. Ternyata Aku adalah pria bodoh yang terlambat menyadari perasaan ku sendiri," ucap Rey tertawa.


"Ya, Kau bodoh. Dan entah mengapa, Aku tidak pernah bisa berhenti untuk mencintai pria bodoh ini," sahut Moza. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


Mereka saling berpelukan dalam mengungkapkan sebuah rasa. Lalu Moza mendongak.


"Aku mau mengambil cuti untuk beberapa hari," ucap Moza membuat Rey mengerutkan keningnya.


"Kenapa? Aku tidak ingin meninggalkan ku Za," Rey memasukkan Moza kembali kedalam pelukannya.


"Aku tidak bisa Rey, Aku akan tetap mengambil cuti untuk beberapa hari kedepan. Apa Kau tidak melihat berita yang beredar? Mereka selalu mengejar ku."


Rey terdiam. Ia mengingat foto-foto Moza bersama Richie yang beredar di media. Mereka terlihat begitu romantis. Dan itu membuat Rey begitu cemburu.


"Jelas saja mereka selalu mengejar mu. Kau dan aktor itu terlihat begitu romantis," ucap Rey menahan cemburunya.


Moza mendongak menatap wajah Rey yang saat ini sedang di tekuk. Ia tersenyum, lalu ia mencium pipi Rey. "Apa Kau cemburu Rey?"


"Tentu saja Aku sangat cemburu. Kau adalah gadisku, milikku."


"Kau tenang saja. Aku tidak pernah menghadirkan sebuah perasaan cinta untuknya, karena cinta ini hanya untuk mu Rey," celetuk Moza.


"Kenapa saat ini Kau menjadi pandai merayu hum?" Rey tersenyum dan kembali mencium bibir Moza. "Aku akan melamar mu secepatnya Za. Aku ingin menjadikan mu sepenuhnya milikku." ucapnya setelah melepas pagutannya.


Mendengar ucapan Rey, membuat Moza begitu bahagia. Ia akan memberikan kesempatan untuk Rey untuk kedua kalinya.


***


Moza memutuskan untuk cuti dan disetujui oleh Rey. Tentu saja Rey menyetujuinya. Rey mengajak Moza untuk kembali ke Singapore untuk beberapa waktu.


Akhirnya mereka telah sampai di kota mereka. Rey mengantar Moza ke rumah orang tuanya. Sementara ia kembali ke rumah orangtuanya juga. Rey ingin mengatakan kepada keluarga bahwa ia akan melamar Moza.

__ADS_1


Dan semua itu membuat keluarganya begitu bahagia dan juga sangat lega. Akhirnya perjodohan yang telah mereka rencanakan telah berhasil.


Keesokan harinya...


"Kau mau kemana nak? Rapi sekali," tanya sang Mama ketika melihat Rey tengah bersiap akan pergi.


"Tadi Moza menyuruhku untuk menjemputnya Mam," ucap Rey.


Mama tersenyum. " Yasudah, kalau begitu cepat sana, nanti calon menantu Mama terlalu lama menunggu."


"Siap Mam," ucapnya dan segera menuju rumah Moza.


Rey memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah keluarga besar Moza. Kemudian ia segera turun dan berjalan menuju pintu. Ia mengetuk pelan pintu tersebut.


Pelayan hendak membuka pintu tersebut, namun suara Moza menghentikannya.


"Biar Aku saja yang membukanya bik," ucap Moza. Pelayan tersenyum mengangguk, lalu ia kembali ke belakang. Moza sedikit merapikan rambutnya sebelum membuka pintu tersebut. Ia tahu yang mengetuk pintu adalah Rey.


Pelan, tangannya mengulur dan membuka pintu itu. Pintu terbuka dan menampilkan Rey yang sedari ia tunggu. Rey langsung menyambutnya dengan senyuman. Menyapa Moza dengan senyum hangatnya.


"Selamat pagi," sapanya.


"Pagi," balasnya, "silahkan masuk Rey," ucap Moza mempersilahkan Rey untuk masuk. Rey mengangguk pelan dan melangkah untuk masuk. Kemudian ia duduk di kursi dan Moza duduk di seberangnya.


"Hai Nona." Rey menatap Moza.


"Kenapa Kau malah duduk di situ?" Rey berkomentar. Bukankah seharusnya mereka duduk berdampingan?


Moza mengerutkan keningnya, namun beberapa detik kemudian ia paham dengan maksud Rey.


"Mengapa? Kau masih bisa kan melihat ku dari sana, Rey?" Tanyanya dengan sengaja.


"Tapi Aku tidak biasa menggenggam tangan mu," jawab Rey dengan cepat.


"Tapi Kau masih bisa melihat ku, Rey."


"Tapi Aku tidak bisa menyentuh mu Za."


"Melihat saja sudah cukup, Rey."


"Buatku tidak akan pernah cukup Za," ucap Rey. Perdebatan mereka terhenti ketika Mama keluar. Rey segera berdiri dan membungkukkan badannya.


"Selamat pagi Tante," sapa Rey dengan ramah.

__ADS_1


"Selamat pagi nak Rey," ucap Mama Azki tak kalah ramah.


"Kita bareng Mama tidak apa-apa kan, Rey?" tanya Moza.


Rey mengangguk. "Tidak masalah," jawab Rey. Kemudian, mereka bertiga menaiki mobil Rey. Moza dan Mama Azki duduk di kursi penumpang.


Ponsel Moza bergetar tanda pesan masuk ke ponselnya. Ia segera membukanya.


'Kau cantik sekali hari ini, Sayang' sebuah pesan yang dikirim oleh Rey. Dan itu membuat bibir Moza tersenyum, pipinya memerah. Moza mengangkat wajahnya dan menatap ke arah spion. Ada mata Rey yang saat ini tengah memperhatikannya.


Moza mengalihkan pandangannya, ia tidak ingin Mamanya mengetahuinya. Ia segera mengirimkan pesan kepada Rey.


'Aku memang cantik setiap hari' balas Moza dengan PD. Ia mengirimkannya kepada Rey.


'Tentu saja, Kau adalah kekasihku, pastinya Kau sangat cantik' balas Rey lagi.


Membuat Moza tersenyum dan semakin merona. Ia kembali menatap kearah spion, mata mereka bertemu.


Sementara Mama Azki hanya berpura-pura tidak melihat tingkah keduanya. Ia menyesal karena telah ikut serta bersama mereka.


Sesampainya di mall. Rey memarkirkan mobilnya dan mereka turun bersama. Mama segera turun dan melangkah. Sementara Moza turun dengan sangat lambat, hingga posisi Mama berada di depannya. Rey juga memperlambat langkahnya dan berjalan di samping Moza.


Rey mengulurkan tangannya dan meraih tangan Moza. Menggenggamnya erat di belakang Mama. Moza menahan senyumnya dan membalas genggaman tangan Rey. Mereka berdua melangkah dengan saling bergandengan.


Moza melepaskan genggamannya ketika mereka hendak menaiki lift. Ia tidak ingin Mama melihat genggaman tangan itu. Karena saat ini mereka juga hanya bertiga saat menaiki lift itu.


Dan lagi, Mama kembali berdiri di depan mereka, sementara Rey dan Moza berdiri di belakang Mama. Sebenarnya Mama tahu apa yang sedang dilakukan keduanya. Mama pernah muda dan Mama pernah merasakan jatuh cinta.


Kedua tangan itu kembali bertemu, saling menggenggam dengan manis. "Sayang, Aku sangat merindukanmu," bisik Rey. Sontak membuat Moza kembali merona.


Tak berapa lama kemudian, pintu lift terbuka. Mereka segera melangkah keluar.


Mama berhenti berjalan, membuat keduanya juga berhenti dan saling melepaskan genggaman. Mereka takut ketahuan jika Mama menoleh ke belakang.


Dan benar saja, Mama membalikkan badannya ke belakang. Menatap keduanya saling bergantian.


"Kalian pergi saja, biar Mama nanti memesan taksi. Sepertinya kalian memiliki urusan yang penting," ucap Mama dan di angguki oleh Rey, namun Moza menggeleng.


Mama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya. "Nak, Mama titip Moza ya, selamat bersenang-senang," ucap Mama membalikkan badannya dan berjalan menuju butik langganannya dengan menahan tawanya.


Moza menatap Rey tajam, namun di balas senyum manis oleh Rey.


"Kau membuatku malu di depan Mama, Rey," ucap Moza.

__ADS_1


"Mama pasti mengerti, Sayang. Mama juga pernah muda," sahut Rey. Lalu ia kembali meraih tangan Moza dan kembali menggenggamnya hangat. Rey mengajak Moza untuk berjalan-jalan.


***


__ADS_2