
"Aku tidak akan membiarkan mu mengambil putraku. Kau boleh menemuinya, tapi tidak untuk merebutnya dariku. Kau sudah bersama dengan seorang yang Kau cintai." Via berkata dengan begitu lugasnya. Ia masih belum mengetahui bahwa Bintang sudah tidak berhubungan dengan Alesha lagi.
"Tapi dia juga putraku, dan Aku berhak atasnya."
Via menatapnya tajam, ia hendak berkata, namun mobil itu telah sampai di sekolah Er.
"Kita sudah sampai," ucap Bintang. Ia segera keluar dari mobil itu. Bintang tak ingin berdebat dengan Via.
Via pun segera keluar. Ia takut Bintang akan membawa putranya. Dia pun mendahului Bintang memasuki sekolah putranya.
Melihat Via yang berjalan cepat di depannya, membuat Bintang menatap punggung Via dengan begitu sendu.
Via hampir sampai di depan ruang kelas Er. Ia segera mengubah wajahnya menjadi tersenyum.
Via menatap ke dalam kelas. Hanya ada beberapa anak saja di sana. Mungkin yang lainnya sudah di jemput oleh orang tuanya.
Namun pandangannya tercekat saat melihat seseorang yang kini tengah bermain bersama putranya di dalam sana. Via pun berdiri mematung di depan kelas putranya.
__ADS_1
Melihat Via yang nampak terdiam, Bintang mendekatinya.
"Dimana Er?" Bintang berucap tepat di belakang Via. Pandangannya menatap kedalam kelas itu. Bintang terkejut melihat seseorang yang ia kenal berada di dalam sana tengah bermain dengan putranya.
"Resya...?"
Via mengerutkan keningnya menatap Bintang. Karena Bintang menyebutkan nama tunangannya.
"Mommy...," Suara Er membuat Bintang dan Via menatap ke arahnya.
"Paman sedih ada di sini?" ucap Er ketika melihat Bintang di samping Mommy nya. Er memanggil Bintang Paman sedih, karena setiap bertemu dengan Bintang, pasti Er selalu melihat kesedihan di wajah Bintang.
"Bintang, bagaimana Kau bisa berada di sini, kawan? Sungguh suatu kebetulan. Apa kalian datang bersama? Kalian saling mengenal?" Rentetan pertanyaan Resya lontarkan kepada Bintang. Ia menatap Bintang dan Via bergantian.
Keduanya terdiam. Bibir keduanya seolah begitu kelu untuk menjawab pertanyaan Resya. Via bingung ingin berkata apa. Sementara Bintang menerka-nerka hubungan Resya dengan Via.
"Sayang...," Resya menggenggam tangan Via dan membawanya ke sampingnya. Via mengalihkan pandangannya dari Bintang ketika Bintang nampak terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Bi, karena kita sudah bertemu, maka Aku akan memperkenalkan calon istriku kepadamu. Dia adalah gadis yang ku ceritakan selama ini. Namanya Maura, dan kami akan menikah satu bulan lagi," ucap Resya dengan bersemangat.
Bintang tertegun, hatinya semakin sakit mendengar penuturan dari sahabatnya. Kenapa harus sahabatnya yang menjadi calon suami Via? Apakah dia akan benar-benar kehilangan istrinya? Hatinya menjadi gusar, namun Bintang berusaha memperlihatkan senyum. Senyum yang teramat sakit.
"Jadi dia calon istri mu? Kalau begitu selamat, Rey. Aku mendoakan kebahagiaan kalian," ucap Bintang menahan pilunya.
"Maaf, Aku harus segera pergi. Ada pekerjaan penting yang harus ku selesaikan," ucap Bintang berusaha untuk menghindari mereka. Sudah di pastikan ia tidak akan mampu menahan luka hatinya bila harus menyaksikan mereka. Ia pun mulai melangkahkan kakinya dan membelakangi mereka.
"Paman...." Suara Er memanggil Bintang dan menghentikan langkahnya. Bintang enggan untuk menoleh, karena saat ini air matanya hampir menetes. Ia terkejut ketika tubuh kecil Er menghadangnya di depannya.
"Nak....," Bintang berjongkok agar tubuhnya sejajar dengan putranya.
"Paman, kenapa wajah Paman masih sedih? Apa paman mau Er peluk?" ucap Er. Sedari tadi Er terus memperhatikan wajah Bintang yang nampak begitu sedih.
***
Belum crazy up ya 🤭, masih nunggu balasan genks 😁. Jangan lupa like dan komentar di setiap bab ya 😊, kalau lupa, manjat ke atas lagi yah😂...
__ADS_1