Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)

Sepenggal Asa (Hanya Istri Bayaran)
Eps 111


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kembali ke kantor Rey, Moza masih saja terdiam. Ia memikirkan tentang ucapan Via yang mengatakan bahwa sebenarnya Rey sudah mencintainya sejak dulu. Namun, mungkinkah itu? Karena rasanya itu tidaklah mungkin.


Moza tidak akan berharap banyak pada pria di sampingnya itu. Ia akan menjalani jalan yang Tuhan berikan padanya. Jika dirinya dan Rey memang berjodoh, biarlah berjalan sebagaimana mestinya. Namun jika tidak, ia akan menerimanya dengan lapang.


Ponsel Moza bergetar, pesan masuk kedalam ponselnya.


Moza menatap pesan dari seseorag yang selalu mengganggunya.


'Gadis, Kau sedang apa? Apa Kau sibuk? Apa Kau ada waktu nanti malam? Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan ke suatu tempat. Maukah? Pasti mau. Aku akan menjemputmu pukul tujuh malam' tulis pesan tersebut.


Moza tersenyum menggelengkan kepalanya. Sungguh pengganggu itu selalu bersikap seenaknya sendiri. Tapi itu begitu menghibur hatinya yang saat ini sedang tak baik-baik saja.


'Terserah' balas Moza. Lalu ia tersenyum kecil.


Rey yang melihat Moza tersenyum menatap layar ponselnya, merasa begitu penasaran dengan siapa Moza berbalas pesan. Ia menjadi kesal sendiri dengan keputusannya.


***


Bintang dan Via kini menuju ke rumah Mama Aya. Er sudah lebih dulu berada di sana. Mama Aya yang menjemputnya.


"Mommy... Daddy...," teriak Er kala Via dan Bintang memasuki rumah Mama Aya.


Mama segera menghampiri putra dan menantunya. Lalu Mama langsung menggandeng tangan Via dan membawanya duduk di sofa ruang tengah.


Sementara Bintang menggendong putranya.


"Sayang, malam ini Kau menginap di sini saja ya. Lagipula Bintang besok juga harus ke luar negeri, jadi sebaiknya selama Bintang di luar negeri, kamu dan Er menginap di sini saja." ucap Mama lembut. Via menatap ke arah suaminya yang menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Mam," ucap Via tersenyum lembut.


"Yasudah,kalau begitu kalian mandi dan istirahat. Kalian pasti lelah, biar Mama yang akan bermain dengan Er," ucap Mama kembali.


Bintang dan Via tersenyum mengangguk, lalu mereka segera ke kamar mereka.


***


Malam harinya...


"Sayang...." Via menatap wajah tampan suaminya yang kini masih tampak sedikit pucat. Tangannya mengulur menyentuh wajah rupawan suaminya. Bintang menggenggam tangan Via yang kini mengusap pipinya.


"Bisakah Kau tetap tinggal, Sayang?" tanya Via memohon. Bintang menyunggingkan senyumnya.


"Pekerjaan ini harus segera di selesaikan Sayang. Aku berjanji akan selalu menghubungimu nanti. Ini hanya tiga hari, dan Aku akan mempercepatnya Sayang," ucap Bintang lembut, ia segera membawa tubuh istrinya kedalam pelukannya.


"Tapi Kau harus berjanji padaku bahwa Kau akan selalu baik-baik saja," ucap Via membalas pelukan suaminya. Ia begitu khawatir dengan kondisi suaminya akhir-akhir ini. Apalagi mereka akan berjauhan untuk beberapa hari.


***

__ADS_1


"Aunty, malam ini Rich tidak bisa syuting. Tolong hubungi Pedro dan katakan kalau Aku sedang sakit cacar," ucap Richie santai. Tangannya sibuk menyisir rambutnya di depan cermin.


Rebecca tak habis pikir dengan keponakannya itu. Beberapa waktu lalu setelah Richie di beritakan memiliki seorang kekasih, keponakannya sering izin dari syutingnya. Yah, walaupun Richie sempat mengklarifikasi bahwa dirinya tidak ada hubungan dengan gadis yang sempat di kabarkan itu, tapi setelahnya Richie menjadi begitu aneh menurutnya.


Rebecca menyipitkan matanya menatap keponakannya. "Richie, Kau tidak bisa selalu seperti ini. Aunty tidak bisa terus-terusan beralasan. Kau berangkat malam ini, atau kalau tidak pamor mu akan turun. Kau mau itu?" ucap Rebecca kesal. Ia sudah menjadi manager Richie sejak keponakannya pertama kali menjalani syuting. Dan ia tidak ingin Richie tergeser oleh aktor lainnya nanti.


Richie menatap kearah auntynya. "Aunty, please, ini masalah masa depan Rich. Apa aunty mau jika keponakan mu ini menjadi perjaka tua," ucap Richie cengengesan.


"Sok-sokan mengatakan perjaka tua, padahal memiliki banyak wanita," cibir Rebecca.


"Hahaha, aunty jangan berkata seperti itu. Para wanita lah yang mengejar Richie. Dan mulai sekarang Richie yang akan mengejar mereka," ucap Richie menaikturunkan alisnya.


Rebecca menatap keponakannya jengah. "Apakah gadis yang waktu itu lagi?"


"Aunty kepo," ucap Richie tertawa, lalu ia melangkahkan kakinya. "Richie pergi dulu. Dah aunty...," Richie mencubit pipi Rebecca dan langsung melarikan diri.


"Ish... Keponakan gak ada akhlak...." teriak Rebecca kesal. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menyuruh seseorang untuk mengikuti keponakannya itu.


Ia ingin tahu seperti apa gadis yang keponakannya itu ingin temui. Ia tidak ingin gadis itu menjadi pengaruh buruk untuk Richie.


***


Seseorang menekan bel pintu apartemen Moza berkali-kali. Membuat Moza begitu geram dan langsung membukanya.


"Siapa Anda?" tanya Moza mengerutkan keningnya. Ia memperhatikan penampilan seseorang di depannya. Pria berkacamata dan terdapat tompel di pipinya.


Moza menggeleng.


Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada siapapun di sana. Lalu ia segera melepaskan kacamata dan tompel di pipinya. Ia mengembangkan senyumnya menatap Moza.


"Kau...?"


"Ya,ini Aku. Bukankah Aku sudah mengatakan bahwa Aku akan menjemputmu malam ini? Apa Kau lupa?"


Pria berkacamata tebal dan memakai tompel itu ternyata adalah Richie. Moza hampir tak mengenalinya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Richie, Moza malah terbahak melihat penampilan Richie saat ini.


"Kenapa Kau tertawa huh? Kau mau mengatai penampilan ku?" ucap Richie kesal.


"Hei, santai bung. Apa salah jika Aku tertawa? Tapi benar yang Kau ucapkan, Karena Aku memang menertawakan penampilanmu," ucap Moza dan kemudian meneruskan tawanya.


"Aku berpenampilan seperti ini juga karena untuk mu. Ayo berangkat." ajak Richie.


"Eit... Aku belum mengatakan bahwa Aku mau pergi denganmu."


"Aku tidak menerima penolakan. Hari ini adalah hari yang paling tepat untuk ku mengajak mu. Ayolah Za, apakah Kau tega padaku yang melakukan penampilan seperti ini hanya karena untuk menemui mu Za?"


Moza nampak berpikir. Rey sudah melepaskan hubungan antara dirinya. Bukankah tidak apa-apa jika ia menerima ajakan Richie?

__ADS_1


Moza menyunggingkan senyum. Rey telah melepaskan hubungannya. Dan kini Moza ingin bebas dan berbuat sesukanya. Toh jika ia melakukan hal ini, tidak akan ada yang melarangnya kan?


"Baiklah," ucap Moza menyutujui.


"Hahh..." Richie hampir tak percaya.


"Iya, Aku mau pergi denganmu. Tapi jika Kau mengajakku ke hal yang aneh-aneh, Aku akan membunuhmu!" ancam Moza.


"Yes... akhirnya. Aku tidak akan membawamu ke tempat yang aneh-aneh, Aku berjanji."


"Yasudah, kalau begitu Ayo," ajak Moza. Richie tersenyum dan mengangguk.


***


"Oke, kita sudah sampai," ucap Richie.


Moza menatap ke arah jendela mobil. Ia mengeratkan keningnya dan kembali menatap wajah Richie.


"Mall?"


"Iya." ucap Richie, lalu ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Moza.


"Aku sudah menyewa mall ini untuk kita malam ini," ucap Richie tersenyum.


"Memangnya apa bagusnya mall? Kupikir Kau akan mengajak ku ke tempat apa," ucap Moza. Dengan malas Moza mengikuti Richie. Namun Richie tersenyum melihat wajah Moza yang nampak di tekuk.


Hingga mereka pun sampai di sebuah tempat permainan yang ada di dalam mall tersebut.


"Kita sudah sampai, ayo," Richie menggandeng tangan Moza dan membawanya ke permainan yang ada di depannya.


Awalnya Moza merasa begitu malas. Namun lama-lama ia mulai menikmati permainan yang ia mainkan.


"Lihatlah, Aku akan mengalahkanmu," ucap Richie.


"Dalam mimpimu, Aku yang akan mengalahkan mu...," Sahut Moza. Saat ini mereka memainkan permainan Maximum Tune.


Dan akhirnya Moza lah yang memenangkannya. Moza bersorak dan tertawa dengan bangganya. Ia mengacungkan jempolnya ke arah Richie dan menurunkan jempolnya.


"Kau bukan tandingan ku Rich," ucap Moza kembali tertawa senang.


Richie merasa begitu senang melihat Moza yang tertawa lepas. Melihat tawa Moza membuat jantungnya berdegup dengan kencang.


Lalu mereka kembali memainkan permainan Dance Revolution. Permainan yang membuat mereka menggerakkan badan dan pikiran itu membuat Richie berkali-kali menginjak tanda yang salah. Tapi ia begitu menikmati permainan seru ini. Ia dapat melihat wajah tertawa Moza.


Dan satu kata yang Richie ucapkan dalam hatinya yaitu 'Cantik'


***

__ADS_1


Next nanti sore....


__ADS_2