
Pagi hari di kantor Bintang
Seperti biasa, jari-jari Bintang sangat lincah dalam bekerja. Asisten Bimo meletakkan laporan di atas meja dengan senyuman bahagia. Ia memperhatikan Bintang yang saat ini memeriksa laporannya.
Bimo ingin menanyakan tentang bonus yang sempat Bintang katakan padanya.
"Tuan...,"
"Ya, ada apa Bimo?" Bintang mengerutkan keningnya saat Bimo nampak tersenyum aneh menurutnya, Bimo tidak pernah tersenyum selebar itu.
"Bagaimana dengan bonus yang sempat Tuan katakan waktu itu...," Bimo nampak ragu untuk melanjutkannya, ia begitu segan.
"Aku membatalkannya, Aku akan memotong tiga bulan bonus mu."
"A-apa...," Bimo serasa lemas saat ini. Bukankah bosnya pernah mengatakan tentang bonusnya yang akan naik?
Bintang terkekeh, lalu ia berdiri dan menepuk pundak Bimo.
__ADS_1
"Kau akan mendapatkan bonus mu Bim, bahkan Aku akan memberikan banyak bonus untukmu, Kau sudah sangat berjasa dalam hidup ku. Terimakasih untuk semuanya," ucap Bintang tersenyum tulus.
Bimo merasa lega, lalu ia membalas senyum Bintang. Ia bahagia bila melihat Tuannya bahagia. Tapi selepas itu, ia tetap merasa sangat senang ketika Bintang mengatakan bahwa akan memberikan bonus untuknya.
"Saya turut bahagia melihat Anda dapat bersatu dengan Nona Via Tuan. Saya mendoakan kebahagiaan selalu menyertai keluarga Anda," ucap Bimo begitu tulus.
Bintang tersenyum mengangguk, ia mengamini ucapan Bimo dalam hati.
***
Rey juga merasa senang karena akan bertemu dengan Via. Rasa itu masih ada, walaupun semakin hari perasaan itu semakin samar.
Selesai meeting dengan Bintang, Rey bertanya tentang kabar Via dan Er. Bintang menceritakan bahwa mereka baik-baik saja dan merasa sangat bahagia.
"Apakah Via kembali melakukan profesinya sebagai dokter lagi Bi? Dan Er, apakah dia menyukai sekolah barunya?" Berbagai pertanyaan Rey tanyakan kepada Bintang.
"Untuk saat ini kami sedang fokus untuk memberikan Er seorang adik, jadi untuk bulan-bulan ini Aku belum mengizinkan istri ku kembali menekuni profesinya," ucap Bintang. Ia mengatakan hal itu agar Rey tidak terlalu mengharap Via kembali. Bintang tahu Rey masih mencintai istrinya. Namun ia tetap akan profesional.
__ADS_1
Rey tersenyum mendengarnya, namun hatinya terasa sesak. Ia mengalihkan pandangannya dan menatap Moza. Ia akan menjadi kuat hanya dengan menatap gadis itu. Memikirkan hal itu membuatnya tersenyum kecil.
Moza pun merasakan sesak di hatinya ketika melihat Rey yang masih nampak begitu mencintai Via. Namun ia segera menepis perasaannya. Bukankah ia sudah bertekad untuk melupakan rasa cintanya kepada Rey?
Setelah meeting selesai, Bintang segera pamit pulang lebih awal. Ia juga mengajak Rey dan Moza untuk mampir ke rumahnya. Namun Rey menolaknya, ia tidak akan sanggup melihat kemesraan antara Bintang dan Via nantinya. Rey memutuskan untuk pergi makan siang bersama Moza.
"Kenapa Kau menolak ajakannya untuk berkunjung ke rumahnya Rey? Bukankah Kau begitu merindukannya dan putranya?" tanya Moza.
"Aku sudah mengikhlaskan cintaku Za, dan Aku akan berusaha agar perasaan ini segera menghilang."
Moza hanya menganggukkan kepalanya. Lalu ia mendapat pesan dari seseorang. Bibirnya nampak tersenyum.
Melihat hal itu membuat Rey mengerutkan keningnya. "Siapa?" ucapnya ingin tahu.
Moza mengerutkan keningnya, beberapa hari ini Rey selalu saja selalu ingin tahu tentang yang ia lakukan.
***
__ADS_1