Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 50


__ADS_3

Sampai di ruangannya, Maura langsung terduduk di kursinya. Ia begitu merasa penasaran dengan apa yang suster bicarakan tadi.


Akhirnya jarinya mulai mulai mengetik sebuah nama di pencarian. Ya, Maura juga sebenarnya begitu penasaran dengan Bintang. Lalu ia mengambil ponselnya. Dan kini pun banyak sekali informasi yang Maura lihat dari kolom pencarian tersebut.


Ia mulai membacanya dengan serius. Ia terkejut ketika membaca informasi yang mengatakan bahwa Bintang harus kehilangan istrinya karena suatu kecelakaan yang merenggut nyawa istrinya.


"Jadi dia tidak berbohong. Dia benar-benar kehilangan istrinya. Tapi kenapa dia menganggap Aku istrinya. Apakah karena dia terlalu merindukannya, jadi dia menjadi gila?" Via terus saja bergumam seraya melihat informasi itu. Lalu ia mulai mencari bagaimana wajah istri Bintang. Namun tak ada satu foto pun yang ada. Hingga ia pun kembali meletakkan ponselnya.


Via kembali terbayang saat bibir Bintang menempel sempurna di bibirnya. Maura memejamkan matanya. Namun ia kembali tersadar.


"Ah, Aku ini sebenarnya kenapa sih?! Kenapa Aku jadi membayangkan dia? Ingat Maura, Kau sudah memiliki tunangan, Kau akan menikah sebentar lagi...," ucapnya seraya menepuk kepalanya sendiri.


Namun bayangan saat Bintang menciumnya malah tidak terus saja menari indah di depan matanya. Menurut Maura, itu adalah ciuman pertamanya. Maura tidak dapat mengingat apapun tentang kehidupannya sebelumnya. Bahkan bersama tunangannya pun mereka hanya sebatas bergandengan tangan saja. Entah mengapa saat sang kekasih hendak menciumnya, Maura terus saja menghindar. Ia selalu beralasan bahwa akan melakukannya setelah menikah nanti.


Dan untungnya tunangannya adalah pria yang begitu penyabar dalam menghadapinya. Maura merasa beruntung mempunyai kekasih seperti Rey. Walaupun belum ada cinta yang tumbuh untuk pria itu, tapi Maura merasakan nyaman saat bersamanya.


Berbeda saat Bintang tiba-tiba saja memeluknya dan menciumnya. Ada sebuah desiran aneh dalam hatinya. Maura tidak tahu itu apa, tapi ia dapat merasakan sebuah kesedihan dan kerinduan dalam pelukan pria itu.


Maura terus saja menepisnya. Ia tidak ingin memikirkan pria itu lagi. Ia harus menghindarinya.


***


Sementara di ruang rawatnya, Bintang masih saja tidak mau makan. Hingga sore hari pria itu tidak menyentuh makanannya. Bintang bak anak kecil saat ini, seharian ia terus saja merajuk karena dokter Maura tak kunjung datang. Ia juga menolak dokter lain yang akan memeriksanya. Hingga seisi rumah sakit itu di buat geleng-geleng kepala melihat tingkah pemilik perusahaan yang terkenal menjadi seperti seorang anak kecil.


Semua itu apalagi kalau bukan untuk mendapatkan dokter Maura.


"Dokter, Tuan Bintang tidak mau makan seharian ini. Beliau terus saja meminta kami untuk memanggil Anda. Apakah Anda tidak mau menemuinya dok?" Suster kembali datang dan mengatakan hal yang sama sejak tadi pagi.


"Ada dokter lainnya. Dan Aku juga bukan dokter umum. Kau tahu kan sus?" Maura terlihat sedang sibuk mencatat sesuatu.


Sementara suster hanya menghela nafasnya. Pasien dan dokter sama-sama keras kepala. Kenapa dokter Maura tidak mengalah saja untuk memeriksa pasien itu? Dan si pasien juga terus saja keras kepala untuk bertemu dengan dokter Maura. Suster hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***

__ADS_1


Maura kembali memasuki rumah sakit setelah mengantarkan putranya ke mobil. Hari ini Maura ada jaga malam. Jadi tidak mungkin ia akan mengajak putranya untuk bersamanya. Ia pun menyuruh supir untuk mengantarkannya pulang.


Kini sudah sore hari. Via berjalan menuju ke ruangannya. Namun ia berhenti sejenak saat melewati kamar pasien kurang ajarnya.


"Apa dia sudah makan? Tidak, Aku tidak boleh baik padanya." Maura sedang berjalan cepat menuju ruangannya.


Hingga malam pun tiba. Kini sudah sangat larut. Melihat pasiennya yang kondisinya semakin stabil membuat Maura bernafas tenang. Semoga saja pasien-pasiennya segera sembuh.


Maura menyenderkan kepalanya di kursi kerjanya. Rasanya sungguh lelah sekali hari ini. Namun tiba-tiba saja ia teringat dengan Bintang.


"Apakah pria itu sudah makan sekarang?" gumamnya.


Tiba-tiba saja pintu ruangannya di ketuk. Maura berpikir mungkin itu adalah suster. Mungkin ada pasien yang sedang membutuhkan penanganan. Namun Maura mengerutkan keningnya melihat seorang pria yang memakai jas di depannya.


Pria itu tampak mematung menatap dirinya. "Maaf, Tuan. Anda siapa?"


Pria itu masih mematung, sungguh yang di katakan Tuannya tidaklah bohong. Dokter Maura benar-benar sangat mirip dengan Via, istri Tuannya.


"Tuan...," Panggil Maura sekali lagi karena pria di depannya seperti patung.


Lagi-lagi nama Bintang di sebutkan lagi. Seharian ini para suster terus saja menyebutkan nama itu. Dan sekarang, pria di depannya kembali menyebutkan nama tersebut,dan itu sangat membuat Maura jengah.


"Maaf, Tuan. Tapi saya sedang istirahat. Bukankah ada dokter lainnya, kenapa harus Saya?" Maura kembali menolak.


"Tapi, Tuan Bintang tidak mau makan sebelum Anda datang ke ruangannya dok. Bahkan seharian ini dia belum makan ataupun minum," ucap Bimo. Is sedikit membungkuk.


Maura terkejut. Benarkah yang di katakan pria di depannya? Tapi raut wajah Bimo nampak begitu serius. Maura nampak berpikir.


"Baiklah, Saya akan kesana." ucapnya pada akhirnya.


"Terimakasih Nona, maksud Saya dokter."


Maura segera menutup ruangannya dan berjalan cepat menuju ruang rawat Bintang. Sementara Bimo mengikuti dari belakang.

__ADS_1


Sampai di depan pintu kamar Bintang, Maura berhenti sejenak, lalu ia segera masuk kedalam.


Bimo kini percaya dengan ucapan Tuannya. Ia mencabut ucapannya yang mengatakan otak Tuannya yang konslet. Kini ia menunggu di luar. Ia menelpon seseorang untuk meretas semua data tentang dokter Maura secara rinci.


***


"Sebenarnya apa mau Anda huh?!" Maura langsung berkata ketus saat memasuki ruangan Bintang. Namun ia di kejutkan dengan Bintang yang nampak begitu lemah di tempatnya.


Maura segera mendekati Bintang. Ia melihat Bintang yang menatapnya dengan tersenyum samar.


"Akhirnya Kau datang," ucap Bintang lemah.


"Dasar Kau kenapa bodoh sekali, Tuan. Kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini!" Maura berkata dengan memeriksa kondisi Bintang saat ini.


"Aku akan melakukan apapun asalkan bisa membuatmu datang kepadaku. Bahkan bila Tuhan mencabut nyawa ku Aku rela," ucap Bintang.


"Kau sudah salah mengira, Tuan. Saya bukanlah Via. Kenapa Kau terus bersikeras kalau Saya adalah Via?"


"Aku tidak mungkin salah. Kau adalah Via ku." Bintang bersikukuh.


Via hanya menatap jengah Bintang yang terus saja keras kepala. Lalu ia melihat makanan yang ada di nakas, dan itu bukan dari rumah sakit. Makanan itu masih terbungkus begitu rapi.


"Kau belum makan seharian kan. Sekarang makanlah, Tuan." Maura mengambil dan membuka makanan tersebut.


"Asalkan Kau menyuapiku, Aku akan makan." Bintang tersenyum.


Maura kembali memutar bola matanya. Sungguh Bintang adalah pasien yang begitu merepotkan. Namun ia menurutinya.


Maura mulai menyuapi Bintang seperti anak kecil. Sementara sang empunya tak hentinya tersenyum menatapnya.


Hingga makanan itu pun tandas, Bintang masih setia untuk menatap wajah Maura dengan senyumnya. Sebenarnya Maura sangat grogi karena Bintang terus saja menatapnya. Namun ia berusaha terus menutupinya.


"Sekarang Anda sudah menghabiskan makanan Anda. Saya harus segera kembali ke ruangan Saya. Permisi, Tuan." ucap Maura setelah memberikan minum kepada Bintang. Namun dengan gerakan cepat Bintang menariknya.

__ADS_1


"Aku tidak akan melepaskan mu." Bintang mengukung tubuh Maura di tempat tidur pasien. Maura begitu terkejut. Lagi-lagi ini terjadi. Wajah mereka begitu dekat, nafas hangat Bintang menyapu wajahnya.


***


__ADS_2