Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 77


__ADS_3

Sore harinya...


"Ma...pa..., Dimana kak Bi? Dia datang bukan? Kak Bi membawa Via kan Mam?" Eve mencerocos begitu saja. Kini di belakangnya ada suaminya yang tengah menggendong putrinya.


"Mereka baru saja naik ke atas, kalian jangan mengganggunya." Mama berucap.


Beberapa saat kemudian, Bintang berjalan dengan tergesa menuruni anak tangga.


"Kebetulan sekali," ucap Bintang. Ia kemudian menarik Eve untuk mendekat. "Apa Kau membawa pembalut mu Eve?"


Semua orang saling berpandangan mendengar pertanyaan Bintang kepada Eve. Lalu mereka semua terbahak-bahak.


"Wah, sepertinya ada yang gagal memberi adik untuk Er nih." Mama menggoda Bintang.


"Ah, kan cuma beberapa hari saja Mam, Mama tenang saja, setelah selesai nanti, Bintang akan berusaha keras membuat adik untuk Er." Ucap Bintang de selingi tawanya.


Bintang segera kembali setelah Eve memberikan pembalut miliknya. Bintang langsung menyerahkannya kepada Via yang sudah menunggunya di bathroom.

__ADS_1


Bintang menatap tajam Via, ia berpikir bukankah beberapa hari lalu istrinya mengatakan bahwa tengah palang merah?


"Sayang, jadi Kau membohongiku tentang palang merah mu beberapa hari lalu?" tanyanya dengan menyipitkan matanya.


Via menatapnya dengan nyengir. Akhirnya ia ketahuan berbohong. "Hehehe...."


Bintang mengusap wajahnya kasar, ia sudah melewatkan kesempatan untuk membuat adik Er. Melihat itu, Via terkikik, kemudian ia mendorong pelan suaminya agar keluar dari bathroom.


Dengan tak bersemangat, Bintang melenggang duduk di sofa. Ia mulai menyalakan televisi untuk mengusir rasa kesalnya.


Via keluar dari kamar mandi, lalu ia mendudukkan dirinya di samping Bintang yang menonton televisi. Via hanya memperhatikan televisi sebentar, lalu ia menidurkan tubuhnya di sofa menggunakan paha suaminya sebagai bantalannya. Ia mulai memainkan kancing baju suaminya.


"Tidak, mana mungkin Aku kesal dengan mu Sayang. Kita bisa melakukannya setelah palang merahmu selesai. Dan di saat itu Aku tidak akan melepaskan mu sedikit pun." Bintang menatap wajah Via dengan senyuman menggoda. Namun Via malah begidik membayangkannya. Via menelan salivanya.


"Apa Kau mau menonton Drakor Sayang?" tanya Bintang, tapi Via menggeleng.


Bintang mengusap lembut rambutnya. Namun ponsel Via bergetar, dan itu pesan dari Resya. Via mengusap layar ponselnya dan membaca pesan tersebut.

__ADS_1


"Via, apakah kalian sudah sampai di Indonesia? Bagaimana dengan Er? Maafkan Aku karena Aku tidak berpamitan Kepadanya, Aku tidak ingin membuat hatiku berat untuk meninggalkan kalian." Isi pesan dari Resya.


"Kami sudah sampai di Indonesia, dan Er juga sempat menanyakan mu. Tapi sekarang dia begitu bahagia karena Daddy nya sering mengajaknya bermain." balas Via, lalu ia meletakkan ponselnya kembali.


Namun ponselnya kembali bergetar, namun Via enggan membalasnya lagi. Via tahu walaupun Resya berkata ia mengikhlaskan dirinya bersama Bintang, namun hati pria itu tetap menginginkannya. Via tidak ingin memberikan sebuah harapan kepada pria manapun. Hanya Bintang yang ada di hatinya, hanya suaminya.


"Dari siapa Sayang?" Bintang bisa menebak itu dari Rey. Namun ia berpura-pura tidak mengetahuinya. Ia ingin tahu selama beberapa tahun ini, bagaimana perasaan istrinya terhadap Rey. Salahkah jika Bintang ingin tahu?


"Sayang...," Bintang memanggilnya pelan. Ia menunduk menatap istrinya.


"Hemm..."


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, apa Kau tidak keberatan untuk menjawabnya?"


"Apa?" Via membalas pandangan suaminya.


"Bagaimana hubunganmu selama ini dengan Resya? Bolehkah Aku mengetahui hubungan antara kalian? Apakah Kau pernah mencintainya?" Bintang bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


***


__ADS_2