
Bintang menelan ludahnya, ia memperhatikan wajah Via yang nampak begitu sedih. Ia tahu, dirinya sangat bersalah di masa lalu. Bintang berdiri dan mengalihkan dirinya di depan tepat di depan Via.
Bintang berlutut dan menggenggam hangat tangan Via. Ia menatap Via dengan penyesalan yang mendalam.
"Apa yang Kau lakukan? Lepaskan!" Via mencoba untuk melepaskan tangannya, namun Bintang menggenggamnya erat.
"Sayang, Aku minta maaf padamu...," ucap Bintang begitu tulus.
"Minta maaf untuk Apa? Kau sama sekali tidak bersalah, Tuan Bintang. Dari awal Aku yang salah karena sudah berani mencintai mu," ucap Via tertunduk.
"Kau tidak salah Sayang. Aku yang bersalah. Aku sangat bersalah kepadamu, Aku terlalu sering menyakitimu, Aku terlalu sering mengabaikan mu. Sayang, maafkan Aku...," Bintang mengatakan dengan suara tertahan.
Via masih mengingat, Bintang pernah sangat baik padanya, hingga menganggapnya suaminya juga memiliki perasaan yang sama sepertinya. Namun Bintang berkali-kali mengecewakan dirinya.
Via tidak mau lagi percaya, ia tidak ingin membiarkan Bintang memberikan sebuah harapan yang semu lagi pada hatinya.
"Baiklah, Aku memaafkan mu, Bi." Bintang tersenyum mendengar Via memaafkan dirinya.
__ADS_1
Namun Via segera berdiri. "Aku ingin secepatnya Kau mengurus surat perceraian kita," ucap Via singkat. Namun itu membuat Bintang terkejut.
Via menepis tangan Bintang yang masih menggenggamnya. Mungkinkah ia akan benar-benar kehilangan istrinya?
"Jadi Kau benar-benar ingin berpisah dengan ku? Apa Kau tidak mencintai ku lagi, Via?"
"Kenapa Kau begitu yakin bahwa selama ini Aku masih mencintaimu? Aku membencimu, sangat membencimu!" Via berkata berlawanan dengan hatinya. Ia menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tidak ingin tertipu lagi dengan Bintang.
"Apa Kau bahagia kita berpisah?" Bintang berkata dengan menundukkan kepalanya.
Bintang membenci ini. Via tidak bahagia bila bersamanya. Ucapan Via benar-benar membuat hatinya begitu sakit. Bintang berpikir ia pantas mendapatkan ini. Bintang selalu saja menyakiti Via, dan mungkin ini adalah karma untuknya.
"Kalau dengan bersamanya Kau akan bahagia, maka Aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan melepaskan mu, Via." Bintang berkata dengan menahan jutaan rasa perih dalam hatinya. Kini ia menjadi pria yang begitu rapuh. Dan gadis di depannya lah yang membuatnya seperti itu.
Perlahan Bintang melepaskan genggaman tangannya. Ia tak mampu menatap gadis di depannya. Bintang kini membalikkan badannya.
"Aku akan mengantarkan mu pulang," ucap Bintang datar.
__ADS_1
Bintang menatap Bintang yang kini membelakanginya. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Ia tidak ingin Bintang kembali menyakitinya lagi dengan meminta perceraian. Namun, ia rasanya juga tidak rela Bintang melepaskan genggaman tangannya. Kenapa cinta begitu rumit? Hingga Via tidak tahu bagaimana bersikap saat ini.
***
Kini Bintang mengemudikan mobil Via menuju ke rumah sakit. Tidak ada sedikitpun percakapan antara Bintang dan Via. Keduanya saling diam, sama-sama merasakan hatinya yang bergemuruh karena cinta.
Ketika hampir sampai di rumah sakit, suara Via memecah keheningan diantara mereka.
"Bisakah kita ke sekolah Er sebentar," ucap Via tanpa menatap kearah Bintang.
Sekilas Bintang menatap Via yang menatap lurus ke depan.
"Baiklah. Aku juga ingin bertemu dengan putraku."
Seketika Via menatap Bintang. Apakah pria itu akan mengambil putranya seperti apa yang ia katakan beberapa tahun silam? Via menjadi begitu takut Bintang akan melakukannya.
***
__ADS_1