Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 106


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ke kantor, Bimo merasakan hawa dingin yang menyelimuti bosnya. Ia heran melihat bosnya yang nampak menakutkan ketika keluar dari cafe tadi. Bimo hanya melempar pandang kepada supir yang juga heran menatap bosnya.


'Kenapa Kau harus berbohong Via? Apa sebenarnya kamu memiliki perasaan terhadapnya tapi Kau tak mau mengakuinya karena Aku? Apa selama ini Kau berbohong dengan hatimu?'


Ponsel Bintang bergetar pertanda pesan masuk, pesan itu dari istrinya. Ia mulai membacanya.


'Sayang, bolehkah Aku ke kantor mu, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu' tulis Via.


'Terserah apa yang ingin Kau lakukan, Via' balas Bintang.


Bintang mencengkeram kuat ponsel dalam genggamannya. Ia membaca pesan Via berkali-kali. Hatinya semakin memanas memikirkan kebohongan istrinya.


Mereka memang tidak menapaki masalalu, tapi masalalu akan menjadi bayangan yang mengikuti. Ternyata Bintang masih belum bisa mengatasinya, ternyata dia tidak mampu menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya.


Bintang seketika membanting ponselnya keluar jendela mobilnya. Dan itu membuat Bimo begitu terkejut. Sebenarnya ada apa dengan bos-nya itu? Apakah bos besar dan Nyonya besar sedang bertengkar? Bimo hanya mampu diam. Ia tidak ingin memperkeruh suasana jika bertanya kepada bos-nya.


"Bim, bukankah dua hari lagi kita akan ke luar negeri?" tanya Bintang.


"Iya bos."


"Percepat sekarang, hari ini kita akan berangkat," perintah Bintang.


"Kalau begitu apakah kita akan putar balik ke rumah bos, untuk mengambil beberapa barang yang akan bos bawa?"


"Tidak! Kita langsung berangkat dari kantor," ucap Bintang.


Dan itu semakin menambah keyakinan Bimo bahwa saat ini bosnya sedang bertengkar dengan istrinya.


Ponsel Bimo pun bergetar, ia mengambilnya dan melihat pesan masuk. Tangannya mulai membalas pesan tersebut.


***


Via merasa begitu gelisah ketika membaca balasan pesan dari suaminya. Pesan suaminya terlihat jelas bahwa suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Sebenarnya Via ingin ke kantor Bintang untuk mengatakan kepada suaminya bahwa hari ini dirinya menemui Rey. Via ingin menceritakan semuanya, ia tidak ingin berbohong kepada suaminya. Ia mengakui dirinya telah salah, maka dari itu ia ingin ke kantor suaminya dan menjelaskan semuanya. Ia tidak ingin jika suatu saat suaminya mengetahui bahwa dirinya telah berbohong.


Via memutuskan untuk menelpon suaminya. Namun ponsel Bintang sudah tidak aktif. Dan itu membuatnya semakin gelisah yang berkecamuk dalam hatinya.


Mungkinkah suaminya marah tentang kejadian semalam. Mungkinkah suaminya belum memaafkannya?


Via segera mengirimkan pesan kepada asisten Bimo dan menanyakan suaminya. Via lega karena Bimo mengirimkan pesan bahwa saat ini Bintang sedang menuju ke kantornya setelah selesai meeting di cafe pusat kota.


Tapi tunggu dulu, bukankah dirinya saat ini juga berada di cafe tersebut? Via membola ketika menyadari sesuatu. Kini Via tahu alasan suaminya yang mengirimkan balasan pesan darinya yang menyiratkan kemarahan.

__ADS_1


Via segera bergegas menuju ke kantor Bintang. Ia tidak ingin suaminya kembali salah paham dengannya.


***


Via mengirimkan pesan kepada Bimo bahwa dirinya akan menuju ke kantor. Namun, Bimo mengatakan bahwa saat ini dirinya dan bos-nya sedang menuju bandara untuk ke luar negri. Bos-nya mempercepat keberangkatannya.


Dan itu sungguh membuat jantung Via berdetak semakin kencang ketika membaca pesan yang ditulis oleh Bimo.


Ia akhirnya merubah haluan mobilnya menuju ke arah bandara. Ia tahu saat ini pasti suaminya begitu marah dan kecewa padanya. Ia akan mengatakan kebenaran dari kesalahpahaman ini. Ia harus mengatakannya saat ini juga.


Namun sialnya, ia salah mengambil jalan. Via mengambil jalan yang kebetulan saat ini sedang mengalami kemacetan.


Via segera menghubungi nomor Bimo. Ia harus berbicara kepada suaminya agar suaminya tidak salah paham dengannya.


"Bos, Nyonya menelpon," ucap Bimo memperlihatkan ponselnya pada Bintang.


Bintang meraih ponsel Bimo, membuat Bimo tersenyum lega. Namun senyum itu luntur ketika melihat Bintang mengeluarkan ponselnya keluar dari jendela mobil.


"Bos, itu ponselku...," ucap Bimo serasa ingin menangis. Bos-nya sudah membuang ponselnya.


"Diam atau Aku akan memecatmu! Kau akan mendapatkan ponsel barumu nanti!" ancam Bintang. Seketika membuat Bimo terdiam. Ia masih meratapi nasib ponselnya.


Bimo hanya menghela nafasnya melihat kemarahan bos-nya yang nampak tertahan. Ia kembali yakin jika saat ini bos besar dan Nyonya besar tengah bertengkar.


Bimo kembali menarik air mineral tersebut. Takut jika nanti bos-nya malah melempar botol minuman itu ke arahnya.


Sementara sang supir hanya melirik sekilas menatap bosnya dari kaca spion. Ia takut akan bernasib sama seperti Bimo. Ia kemudian beberapa kali memelankan laju mobilnya. Saat ini hujan mulai mengguyur kota.


Bintang menyenderkan kepalanya sejenak dan memejamkan matanya. Pikirannya masih tertuju pada Via dan Rey. Ia berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri. Namun ia juga teringat tentang kebohongan istrinya. Kenapa harus berbohong jika mereka benar-benar sudah tidak ada hubungan lagi? Atau sebenarnya Via mencintai Rey? Pikiran-pikiran buruknya membuatnya tersiksa hingga Bintang terus bermonolog dalam hatinya.


Tiba-tiba saja supir menghentikan mobilnya secara mendadak. Dan itu membuat Bimo hampir mencium dasboard depan.


Sementara Bintang hampir terjungkal kalau saja dirinya tidak menggunakan sabuk pengaman.


"Apa Kau mau berhenti menjadi supir ku!" Bentak Bintang. Ia menatap supir dengan sangat tajam.


Sang supir menelan ludahnya begitu susah. Tapi ia harus menghentikan mobilnya, atau jika kalau tidak, mobilnya akan menabrak seseorang yang tengah memotong jalannya.


Sang supir menunjuk ke arah depan.


"Tapi bos, lihatlah di depan...," Supir tak mampu berkata apapun lagi. Ia juga begitu terkejut melihat siapa yang telah memotong jalannya di depannya. Begitu juga dengan Bimo.


Sontak saja Bintang langsung menoleh ke depan kaca mobilnya. Matanya terbelalak melihat siapa seseorag yang menghentikan mobilnya. Ia segera berlari keluar dan menembus hujan menuju ke arah seseorag tersebut.

__ADS_1


Kini ia berdiri tepat didepan seseorag itu, tangannya ia gunakan untuk menutupi kepala seseorag itu menutupinya dari rintiknya hujan. Bintang menatap dengan perasaan sedih, marah, senang, kecewa, cinta dan bahagia secara bersamaan. Dia adalah Via istrinya.


Di bawah guyuran hujan mata mereka bertemu. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Dibawah guyuran hujan keduanya saling membisu.


Sementara Bimo dan sang supir menatap kedua orang di depannya dengan penuh haru.


"Kenapa Kau berada di sini?" tanya Bintang tercekat. Ia tidak pernah menyangka istrinya akan berbuat senekat ini.


"Aku ingin menyusulmu. Aku tidak bisa menghubungi ponselmu. Makanya Aku menghubungi Bimo, tapi tiba-tiba ponselnya juga tidak aktif. Makanya Aku juga menghubungi supir untuk mengirimkan lokasi mu. Aku tidak ingin bertanya mengapa Kau tidak memberiku kabar bahwa Kau akan berangkat ke luar negeri sekarang. Aku ingin mengatakan sesuatu dan Kau harus mendengarkan ku," ucap Via dengan suaranya yang ia keraskan karena suara hujan yang begitu deras. Via menatap kedalam mata suaminya.


"Maafkan Aku...," ucapnya diiringi air matanya yang nyaris samar akibat hujan yang mengguyurnya.


"Maaf karena Aku sudah membuat mu tak nyaman, maaf karena Aku berbohong padamu. Aku tahu Kau sangat marah padaku karena mengetahui ku berbohong tadi. Aku tidak berada di rumah sakit. Aku menemui dia saat itu. Tapi Kau jangan marah, karena Aku menemuinya untuk menyuruhnya untuk menjauhiku dan menghindari ku ketika Aku dan dia bertemu. Kalau melihat ku dan dia akan membuat mu terluka, maka Aku akan melakukan apapun agar nantinya Aku dan dia tidak pernah bertemu. Maafkan Aku... maafkan Aku...," ucapnya dengan tangisnya. "Bolehkah Aku memelukmu...," tanya Via.


Bintang mengangguk. Seketika itu Via langsung menghambur memeluk suaminya. Bintang membalas pelukan Via. Ia mencium kening istrinya berkali-kali. Tangannya mengusap lembut punggung istrinya. Bintang memejamkan matanya.


Kekecewaannya terhadap kebohongan istrinya bukankah apa-apa. Bukankah semuanya ini berawal darinya? Ialah penyebab istrinya meninggalkannya dulu, kehilangan ingatannya dan akhirnya bertemu dengan Rey, sahabatnya. Ya, semua rasa sakit yang ia ciptakan berasal dari dirinya sendiri.


Jika Bintang marah kepada istrinya, maka ia kembali membuat Via tak nyaman bersamanya. Ia tidak ingin membuat luka baru untuk Via hingga suatu hari akan kembali membuat istrinya pergi darinya. Bintang tidak ingin itu terjadi. Ia hanya mencintai gadis dalam pelukannya. Ia tidak ingin dengan kemarahannya hanya akan membuat cinta Via berpaling darinya. Bintang harus mengubur rapat-rapat rasa kecewanya. Ia harus mampu menutupnya dalam-dalam. Ia tidak ingin lagi kehilangan gadisnya, gadis yang sangat teramat sangat ia cintai.


Bintang merangkul tubuh istrinya dengan penuh kasih. Ia membawa Via ke dalam mobilnya.


Bimo dan sang supir saling berpandangan. Mereka tersenyum lega melihat bos mereka yang kini tengah kembali akur lagu.


Bintang mengusap lembut rambut basah istrinya yang terkena hujan. "Sayang, kenapa Kau hujan-hujanan, dimana mobilmu, apa Kau tidak menggunakan mobilmu?"


"Tadinya Aku memakai mobil untuk mengejar mu. Tapi karena macet, jadi Aku memesan ojol, itu lebih efektif dalam mengejarmu." ucap Via.


"Terimakasih karena sudah berjuang keras untuk mengejar ku Sayang," ucap Bintang memeluk tubuh istrinya.


"Kau jadi ke luar negeri sekarang?" Via bertanya mendongak menatap suaminya.


"Tidak, kita akan pulang. Aku tidak ingin membiarkan mu sakit. Lihatlah kita basah kuyup. Kita harus segera mengganti pakaian kita setelah sampai di rumah," ucap Bintang, lalu ia menutup sekat bagian depannya.


Bintang lalu mendudukkan tubuh Via di pangkuannya. Dia langsung mencium bibir istrinya dengan lembut dan penuh kasih. Mereka saling membalas ciuman manis tersebut.


"Menurut mu apa yang bos kita lakukan di belakang?" tanya Bimo pada supir. Otak Bimo mulai liar membayangkan adegan panas di belakang.


"Mungkin hanya berciuman," ucap supir memberi pendapat.


"Hahaha, mungkin. Setidaknya mereka sudah berbaikan saat ini. Dan tentunya Aku akan mendapatkan ponsel baru dari bos," ucap Bimo tertawa renyah.


Supir hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bimo.

__ADS_1


***


__ADS_2