
Rey dan Moza menepati janjinya untuk menjemput Er pagi ini. Mereka akan mengajak Er untuk menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan.
"Jangan nakal sama uncle dan aunty ya Sayang," pesan Via ketika mobil Rey akan meninggalkan halaman rumahnya.
"Okey Mom," jawab Er. Dan akhirnya mobil itu telah pergi dari hadapannya. Bintang dan Via melambaikan tangannya menatap mobil Rey yang perlahan mulai menghilang.
"Sayang, Aku berangkat ke kantor dulu, Kau baik-baiklah di rumah." ucap Bintang mengecup kening Via.
Namun Via terdiam, ia ingin mengatakan sesuatu kepada suaminya. "Emm... Sayang...," ucapnya ragu.
Bintang mengerutkan keningnya melihat keraguan di wajah istrinya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya dan tersenyum hangat. "Ada apa cintaku, apa ada yang mengusik hatimu? Katakan."
"Aku ingin membantu Paman Gio di rumah sakit kota, bolehkah?" tanyanya hati-hati.
Bintang nampak berpikir, lalu ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, kalau begitu kita bisa berangkat bersama," ucap Bintang membuat Via tersenyum senang.
"Baiklah, terimakasih Sayang," ucapnya, lalu ia mendekatkan dirinya dan mencium pipi Bintang. "Aku akan mengambil tas sebentar." Via hendak pergi dari sana, namun Bintang menghentikannya dan menarik istrinya kedalam pelukannya.
"Aku tidak ingin Kau mencium di pipi, cium di sini," Bintang menunjuk ke arah bibirnya.
Via tersenyum, lalu mereka berciuman beberapa saat setelahnya Bintang melepaskan ciuman itu.
"Kalau pagi ini tidak ada meeting, pasti Aku akan memakanmu Sayang." ucap Bintang.
Via mencubit pelan lengan suaminya. "Kau itu mesum sekali Tuan suami," ucapnya, lalu ia berlari kecil meninggalkan Bintang ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.
Bintang tersenyum menatap istrinya yang memasuki rumahnya. Ia selalu tidak bisa menahan libidonya ketika berada di dekat istrinya.
"Aku sudah siap," ucap Via ketika keluar dari rumah. Bintang mengangguk.
Tak berapa lama kemudian, mobil Bintang sampai di rumah sakit kota. "Nanti Aku akan menjemputmu," ucap Bintang.
"Aku akan menunggumu Tuan suami," ucap Via tersenyum, lalu ia melambaikan tangannya kepada suaminya. Hingga mobil Bintang meninggalkan tempat itu.
***
Setelah selesai mengantarkan istrinya, Bintang menuju kantornya.
"Bos, Tuan Sandy sudah menunggu di ruangan meeting." ucap Bimo memberi tahu Bintang.
Bintang mengangguk, lalu ia segera berjalan menuju ruang meeting. Namun tiba-tiba Bintang merasa begitu mual.
Bintang menatap Bimo dengan kesal. "Apa pagi ini Kau tidak mandi?" tanyanya pada Bimo. Ia paling benci jorok dan kotor
"Mandi bos," jawab Bimo. Ia mengendus dirinya sendiri. Bahkan ia mencium ketiaknya sendiri. "Wangi...," batinnya. Kenapa bos-nya mengatakan dirinya tidak mandi?
"Menyingkirlah Bim, Kau begitu bau!" ucap Bintang semakin mual dengan bau Bimo.
__ADS_1
"Baik," ucap Bimo patuh. Dia membalikkan badannya dan kembali mencium aroma tubuhnya. "Wangi...," Batinnya. Sepertinya hidung bosnya harus di periksakan, Bimo tertawa kecil.
"Kau menertawakan apa Bim!" Bentak Bintang. Asisten Bimo menghentikan langkahnya. Bagaimana bosnya tahu kalau dirinya tengah tertawa diam-diam?
"Saya tidak tertawa bos," ucap Bimo gelagapan. Ia menundukkan wajahnya.
"Tubuhmu bergetar Bim, Kau pikir Aku tidak mengetahui kalau Kau sedang tertawa?!" Bintang meninggikan suaranya, membuat Bimo diam tak berkutik.
"Mana berkas untuk meeting!" ucapnya kembali.
Bimo menyerahkan berkas itu dengan sedikit ketakutan. Bos-nya hari ini terlihat begitu menyeramkan.
"Jangan mengikuti ku, Aku akan meeting sendiri pagi ini!" Perintahnya.
"B-baik bos," jawab Bimo dengan gagap.
'mimpi apa Aku semalam hingga mendapatkan omelan bos'
Bimo memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Namun baru beberapa langkah, suara Bintang kembali terdengar memanggilnya.
"I-iya bos...," Bimo membalikkan badannya.
"Kau harus mandi lagi sekarang!" ucap Bintang dengan meninggikan suaranya. Entah mengapa melihat asisten Bimo membuatnya begitu kesal.
Asisten Bimo hanya terdiam, ia ingin membela dirinya, namun ia tidak seberani itu.
Bimo rasanya ingin pingsan mendengarnya. Bosnya sampai mengancamnya hanya karena itu.
"B-baik bos."
"Lakukan!"
"B-baik bos...," ucap Bimo dengan lemas. Ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke ruangannya.
"Permisi bos," ucapnya, Bintang hanya mengangguk dan menatapnya tajam.
***
"Hey, apa Aku bau?" tanya Bimo pada karyawan lainnya.
"Tidak," jawab karyawan lain setelah mengendus tubuh Bimo.
"Baiklah, terimakasih," ucap Bimo kemudian segera pergi. Bimo menanyakan juga kepada karyawan yang ia temui, namun mereka juga tidak mengatakan bahwa dirinya bau. "Sepertinya hidung bos benar-benar harus di periksa," batinnya lagi.
Bimo segera melakukan perintah Bintang untuk mandi. Untungnya apartemennya dekat dengan kantor. Jadi dengan cepat ia segera kembali ke kantornya setelah mandi ulang.
Bintang kembali memanggilnya setelah beberapa saat ia kembali ke kantor. Bimo segera ke ruangan Bintang, ia tidak ingin mendapatkan omelan lagi.
__ADS_1
Bimo berdiri sebentar sebelum memasuki pintu ruangan bosnya. Ia melafalkan segala macam doa berharap Bintang tidak memarahinya lagi.
Pelan, Bimo membuka pintu ruangan bosnya. Namun Ia tak menemukan Bintang di tempatnya. Bimo hanya menunggu. Mungkin Bintang berada di kamar mandi. Beberapa saat kemudian Bintang keluar dari kamar mandi dengan menampilkan wajah pucat dan keringat yang mengucur dari dahinya.
"Bos, apa Anda baik-baik saja?" tanya Bimo kala melihat wajah pucat Bintang.
Namun Ia tak berani mendekati Bintang, ia takut bosnya akan mengatainya bau lagi.
Bintang tak menjawab, ia menuju ke sofa dan duduk menyenderkan tubuhnya seraya memejamkan matanya sejenak.
'Apa ini karena dia terlalu lelah bergelut dengan istrinya semalaman?' batinnya.
"Bos, Anda terlihat begitu pucat, apakah harus saya panggilkan dokter?" tanya Bimo.
"Tutup mulutmu Bim. Diamlah, Kau membuatku kepalaku sakit!" Bentak Bintang lagi. "Berikan berkas yang harus ku tandatangani."
Bimo mendekat dan memberikan berkas yang ia bawa, lalu ia memundurkan tubuhnya.
"Keluarlah...," ucapnya lagi. Asisten Bimo membungkuk dan kemudian segera pergi dari sana.
"Huft ..., Rasanya seperti memasuki kandang singa," ucap Bimo pelan.
Bintang kembali menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya. Ia merasa pusing tiba-tiba, mungkinkah karena dirinya kurang tidur semalam?
Bintang meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Via.
'Sayang, Aku merindukanmu' tulisnya pada pesanya. Tiba-tiba ia begitu merindukan istrinya. Bintang ingin istrinya berada di sana saat ini.
Via melihat satu pesan dari Tuan suami, ia mengembangkan senyumnya. Jarinya segera membuka pesan tersebut dan membacanya. Via tersenyum, lalu ia memfoto dirinya dan mengirimkannya kepada suaminya.
***
Sore harinya
Bintang memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia segera menjemput istrinya di rumah sakit.
"Selamat sore Paman," sapa Bintang pada Paman Gio. Paman Gio mengangguk.
"Apa Kau mau menjemput istri mu?"
"Ya, paman."
"Dia sedang bersiap untuk pulang. Masuklah ke dalam ruangannya." ucap Paman Gio. Lalu paman Gio menepuk pelan pundak Bintang dan segera pergi.
Bintang mulai melangkahkan kakinya. Namun Ia tersenyum ketika melihat istrinya yang sudah berjalan ke arahnya.
***
__ADS_1
hari ini author up 4 bab ya genks, tapi yang 2 panjang 😁🙏