Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 55


__ADS_3

Keduanya masih menatap keindahan taman MacRitchie Reservoir. Tak sepatah kata pun Via ucapkan saat Bintang sejak tadi terus berkata dan membujuknya.


Wanita itu masih berpikir tentang ucapan pria di sampingnya. Apakah benar semua yang Bintang katakan? Namun mengapa sedikitpun dirinya tidak mengingat Bintang?


Sementara Bintang, ia hampir putus asa ketika melihat Via yang sama sekali tak menjawab ucapannya. Tuhan sedang menghukumnya saat ini.


"Via...," Suara serak Bintang kembali memanggil dengan lembut. Ia mulai memberanikan diri untuk menyentuh pundak Via dengan kedua tangannya, Menghadapkannya ke arahnya.


Via membiarkan begitu saja. Kini mereka saling berhadapan. Namun Via menundukkan wajahnya menghindari tatapan Bintang.


"Via... Mari berbicara. Kau harus mendengar semuanya Vi. Aku tahu Kau adalah Via ku, Kau adalah istri Ku...," Bintang hampir menitihkan air matanya ketika Via sama sekali tidak menatap dirinya.


Sementara Via merasa hatinya begitu bergemuruh. Ia tidak mengerti dengan perasaan apa itu. Ia terus saja menahan sesuatu dalam dirinya agar tidak terpengaruh oleh ucapan Bintang. Namun tetap saja, suara Bintang terdengar begitu menyakitkan.


Via menepis tangan Bintang yang menyentuh pundaknya. Ia segera berdiri tapi tak berani menatap wajah pria di sampingnya itu.


Via merasa ia harus pergi dari sana. Keadaan mulai membuatnya tidak tenang. Ucapan Bintang dan pernyataan neneknya tentang masalalunya membuat Via begitu bingung saat ini.


"Maaf Tuan Bintang, sepertinya Aku harus segera kembali. Saya minta maaf, Saya benar-benar tidak mengenal Anda. Lebih baik mulai sekarang Kau jangan pernah menemui ku lagi." Via berkata menahan sesuatu dalam hatinya. Kakinya hendak melangkah meninggalkan Bintang.


Langkah kaki Via terhenti ketika Bintang memblokir jalannya.


"Aku tidak akan pernah membiarkan mu pergi lagi dari ku, Sayang. Tidak akan pernah!" Bintang berkata dengan begitu dingin. Bintang terus memohon untuk berbicara dengan Via, namun Via selalu menolaknya dan menghindarinya. Tidak ada pilihan lain. Bintang menangkap tangan Via, dan menggendongnya paksa, Lalu membawanya masuk kedalam mobil.


Ada beberapa orang yang melihat kelakuan Bintang. Beberapa orang itu mendekati Bintang, mereka mengira Bintang seorang penculik.

__ADS_1


"Hei, Tuan! Ada apa ini!" Beberapa orang itu menghampirinya.


Bintang berusaha bersikap tenang, ia pun tersenyum dan berkata. " Mohon maaf karena kami sudah mengganggu kalian, tapi ini adalah masalah rumah tangga kami," ucap Bintang.


Orang-orang itu sedikit mengerti dengan situasi tersebut. Mereka hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat sepasang suami istri yang nampak tengah bertengkar itu.


"Baiklah, maafkan kami Tuan, semoga masalah kalian segera selesai."


Bintang menganggukkan kepalanya dan langsung memasuki mobil itu. Sementara Via sedari tadi terus saja berteriak di dalam mobil tersebut. Namun Bintang mengunci mobil itu.


"Dasar kurang ajar! Kenapa Kau selalu bertindak sesukamu!? Aku sudah mengatakan kalau Aku tidak mengenalmu, kenapa Kau terus saja memaksaku!?" Via merasa sangat kesal dan marah kepada Bintang. Rasa simpati ketika Bintang begitu bersedih beberapa saat lalu, ia cabut begitu saja. Via terus saja memberontak dan terus mengumpat Bintang. Namun pria itu malah tak mengatakan apapun.


"Kau mau membawaku kemana?" Via bertanya dengan sinisnya tanpa menoleh ke arah Bintang. Bintang hanya diam tak mengatakan apapun, perasaannya sangat kacau. Dia menyetir mobilnya dengan menggila, hingga tak butuh waktu lama untuk sampai ke tempat yang ia tuju. Sebuah rumah yang diam-diam ia beli tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Bimo. Bintang membelinya beberapa saat lalu.


Sebuah rumah megah yang letaknya begitu dekat dengan pantai.


"Kau hanya memiliki dua pilihan. Ikut Aku masuk, atau Aku akan memaksamu!" Bintang menatap tajam Via yang kini memalingkan wajahnya.


"Kau pikir Aku takut dengan mu, dasar br.eng.sek! Biarkan Aku pulang." Via berkata dengan sinisnya.


Bintang tidak ingin berdebat lagi, ia segera keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di samping Via. Bintang kembali menggendong Via untuk membawanya masuk kedalam rumah itu.


"Kau... Dasar pria gila... lepaskan Aku!" Via berteriak. Namun, Bintang tak mau mendengarkannya. Ia terus membawa Via masuk kedalam rumah itu.


Rumah itu di lengkapi dengan lift untuk langsung menuju ke kamar yang ada di lantai paling atas. Rumah itu berlantaikan 3. Bintang menurunkan tubuh Via ketika sudah berada di dalam lift.

__ADS_1


"Kenapa Kau membawaku ke sini? Ku mohon, Tuan, lepaskan Aku. Sudah ku bilang Aku bukanlah istrimu!" Via terus memberontak. Sementara Bintang menatap Via dengan begitu sedih.


Hingga lift itu berhenti di kamar paling atas. Bintang kembali menggendong lagi tubuh Via dengan paksa. Pemberontakan Via tidak berarti apapun untuk Bintang.


Bintang segera membuka pintu kamar di depannya. Membawa Via masuk kedalam dan kembali menutup pintu kamar tersebut.


Bintang menurunkan Via dan mendorong tubuh itu ke dinding. Tubuhnya menghimpitnya dengan pandangan yang terus menatapnya. Tangannya menahan kedua tangan Via dan langsung mencium bibir manis Via. Bintang sangat merindukan istrinya, sangat rindu dan sangat-sangat merindukannya.


Plak... Via menampar Bintang setelah Bintang melepaskan ciumannya. Via menatapnya dengan tajam, dia marah Bintang berlaku seenaknya.


"Tuan, kenapa Kau selalu berlaku seenaknya saja. Sudah ku katakan lepaskan Aku, biarkan Aku pergi. Aku sungguh bukan istrimu. Berapa kali Aku harus mengatakannya!"


Bintang memeluk tubuh Via dan berbisik pelan. "Aku sangat merindukanmu...," ucap Bintang begitu dalam. Suara seraknya membuat Via terdiam. Ia tidak memberontak kali ini.


"Sayang, Aku merindukanmu," Bintang berbisik lagi. "Aku sangat merindukanmu...," Suaranya terdengar begitu lirih. "Aku merindukanmu, Via." Bintang terus berbisik. Namun itu tak dapat mengobati segala kerinduannya pada gadis dalam pelukannya.


Rasa rindu yang membuat Bintang hampir gila. Ia terus memeluk dan tidak membiarkan Via kesempatan untuk melepaskannya sedikitpun. Tangisan Bintang akhirnya pecah. Dia pria, tapi dia menangis. Dia menangisi penyesalannya yang membuat gadis di pelukannya pergi dan kini tidak mengingatnya. Bintang menumpahkan segala rasa dalam hatinya melalui tangisnya.


Via tercekat. Ia merasakan tubuh Bintang yang bergetar karena menangis. Ia tidak menyangka pria seperti Bintang akan menjadi serapuh itu hanya karena istrinya.


Tanpa sadar Via meneteskan air matanya. Entah mengapa, hatinya begitu sakit merasakan tangisan Bintang. Ia membalas pelukan Bintang.


Merasakan Via yang membalas pelukannya, Bintang sedikit meregangkan pelukannya dan menatap wajah Via. Mata indah itu masih sama. Bibir merah itu masih sama, dia adalah istrinya, ya, gadis dalam pelukannya adalah istri yang sangat Bintang rindukan.


Perlahan Bintang menempelkan bibirnya pada bibir Via. Begitu beruntungnya dirinya saat ini, karena Via tidak memberontak seperti sebelumnya. Via membiarkan Bintang menciumnya, dan itu membuat Bintang begitu bahagia karena Via tidak menolaknya.

__ADS_1


***


__ADS_2