
Resya tahu sedari siang Via belum memakan sesuatu. ia membeli satu bungkus roti untuk via. resya menyodorkan kearah via.
"Kau belum makan sejak tadi siang, Vi. makanlah...," Resya menatapnya dari samping. sejenak rey memejamkan matanya melihat Via yang sedari tadi terus mematung.
"Via, kau harus makan. atau kau nanti akan sakit." ujarnya, namun Via masih tak meresponnya.
Resya menarik tangannya kembali. "Kau ingin makan apa, Vi?" tanyanya. "Apa ada yang kau inginkan saat ini? Aku akan membelinya untukmu." Resya berusaha untuk membujuk Via agar mau makan. Ia tidak ingin Via sakit. "Kau ingin burger, coklat at..."
"Aku tidak ingin apapun, Rey. Aku hanya ingin bintang saat ini." ujar Via pelan tanpa menoleh kearah Rey. "Bisakah kau meninggalkanku Rey, Aku ingin sendiri saat ini," ucap via kembali.
Rey menganggukkan kepalanya. Ia menatap sendu gadis yang ia cintai. Hatinya begitu sakit saat ini. Ia telah kalah, ia telah patah hati. Pria itu lalu segera meninggalkan Via sendirian di sana.
Dalam beberapa langkah, Resya bertemu dengan Bimo. mereka saling menatap.
"Bujuk Via untuk makan, Aku tidak ingin dia sakit, Bim." ucapnya.
__ADS_1
Bimo mengangguk pasti. lalu Resya pun melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Bagaimana kondisi suami Saya saat ini dok?" Via bertanya kepada dokter ketika dokter keluar dari kamar Bintang. Dokter kembali memeriksanya saat Via mengatakan ada pergerakan pada jari Bintang.
"Ini sungguh keajaiban Nona. Pasien telah melewati masa kritisnya. Pasien akan merespon rangsangan berupa sentuhan dan suara. Anda melakukannya dengan baik nona. sekarang kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat intensif."
"Terimakasih dokter." Dokter mengangguk dan segera pergi dari sana.
Via berkaca-kaca mendengar penuturan dari dokter. Ia mengucapkan syukur dalam hatinya. Ia bahagia karena kini suaminya melewati masa kritisnya.
"Sayang," panggilnya. Tangan kirinya mengusap lembut pipi suaminya. "Bangunlah Sayang...," tangan Via mengusap wajah pucat Bintang dengan menyeluruh. Via duduk dan masih menggenggam tangan suaminya erat.
"Segera bukalah matamu, Bi..."
***
__ADS_1
Kelopak mata itu mulai terbuka dengan perlahan. menatap sayu ruangan putih itu. Tangannya terasa menggenggam tangan halus. Bintang membawa bola matanya untuk melihat pemilik jari tersebut.
Air matanya mulai menetes dari sudut matanya. Via..." ucapnya pelan memanggil nama istrinya. Rasanya ia tidak percaya dengan yang ia lihat saat ini. Via berada di depannya dan menggenggam tangannya. Sungguh kebahagiaan yang sangat besar bagi Bintang.
Via mengangguk tanpa bisa menjawab panggilan bintang. Via menangis bahagia melihat Bintang yang telah tersadar. Ia mengucapkan syukur dalam hatinya karena tuhan tidak membiarkan Bintang pergi darinya. Lalu Via menyeka air mata Bintang yang terjatuh.
Bintang berkedip pelan dan menatap Via dalam pandangannya. Mata mereka bertemu. Saling menyapa dan mengungkapkan kerinduan yang mendalam. tanpa kata, Via semakin mendekat. Tangan Bintang yang lemah menyambutnya, Via menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Pelan, Via menyambut uluran tangan Bintang, menggenggamnya erat dan begitu hangat. Kedua tangan itu bertemu membawa beribu-ribu rasa kerinduan.
"Kau menangis?" tanya Bintang pelan. Suaranya begitu lemah. Bintang menyadari mata Via yang terlihat sembab.
Via menganggukkan kepalanya. "Ya, air mata ku terus menerus menetes. Jangan tanyakan kenapa Aku menangis. Karena semua itu karena mu. Kau membuatku begitu khawatir. Apa kau tahu betapa takutnya Aku tadi? Aku sangat takut kehilanganmu, Bi." Via berkata dengan mengerucutkan bibirnya.
***
__ADS_1