
"Apa yang kalian lakukan?" Suara Bintang membuat Rey tersadar dan melepaskan pelukannya dari tubuh Via.
Dengan segera Bintang berjalan cepat dan membawa Via kedalam pelukannya.
Pelan, Moza mulai melangkah mendekat ke arah mereka. Sejujurnya hatinya terasa begitu sakit melihat pemandangan tadi.
"Bi, Aku bisa menjelaskannya, ini tidak seperti yang Kau lihat," ucap Rey khawatir.
"Rey," panggil Moza. Rey menoleh ke belakang. Ia melihat Moza yang menatapnya dengan pandangan yang begitu sendu. Rey yakin Moza juga melihatnya.
"Sayang, kami bisa menjelaskannya. Tadi Aku mau jatuh. Dan Rey hanya ingin menolong ku. Ini tidak seperti yang Kau bayangkan," ucap Via takut. Ia tahu suaminya begitu sensitif bila mengenai Rey.
"Aku percaya padamu Vi," ucap Bintang singkat.
Rey juga menatap kearah Moza, tangannya meraih tangan Moza dan menggenggamnya erat. "Ini tidak seperti yang Kau lihat Za,"' ucap Rey pelan.
Moza mengangguk. Walaupun ia merasa begitu cemburu, namun ia akan berusaha untuk percaya. "Rey, ayo kita pulang," ajaknya. Rey mengangguk.
Rey menatap ke arah Bintang dan Via. "Kalau begitu,kami pulang dulu, Bi, Vi," pamit Rey.
__ADS_1
Bintang menganggukkan kepalanya tanpa menjawabnya. "Baiklah, terimakasih karena sudah mengajak Er jalan-jalan hari ini," ucap Via, tangannya menggenggam erat tangan suaminya. Saat ini rasanya sangat canggung. Via tahu bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Sama-sama Vi, Aku juga sudah menganggapnya seperti putraku sendiri. Jadi Kau tidak usah sungkan. Kalau begitu kami pulang Vi, Bi," ucap Rey menatap Bintang dan Via.
Via tersenyum dan mengangguk, sementara Bintang nampak begitu datar. Ia pun menganggukkan kepalanya.
***
Sepanjang perjalanan, Moza hanya terdiam.
"Za, Kau percaya padaku kan?" tanya Rey sekali lagi.
"Percayalah saat ini Aku mencintaimu Za, walaupun perasaan ini belum sepenuhnya menghilang, tapi Aku ingin Kau yang akan menghapus sisa-sisa perasaan ku padanya." ucap Rey, tangan satunya meraih tangan Moza dan menggenggamnya hangat.
Bohong kalau Moza tidak cemburu melihat pemandangan beberapa saat lalu. Ia sangat cemburu, apalagi mendengar perkataan Rey yang mengatakan bahwa masih memiliki sisa-sisa perasaan terhadap Via. Sakit. Itulah yang Moza rasakan saat ini.
Apakah salah jika ia menginginkan cinta Rey sepenuhnya hanya untuknya seorang? Egois kah dirinya? Sampai kapan ia harus menunggu cinta Rey akan sepenuhnya menjadi miliknya?
Mengingat mereka akan sering bertemu membuat Moza tidak yakin bahwa Rey akan benar-benar melupakan Via.
__ADS_1
Perlahan Moza melepaskan genggaman tangan Rey. Membuat Rey menatap sekilas Moza. "Kau tidak percaya dengan ku Za?"
Moza mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Kita sudah sampai Rey. Sebaiknya Aku masuk. Sampai jumpa besok Rey," ucap Moza. Saat ini mobil Rey memang telah sampai di apartemen Moza.
Rey merasa begitu kecewa ketika Moza melepaskan genggamannya, apalagi mengalihkan pandangannya darinya. Ia ingin Moza menjadi seseorang yang mampu menghapus nama Via dalam hatinya.
Rey segera melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.
***
Bintang kembali menuju ke ruang kerjanya dan menyuruh istrinya untuk tidur lebih dulu.
Via yakin Bintang masih memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Matanya masih terjaga, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Via masih menunggu suaminya memasuki kamar. Ia begitu gelisah memikirkan Bintang yang menjadi diam. Hingga matanya mulai perlahan mulai terpejam.
Beberapa saat kemudian, Bintang segera memasuki kamarnya. Di lihatnya istrinya yang sudah tertidur dengan meringkuk di atas kasur.
Bintang melangkah mendekatinya, menarik selimut dan membawanya kedalam pelukannya.
Ia mengecup kening Via berkali-kali. "Maafkan Aku Sayang, hati ini masih belum sepenuhnya mempercayai hatimu. Aku tahu Kau sangat mencintai ku. Tapi mengingat kebersamaan mu bersamanya selama beberapa tahun membuatku merasakan cemburu. Aku tahu Aku lah yang salah karena sudah menyakitimu hingga membuat keadaan menjadi seperti ini. Semua salahku," ucap Bintang seraya memejamkan matanya.
__ADS_1
***