
Maura kembali ke rumah bersama putranya setelah memeriksa pasien-pasiennya. Pikirannya terus saja bergelut dengan hatinya. Sebuah bayangan klise terus saja terputar dalam memorinya.
"Oma...," Panggil Er. Tubuh kecilnya berlari mendatangi neneknya. Sementara Maura berjalan pelan di belakangnya.
"Cicit Oma, pasti mau menceritakan tentang Mayra lagi," tebak sang Oma. Oma menangkap tubuh mungil Er.
Er tersenyum memperlihatkan rentetan giginya. Neneknya sudah bisa menebaknya. Er selalu menceritakan tentang yang ia lakukan bersama Mayra setiap pulang dari rumah sakit.
"Ya Oma. Hari ini Er membelikan Mayra gelang yang sama seperti punya Er. Lihat Oma, ini gelang yang bagus kan?" ucap Er bersemangat.
Oma Mia hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah menggemaskan cicitnya. Ia pun mendengarkan setiap ocehan bocah itu. Hingga pandangannya tertuju pada Maura yang kini nampak sedikit pucat.
"Nak, apa Kau sakit?" tanya Oma.
"Maura hanya kecapekan saja nek." ucap Maura yang nampak begitu lesu.
Oma mengerti malam ini Maura pasti lelah karena ada jaga malam di rumah sakit. "Yasudah nak, istirahatlah, Kau pasti lelah," ucap Oma dan di angguki oleh Maura.
"Er Sayang, jangan nakal sama Oma ya. Mommy mau istirahat sebentar," ucap Maura kepada putranya.
"Siap Mom," Er mengacungkan jempol ke arah Maura.
"Good boy," ucapnya seraya mengusap lembut rambut Er. Maura segera berlalu menuju kamarnya.
Maura langsung membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Perlahan rasa pusingnya mulai menghilang. Ia teringat akan ucapan Bintang yang mengatakan bahwa dirinya adalah Via, istrinya.
"Kenapa pria itu terus saja bersikeras mengatakan bahwa Aku adalah Via, istrinya. Tapi nenek dan Paman mengatakan bahwa suamiku sebelumnya telah meninggal saat kecelakaan itu terjadi. Sebenarnya siapa di antara mereka yang berkata jujur? Kenapa Aku masih belum bisa mengingat semuanya?" Maura terus saja bergumam.
Rasa bingung membuat Maura begitu bimbang. Ia juga bingung dengan apa yang ia rasakan saat berada di dekat Bintang. Jantungnya berdetak kencang saat bersamanya. Ada sebuah getaran aneh yang menjalarinya ketika pria itu di dekatnya.
Maura meraih ponselnya ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari kekasihnya terlihat di sana. Maura segera membuka pesan tersebut.
__ADS_1
'Cantik, apa Kau merindukan ku? Aku sangat merindukanmu dan Er'
Maura tersenyum, lalu ia segera membalas pesan itu.
'Kau sudah membuat Er marah, apa Kau tahu kalau dia menunggu janji mu untuk mengajaknya jalan-jalan? Kau pasti akan mendapatkan sebuah hukuman dari Er nanti. Kau tunggu saja ๐'
'๐คจ Kenapa sepertinya Kau begitu senang Er akan menghukum ku calon Nyonya Resya?'
Namun Maura tak membalas pesan kekasihnya lagi. Sehingga ponsel itu pun berdering.
Maura hanya menatapnya saja tanpa mengangkatnya. Ia hanya tertawa cekikikan membayangkan pasti wajah Rey saat ini begitu kesal karena ia mengabaikan pesan dan panggilannya.
Jauh di seberang sana, seorang pria nampak kesal, namun ia juga tersenyum menatap ke arah layar ponselnya. Ia sudah bisa menebak gadisnya pasti tengah menjahilinya.
"Aku akan pulang dan menghukum mu karena sudah membuatku kesal." ucapnya tersenyum. Dia adalah Resya, pria yang akan menikahi Maura satu bulan lagi. Ia sudah tidak sabar untuk menantikan saat dirinya sepenuhnya memiliki gadisnya.
Resya mengetahui bahwa Maura adalah Via. Keluarga Via mengatakan kepada Resya bahwa suami Via telah meninggalkan Via dalam keadaan mengandung. Hingga kecelakaan itu pun terjadi dan mengakibatkan Via melupakan segalanya.
Resya berjanji akan menikahi Via. Ia mencintai gadis itu dan tidak akan pernah melepaskannya. Ia akan selalu menjaga Via dan putranya. Resya sudah tidak sabar lagi untuk menjadikan Via istri sahnya dan membina sebuah keluarga kecil nantinya.
Rey tersenyum membayangkan pertemuannya besok dengan Via dan Er. Rey akan memberikan kejutan kepada calon istri dan anaknya.
"Persiapkan semuanya, besok kita akan kembali!" ucap Rey kepada sekretarisnya.
"Kau terlalu mencintai calon istri mu Rey. Kau tidak pernah tahu bagaimana kehidupan Via sebelumnya. Kalau suatu saat nanti Via mengingat semuanya kembali, dan ternyata dia tidak mencintaimu itu hanya akan membuatmu sakit Rey. Pikirkan lagi keputusan mu untuk menikahinya," ucap Moza, sekertaris sekaligus sahabat Rey sejak kecil.
Rey tahu Moza mencintainya. Namun ia hanya menganggap Moza sebagai adiknya.
Rey menatap ke arah Moza yang sudah mengepak semuanya untuk persiapan pulang nanti malam. Kini gadis itu tengah menatapnya sendu.
"Za, Aku sangat mencintainya. Dan Kau tidak perlu ikut campur dalam kehidupan ku. Kau hanya sekertaris ku saja. Tugasmu hanya mengurus segala sesuatu mengenai pekerjaan ku," ucap Resya tegas.
__ADS_1
Moza tersenyum kecut. Ia menyadari posisinya selama ini yang hanya sekertaris Resya. Persahabatan mereka sudah lama menjadi begitu dingin setelah Resya menemukan Via. Rey melupakannya.
Sebenarnya Rey tidak melupakan Moza. Rey hanya ingin menjaga jarak dengan Moza agar sahabatnya tidak mengharapkan cinta darinya.
"Baiklah, kalau begitu Saya permisi Tuan Rey. Tugas Saya sudah selesai, Saya akan kembali ke kamar Saya," ucap Moza. Ia menahan sesak dalam hatinya. Mungkin saja memang Resya bukan jodohnya. Ia tidak akan berharap kepada pria itu lagi.
Resya menatap Moza yang keluar dari kamarnya dengan begitu sendu. Ia ingin persahabatan mereka baik-baik saja tanpa adanya cinta Moza untuknya.
"Maafkan Aku Za, ini yang terbaik untukmu. Aku hanya menganggapmu sebagai sahabat ku. Karena dialah satu-satunya wanita yang kucintai," ucap Resya menatap Moza yang sudah keluar dari kamarnya.
***
Bintang merasa kesal karena ia tidak mengetahui istrinya yang sudah kembali ke rumahnya. Sepanjang hari ia sudah menunggu Via di ruangannya, namun Via tak kunjung kembali.
Via memang sengaja tidak kembali lagi ke ruangannya dan langsung mengajak putranya kembali. Ia ingin menghindari Bintang. Namun Bintang tidak akan pernah menyerah. Ia akan terus berjuang untuk mendapatkan istrinya kembali.
"Bimo, cari rumah untuk ku tinggal selama di sini. Sepertinya kita akan berada di sini untuk sementara waktu." Perintah Bintang.
"Baiklah, Tuan." Bimo segera melakukan perintah Bintang. Sebelumnya ia sudah memperkirakan bahwa Bintang pasti akan memerintahkan dirinya untuk ini. Jadi Bimo sudah mempersiapkan semuanya.
Kini Bimo tengah menyewa sebuah rumah yang begitu megah untuk Bintang tinggali selama di Singapore.
Bintang telah sampai di rumah megah yang Bimo siapkan. Letak rumah itu tak jauh dari rumah istrinya. Hingga iapun bisa selalu memantau Via dan putranya.
Malam ini, purnama nampak begitu sempurna di langit. Namun kerinduan Bintang kepada istrinya membuat purnama malam ini begitu redup.
"Aku tidak akan pernah sempurna tanpa adanya dia. Tuhan, izinkan sekali lagi Aku untuk memilikinya. Aku tidak akan pernah menyakitinya. Perpisahan selama ini membuatku tersiksa. Ku mohon kembalikan dia padaku...," Bintang menatap langit malam dari balkon kamarnya. Mengharap cintanya akan kembali kepadanya.
***
__ADS_1